kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.020   39,00   0,22%
  • IDX 5.916   40,29   0,69%
  • KOMPAS100 770   5,43   0,71%
  • LQ45 584   2,70   0,46%
  • ISSI 205   1,22   0,60%
  • IDX30 331   1,85   0,56%
  • IDXHIDIV20 408   2,21   0,55%
  • IDX80 87   0,50   0,57%
  • IDXV30 110   0,09   0,09%
  • IDXQ30 107   0,43   0,40%

Harga Minyak Dunia Ditutup di Level Sebelum Perang Iran, Pasokan Global Kian Melimpah


Selasa, 07 Juli 2026 / 05:32 WIB
Harga Minyak Dunia Ditutup di Level Sebelum Perang Iran, Pasokan Global Kian Melimpah
ILUSTRASI. GLOBAL-OIL/EXPORTS (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin (6/7/2026), kembali ke level sebelum pecahnya perang Iran setelah pasokan global meningkat.

Penurunan dipicu oleh pemangkasan harga jual resmi minyak Arab Saudi, keputusan OPEC+ menaikkan target produksi mulai Agustus, serta pulihnya ekspor minyak melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Terkoreksi dari Puncak 2 Pekan, Penguatan Dolar AS Menekan

Mengutip Reuters, harga minyak Brent ditutup turun 13 sen atau 0,2% menjadi US$ 71,99 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 14 sen atau 0,2% ke US$ 68,55 per barel.

Kedua kontrak tersebut kini kembali diperdagangkan di kisaran harga sebelum perang Iran yang berlangsung selama empat bulan dan sempat memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah, menurut Badan Energi Internasional (IEA).

"Penurunan harga masih dipengaruhi oleh kapal tanker yang sebelumnya tertahan kini berhasil keluar dari Teluk, sehingga jumlah minyak yang berada di laut meningkat," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz, di tengah pulihnya ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Baca Juga: Inggris, Belanda, Finlandia, dan Polandia Kebut Skema Pendanaan Pertahanan Baru

Presiden AS Donald Trump pada Senin kembali menyatakan bahwa Washington akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "menyelesaikan masalah tersebut", mengulang ancaman aksi militer terhadap Teheran.

Pernyataan itu muncul setelah perundingan tidak langsung AS-Iran pekan lalu berakhir tanpa kemajuan berarti menuju kesepakatan damai permanen.

Di sisi pasokan, produksi minyak Uni Emirat Arab (UEA) naik mendekati rekor tertinggi di atas 3,8 juta barel per hari pada Juni setelah negara tersebut keluar dari OPEC untuk terbebas dari pembatasan produksi.

Sementara itu, Arab Saudi memangkas harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak Arab Light untuk pengiriman Agustus ke pasar Asia menjadi US$ 1,50 per barel di bawah rata-rata harga Oman/Dubai. Ini merupakan pemangkasan bulanan terbesar sejak Reuters mulai mencatat data tersebut pada 2003.

Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Hantam Kilang Minyak Terbesar Rusia

Selain itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) juga dilaporkan menjual minyak mentah melalui tender dengan harga diskon.

"Semakin terlihat bahwa produsen minyak di kawasan Teluk sedang bersiap menghadapi perang harga," ujar Direktur Energy Futures Mizuho, Robert Yawger.

Pada Minggu (5/7), OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus, setelah sebelumnya menaikkan target produksi dalam jumlah yang sama pada Juni dan Juli.

Meski demikian, peningkatan produksi tersebut belum sepenuhnya terealisasi karena perang Iran sempat menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz bagi kapal tanker dari Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Baca Juga: Trump Luncurkan 'Trump Accounts', Bayi AS Dapat Modal Investasi US$1.000

Analis PVM Tamas Varga menilai produsen minyak kini harus menjual di tengah tren harga yang terus melemah.

"Mereka menjual di pasar yang sedang turun sehingga peluang pemulihan harga dalam waktu dekat sangat kecil. Namun, harga minyak yang lebih rendah pada akhirnya akan mendorong permintaan," ujarnya.

Di luar Timur Tengah, Ukraina mengklaim telah menyerang kilang minyak terbesar Rusia di Omsk serta fasilitas energi di wilayah Yaroslavl dan Leningrad.

Sementara itu, Departemen Energi AS melaporkan cadangan minyak pada Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun 6,2 juta barel menjadi 319,5 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli, level terendah sejak April 1983.

Baca Juga: Intervensi Trump, UEFA Kecam FIFA yang Tangguhkan Larangan Bermain Folarin Balogun

Di sektor pelayaran, perusahaan Maersk dan Hapag-Lloyd mengumumkan akan kembali mengoperasikan sebagian rute melalui Terusan Suez.

Jalur tersebut sebelumnya banyak ditinggalkan akibat serangan kelompok Houthi di Laut Merah selama konflik Gaza.

Kembalinya pelayaran melalui Terusan Suez diperkirakan dapat memangkas waktu perjalanan rute Asia-Eropa hingga sekitar empat minggu.




TERBARU

[X]
×