kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.869   86,00   0,48%
  • IDX 6.238   -127,61   -2,00%
  • KOMPAS100 818   -17,61   -2,11%
  • LQ45 622   -11,93   -1,88%
  • ISSI 216   -5,04   -2,28%
  • IDX30 350   -6,19   -1,74%
  • IDXHIDIV20 427   -6,79   -1,57%
  • IDX80 93   -1,95   -2,04%
  • IDXV30 118   -1,89   -1,58%
  • IDXQ30 111   -1,69   -1,50%

Trump Minta Iran Bayar Kompensasi Perang, Selat Hormuz Makin Sulit Dibuka


Selasa, 11 Agustus 2026 / 14:39 WIB
Trump Minta Iran Bayar Kompensasi Perang, Selat Hormuz Makin Sulit Dibuka
ILUSTRASI. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merespons tuntutan Iran terkait kesepakatan perdamaian dengan mengajukan syarat baru. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merespons tuntutan Iran terkait kesepakatan perdamaian dengan mengajukan syarat baru. Trump meminta Iran membayar kompensasi atas korban tewas akibat perang, serangan, dan aksi demonstrasi.

Tuntutan baru tersebut berpotensi semakin memperumit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Trump menyampaikan tuntutan tersebut pada Senin (10/8/2026), sebagai respons terhadap persyaratan yang diajukan Teheran, termasuk pembayaran kompensasi dan penghentian sanksi. Tuntutan Iran tersebut pada dasarnya sejalan dengan ketentuan dalam rancangan awal kesepakatan perdamaian yang ditandatangani pada Juni, tetapi kemudian gagal dilanjutkan.

Sejak perang dimulai pada Februari, Trump berulang kali berganti sikap antara mengancam eskalasi konflik dan menyatakan bahwa kesepakatan perdamaian sudah semakin dekat.

"Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang telah mereka lakukan selama periode 50 tahun," kata Trump di Gedung Putih.

Ia mengatakan pembayaran tersebut akan mencakup kompensasi atas kematian warga sipil yang melakukan demonstrasi maupun pasukan AS di kawasan tersebut.

Baca Juga: Tumpahan Minyak Rusia di Oman Meluas Hampir 400 Kilometer Persegi

"Jadi, jika ada kerusakan yang harus dibayar, saya pikir Iran harus membayar kerusakan tersebut," ujar Trump.

Harga Minyak Naik 5%

Pernyataan Trump langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Harga minyak ditutup naik sekitar 5% pada perdagangan Senin karena tuntutan tersebut dinilai memperkecil peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan energi global. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut.

Sejak perang dimulai, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz secara efektif terhambat. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.

Trump Kaitkan Iran dengan Sejumlah Korban

Trump juga menyinggung tindakan pemerintah Iran terhadap demonstrasi yang berlangsung pada akhir 2025 dan 2026. Ia mengatakan Iran telah menewaskan sekitar 52.000 demonstran hingga enam pekan sebelumnya.

Namun, angka tersebut berbeda dengan data yang dilaporkan kelompok pemantau hak asasi manusia. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS pada Februari memperkirakan sekitar 7.000 orang tewas, termasuk sekitar 6.500 demonstran.

Ketika perang dimulai dengan serangan udara AS dan Israel pada Februari, Trump sebelumnya mendorong para demonstran untuk menggulingkan pemerintah Iran. Sejumlah kelompok hak asasi manusia menyebut pemerintah Iran terus melakukan tindakan keras terhadap pihak-pihak yang menentangnya.

Trump juga mengatakan Iran harus memberikan kompensasi kepada keluarga 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan terhadap kapal perang USS Cole di Yaman pada Oktober 2000.

Serangan terhadap USS Cole tersebut diketahui dikaitkan dengan jaringan Al Qaeda, bukan Iran.

Baca Juga: AS Perkuat Rantai Pasok Manufaktur di Tengah Lonjakan Investasi Asing

"Dalam kaitannya dengan negosiasi dengan Iran, Iran juga harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!" tulis Trump melalui Truth Social.

Iran Negosiasi Pembukaan Selat Hormuz

Sebelumnya, Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz.

Namun, Teheran kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memenuhi sejumlah persyaratan sebelum jalur strategis tersebut dibuka kembali. Persyaratan itu antara lain pembayaran kompensasi, penghentian sanksi, serta penghentian ancaman militer.

Iran sebelumnya mengatakan pembicaraan dengan Oman berjalan positif. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Senin mengatakan pembahasan tersebut "berlangsung dengan lancar dan konstruktif".

Menurut Baghaei, kedua pihak telah mencapai kesepakatan mengenai peta jalur pelayaran, meskipun masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang perlu diselesaikan.

Pembahasan juga mencakup berbagai layanan yang biasanya membutuhkan pembayaran, termasuk keselamatan navigasi, perlindungan lingkungan, layanan maritim, serta pemberantasan kejahatan di laut.

Namun, pejabat AS berulang kali menolak kesepakatan yang memungkinkan Teheran mengenakan biaya kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Trump Berada di Bawah Tekanan

Kesepakatan dengan Oman secara ironis berpotensi memberikan Iran pengaruh lebih besar terhadap Selat Hormuz dibandingkan sebelum perang berlangsung.

Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri perang yang tidak populer di dalam negeri menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.

Baca Juga: Bank Sentral Australia Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 4,35%

Harga bahan bakar yang tinggi juga menjadi salah satu persoalan penting bagi masyarakat di wilayah pedesaan yang selama ini menjadi basis dukungan Trump.

"Yang Anda lihat di sini adalah awal dari sebuah kapitulasi," kata anggota DPR AS dari Partai Demokrat Bill Keating kepada CNN.

"Ini adalah kenyataan. Hal itu mulai disadari," tambahnya.

Iran dan AS sebelumnya menyepakati gencatan senjata pada Juni. Namun, AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran pada Juli. Teheran menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sekutu AS di kawasan tersebut. Iran juga menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin.

Kondisi tersebut membuat prospek pembukaan kembali Selat Hormuz masih menghadapi ketidakpastian. Jika kebuntuan antara Washington dan Teheran berlanjut, gangguan terhadap jalur perdagangan energi global berpotensi berlangsung lebih lama dan kembali memberikan tekanan terhadap harga minyak serta inflasi global.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×