kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.535   35,00   0,20%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Inflasi Korsel Dekati Level Tertinggi 2 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat


Rabu, 06 Mei 2026 / 09:03 WIB
Inflasi Korsel Dekati Level Tertinggi 2 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat
ILUSTRASI. Bendera Korea Selatan (Carlos Barria/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Inflasi Korea Selatan meningkat pada April ke laju tercepat dalam hampir dua tahun terakhir, dipicu lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah.

Kondisi ini memperbesar peluang bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Melansir Reuters Rabu (6/5/2026), data pemerintah menunjukkan indeks harga konsumen naik 2,6% secara tahunan (year-on-year) pada April, lebih tinggi dibandingkan 2,2% pada Maret dan menjadi kenaikan tertinggi sejak Juli 2024. Angka tersebut juga sejalan dengan ekspektasi pasar.

Baca Juga: Rekor! Samsung Jadi Perusahaan Asia Kedua dengan Kapitalisasi Pasar US$ 1 Triliun

Secara bulanan, inflasi tercatat naik 0,5% setelah sebelumnya meningkat 0,3%. Kenaikan ini didorong lonjakan harga produk minyak bumi sebesar 7,9% serta tarif penerbangan internasional yang melonjak 13,5%, menurut Kementerian Data dan Statistik.

“Selama harga minyak masih tinggi, kenaikan harga bensin relatif tertahan oleh kebijakan pembatasan harga BBM nasional. Ini membantu meredakan tekanan inflasi,” ujar ekonom Hana Securities, Chun Kyu-yeon.

Namun demikian, ia memperingatkan tren kenaikan inflasi masih berlanjut, terutama dari sektor jasa yang berpotensi terdorong oleh kenaikan biaya transportasi udara.

Seiring meningkatnya tekanan inflasi, imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan tenor tiga tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter naik hingga 6 basis poin ke level 3,675%, tertinggi sejak November 2023.

Baca Juga: Bursa Asia Cetak Rekor Rabu (6/5), Euforia AI dan Harapan Damai Iran Angkat Sentimen

Bank of Korea menyatakan, inflasi kemungkinan akan lebih tinggi pada Mei dan menegaskan akan terus memantau perkembangan, terutama di tengah ketidakpastian akibat situasi Timur Tengah.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengindikasikan adanya kemajuan menuju kesepakatan dengan Iran, yang sempat menekan harga minyak global.

Meski demikian, analis menilai fokus bank sentral mulai bergeser dari kekhawatiran pertumbuhan menuju pengendalian inflasi.

“Komentar terbaru wakil gubernur menunjukkan perubahan arah kebijakan yang lebih fokus pada inflasi,” ujar ekonom Daishin Securities, Kong Dong-rak.

Wakil Gubernur Bank of Korea Ryoo Sang-dai pekan ini menyatakan sudah waktunya mempertimbangkan kenaikan suku bunga, mengingat tekanan inflasi masih tinggi meski telah ada kebijakan pembatasan harga BBM.

Baca Juga: Donald Trump Hentikan Sementara Pengawalan Kapal di Selat Hormuz, Ada Apa?

Analis memperkirakan bank sentral bisa memberi sinyal perubahan kebijakan dalam waktu dekat dan berpotensi mulai menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya di Juli.

Bank of Korea sendiri telah mempertahankan suku bunga acuan di level 2,50% sejak Mei 2025, setelah sebelumnya memangkas suku bunga sebanyak empat kali masing-masing 25 basis poin sejak Oktober 2024.

Adapun kenaikan suku bunga terakhir dilakukan pada Januari 2023 ke level 3,50%, yang merupakan tertinggi sejak November 2008, dalam siklus pengetatan agresif akibat dampak perang Rusia-Ukraina.

Pertemuan kebijakan moneter Bank of Korea berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 28 Mei 2026.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×