Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak mentah Brent kembali menguat lebih dari 2% pada perdagangan Senin (28/9/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran yang bertujuan mengakhiri konflik kedua negara sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka Brent naik US$2,60 atau 2,49% menjadi US$106,92 per barel pada pukul 08.03 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat US$2,08 atau 2,25% menjadi US$94,49 per barel.
Ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh penolakan Trump terhadap proposal perdamaian Iran.
"Harga minyak tampaknya melonjak setelah Presiden Trump menolak proposal perdamaian Iran," kata Hussain.
Baca Juga: Northern Star Tolak Tawaran Akuisisi Gold Fields Senilai US$27,1 miliar
Iran menyampaikan proposal perdamaian tersebut pada pekan lalu dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Iran menyatakan proposal itu telah disampaikan kepada pihak AS melalui mediator dari Qatar.
Trump pada Sabtu mengatakan telah menolak proposal tersebut. Namun, dalam wawancara melalui telepon dengan Axios pada Minggu, Trump mengatakan bahwa negosiator AS diperkirakan akan kembali terlibat dalam pembicaraan dengan Iran pada pekan ini.
Pasokan Minyak Masih Defisit
Hussain menilai peningkatan aliran minyak melalui Selat Hormuz memang mulai mengurangi tekanan kenaikan harga. Namun, kondisi fundamental pasar minyak global masih menunjukkan adanya defisit pasokan.
"Meski peningkatan arus minyak melalui Selat Hormuz meredakan sebagian tekanan kenaikan harga, gambaran yang lebih besar adalah pasar minyak masih berada dalam kondisi defisit," ujar Hussain.
Di sisi lain, koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman pada Sabtu pagi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua drone yang diluncurkan kelompok Houthi yang didukung Iran menuju wilayah Arab Saudi.
Sementara itu, ekspor minyak mentah dari sejumlah produsen utama di Timur Tengah kembali meningkat pada September. Berdasarkan data awal Kpler pada Senin, ekspor mencapai 12,8 juta barel per hari (bph), atau menjadi level tertinggi sejak perang dimulai pada Februari.
Kenaikan ekspor tersebut terutama didorong oleh peningkatan pengiriman dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Pemulihan juga terjadi pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Data Kpler menunjukkan volume pengiriman melalui jalur strategis tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta bph pada September.
Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspornya dari pelabuhan Laut Merah Yanbu menuju pelabuhan Ras Tanura di bagian timur setelah serangan menyebabkan kerusakan pada jaringan pipa East-West.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Melemah: Hentikan Kenaikan 5 Sesi, Pasar Menanti Kinerja Micron
Harga Diesel Jadi Perhatian Pasar
Harga minyak Brent hanya naik sekitar 0,4% sepanjang pekan lalu. Sebaliknya, harga WTI turun lebih dari 7% akibat kekhawatiran bahwa pemerintah AS dapat melarang ekspor diesel untuk menekan harga yang telah mencapai rekor tertinggi.
Potensi pembatasan ekspor diesel AS juga menjadi perhatian pasar energi global karena dapat mengurangi pasokan produk olahan minyak ke sejumlah wilayah.
Premi harga gasoil rendah sulfur Eropa terhadap kontrak berjangka minyak Brent bahkan mencapai rekor sekitar US$95 per barel pada pekan lalu. Kondisi tersebut terjadi setelah Trump menyatakan mendukung gagasan pelarangan ekspor diesel AS untuk menekan harga yang melonjak akibat kekurangan pasokan global.
Goldman Sachs menilai Eropa dan Amerika Latin, khususnya Brasil dan Meksiko, merupakan tujuan utama ekspor diesel AS. Apabila terjadi gangguan pasokan akibat pembatasan ekspor diesel AS, dampaknya diperkirakan dapat dengan cepat menyebar ke wilayah lain, termasuk Asia.
Bank tersebut memperkirakan Amerika Latin dan Eropa akan meningkatkan pembelian sisa pasokan diesel dari negara-negara lain, termasuk India, sehingga memperketat pasar global.
"Kami memperkirakan setiap satu pekan larangan ekspor diesel AS akan menaikkan harga grosir diesel Eropa (gasoil ARA) sebesar US$3 per barel, atau sedikit di bawah 2%," kata Goldman Sachs.














