Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak naik dan imbal hasil obligasi menguat pada awal perdagangan Asia, Selasa (18/8/2026), setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir.
Iran menyatakan akan mengubah postur militernya menjadi "sepenuhnya ofensif", meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Selasa (18/8) Pagi, Brent ke US$91,14 dan WTI ke US$85,04
Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi tersebut membatasi penguatan pasar saham Asia yang sebelumnya terdorong sentimen positif dari sejumlah bursa regional.
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,8%. Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak lebih dari 3% setelah kembali diperdagangkan usai libur.
Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 0,3%, sementara kontrak berjangka E-mini S&P 500 bergerak datar.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 0,8 basis poin menjadi 4,728%. Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun juga meningkat 0,6 basis poin menjadi 5,3146%, level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
"Biasanya, kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun di atas 4,65% diikuti pernyataan yang menenangkan dari pemerintahan Trump, biasanya terkait penyelesaian perang dengan Iran yang segera tercapai," tulis analis ING dalam risetnya.
"Kali ini, kita tidak mendengar hal yang sama. Bahkan, indikasi terbaru menunjukkan tidak ada penyelesaian dalam waktu dekat karena gencatan senjata 60 hari yang rapuh telah berakhir," lanjut mereka.
Tekanan di pasar obligasi global juga semakin dalam. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 2,5 basis poin menjadi 2,945%, level tertinggi dalam tiga dekade.
Baca Juga: Perusahaan Kripto Trump Gandeng Platform AI yang Gunakan Teknologi China
Wall Street Melemah
Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,5% pada perdagangan Senin. Nasdaq Composite juga melemah 0,3%.
Penurunan tersebut terjadi setelah data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan, termasuk penurunan tak terduga dalam penjualan ritel, membuat pasar memangkas ekspektasi terhadap langkah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
"Pasar secara umum mengambil sikap risk-off setelah Presiden Trump menegaskan kembali bahwa ia tidak tertarik memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperumit sentimen pasar," kata analis Westpac dalam sebuah catatan riset.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, berada di sekitar level terendah dalam dua bulan, yakni 99,527.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Tiga Sesi Beruntun Selasa (18/8), Pasar Tunggu Risalah The Fed
Harga Minyak dan Emas Menguat
Harga minyak melonjak lebih dari US$2 per barel pada Senin setelah kebuntuan dalam hubungan AS-Iran kembali mengarahkan perhatian pelaku pasar terhadap risiko pasokan minyak global.
Saat perdagangan Asia kembali dibuka, harga minyak mentah Brent naik 0,2% menjadi US$91,06 per barel.
Harga emas juga melanjutkan penguatan. Emas spot naik 0,1% menjadi US$4.420,07 per ons troi dan mencatat kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut.
Sementara itu, pasar aset kripto bergerak terbatas. Bitcoin naik 0,1% menjadi US$64.398,48, sedangkan ether menguat 0,3% menjadi US$1.911,40.
Baca Juga: Iran Ancam Serangan Baru, AS Tegaskan Tak Perpanjang Gencatan Senjata












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
