Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Korea Selatan atau Bank of Korea (BOK) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada level 2,50% dalam rapat kebijakan moneter, Kamis (28/5/2026).
Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat perang Iran serta pelemahan mata uang won, meskipun pertumbuhan ekonomi Korea Selatan menunjukkan penguatan.
Baca Juga: Pejabat The Fed Wanti-wanti Risiko Inflasi dari Konflik Timur Tengah
Keputusan mempertahankan suku bunga itu sejalan dengan ekspektasi mayoritas ekonom. Dari 32 ekonom yang disurvei Reuters, sebanyak 30 memperkirakan BOK akan menahan suku bunga, sementara dua lainnya memprediksi kenaikan suku bunga.
BOK juga merevisi naik proyeksi inflasi tahun ini menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,2%, dengan mempertimbangkan dampak kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Selain itu, bank sentral turut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan tahun 2026 menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,0%.
Revisi ini didorong ekspansi ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 1,7%, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam hampir enam tahun terakhir.
Baca Juga: Trump Tak Peduli Pemilu Sela AS, Yakin Bisa Tekan Iran Lebih Lama
Keputusan menahan suku bunga mencerminkan pendekatan hati-hati Gubernur baru BOK, Shin Hyun Song, yang tengah mengukur dampak konflik Iran terhadap ekonomi domestik.
Ekonom Meritz Securities Stephen Lee memperkirakan, BOK masih berpotensi menaikkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
“Kami memperkirakan BOK akan menaikkan suku bunga menjadi 2,75% pada pertemuan Juli, lalu kembali menaikkan suku bunga pada Oktober hingga mencapai 3,00% pada akhir tahun,” ujarnya.
Menurut Lee, kenaikan inflasi, ekspektasi inflasi yang meningkat, serta lonjakan harga properti menjadi faktor utama yang dapat mendorong pengetatan kebijakan moneter.
Inflasi Korea Selatan saat ini telah melampaui target bank sentral sebesar 2%. Pada April 2026, inflasi tercatat mencapai 2,6%, menjadi kenaikan tercepat dalam hampir dua tahun terakhir.
Baca Juga: AS Dikabarkan Menyerang Situs Militer Iran, Prospek Kesepakatan Damai Memudar?
Tekanan inflasi juga diperparah oleh pelemahan won yang telah turun sekitar 4,5% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut meningkatkan biaya impor, terutama untuk energi, mengingat Korea Selatan sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Di sisi lain, permintaan global terhadap semikonduktor terus menopang kinerja ekspor Korea Selatan.
Lonjakan sektor chip bahkan membantu indeks saham KOSPI hampir dua kali lipat sepanjang tahun ini serta memberikan dampak positif bagi sektor manufaktur domestik.
Pelaku pasar kini mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Sekitar dua pertiga ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan BOK akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali sebelum akhir September 2026.













