kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Harga Minyak Brent Naik US$ 1, Pasar Cemas Perang Iran Belum Berakhir


Sabtu, 08 Agustus 2026 / 05:49 WIB
Harga Minyak Brent Naik US$ 1, Pasar Cemas Perang Iran Belum Berakhir
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah Brent naik lebih dari US$ 1 per barel pada Jumat (7/8/2026), di tengah ketidakpastian mengenai negosiasi yang berkaitan dengan pengendalian dan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent ditutup naik US$ 1,06 atau 1,3% menjadi US$ 83,55 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 89 sen atau 1,15% menjadi US$ 78,18 per barel.

Baca Juga: Harga Emas Melonjak ke Level Tertinggi 7 Pekan, Data Jobs AS Jadi Pendorong

Kenaikan harga minyak terjadi setelah harga kedua acuan tersebut melonjak lebih dari US$ 3 per barel pada perdagangan Kamis.

Penguatan dipicu kabar Iran tengah mengkaji rancangan undang-undang untuk melarang kapal berbendera Amerika Serikat (AS) dan Israel melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi yang sangat penting. Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur tersebut.

Harga minyak sebelumnya sempat turun pada awal pekan ketika peluang penyelesaian konflik Iran-AS terlihat semakin besar.

Namun, perkembangan tersebut kembali berubah-ubah sehingga menciptakan volatilitas tinggi di pasar minyak.

Meski harga minyak naik pada akhir pekan, Brent masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan lebih dari 8%. Sementara itu, WTI berpotensi mencatat penurunan lebih dari 7% sepanjang pekan ini.

"Pergerakan sentimen pasar seperti roller coaster terjadi karena sinyal mengenai potensi kesepakatan pada pekan ini. Namun, pasar masih belum mengetahui apa yang sebenarnya harus terjadi agar kesepakatan tersebut dapat tercapai," ujar Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights.

Baca Juga: Daftar Harga iPhone 17 Pro di Berbagai Negara, Turki Paling Mahal

Ketidakpastian Selat Hormuz

Iran dan Oman dilaporkan telah menyepakati rute yang akan digunakan kapal-kapal untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, belum jelas apakah AS akan menerima ketentuan tersebut.

Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, mengatakan pasar masih mempertanyakan apakah kesepakatan Iran-Oman memungkinkan kapal berbendera AS untuk melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Kisah Si Pendiam yang Jadi Pelaku Penembakan Massal di Sekolah Thailand

"Pasar sedang mencoba menilai apakah kesepakatan Iran-Oman akan memungkinkan kapal berbendera AS untuk melintasi Selat Hormuz. Apakah kapal milik AS dapat melintas? Apakah kapal yang menuju pelabuhan AS juga dapat melintas?" ujar Lipow.

Perkembangan pada pekan ini juga menunjukkan bahwa permusuhan antara Iran dan AS belum sepenuhnya berakhir.

Iran disebut meminta biaya antara 5% hingga 7% dari nilai kargo kepada kapal yang menggunakan Selat Hormuz.

Oman sementara itu tengah membahas biaya sekitar 3%, sedangkan Washington menginginkan tidak ada biaya sama sekali.

Seorang analis mengatakan semakin lama gangguan pasokan berlangsung, semakin besar pula cadangan komersial dunia yang terkuras.

Empat sumber dari industri menyebut kesepakatan yang diusulkan sulit diterapkan karena adanya sanksi AS serta ketentuan asuransi yang membatasi pembayaran.

Bjarne Schieldrop dari SEB Research menilai, struktur kesepakatan Iran-Oman saat ini memberikan terlalu banyak kewenangan kepada Iran sehingga sulit diterima secara politik oleh Presiden AS Donald Trump.

"Struktur kesepakatan Iran-Oman dalam bentuknya saat ini dan kewenangan yang diberikan kepada Iran bukanlah sesuatu yang dapat diterima Trump secara politik. Trump akan menghadapi kritik politik yang berat di dalam negeri jika menerimanya," ujar Schieldrop.

Baca Juga: Kanada Terdesak Tarif Trump 50%, Siapkan Sejumlah Konsesi untuk AS

John Kilduff, Partner di Again Capital, menegaskan pembukaan penuh Selat Hormuz menjadi faktor penting bagi pasar energi global.

"Kita membutuhkan selat tersebut untuk dibuka sepenuhnya," ujar Kilduff.

Menurutnya, ketidakpastian mengenai hasil perang dan waktu berakhirnya konflik membuat para pelaku pasar minyak tetap sangat cemas.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×