kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Dolar AS Tertekan, Yen Menguat Jelang Pertemuan The Fed di Jackson Hole


Senin, 17 Agustus 2026 / 16:44 WIB
Dolar AS Tertekan, Yen Menguat Jelang Pertemuan The Fed di Jackson Hole
ILUSTRASI. Yen masih bertahan di bawah level terlemah dalam empat dekade yang dicapai pada akhir Juli. Saat itu, otoritas Jepang dan AS melakukan intervensi (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada Senin (17/8/2026), seiring investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tengah serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan.

Pelemahan dolar membuat euro menguat ke level tertinggi dalam dua bulan. Di sisi lain, yen Jepang kembali mendapatkan momentum setelah sebelumnya tertekan hingga mendekati level terendah dalam empat dekade.

Mengutip Reuters, yen menguat 0,2% menjadi sekitar 159,04 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi meskipun data menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jepang pada periode April-Juni lebih lemah dari perkiraan.

Yen masih bertahan di bawah level terlemah dalam empat dekade yang dicapai pada akhir Juli. Saat itu, otoritas Jepang dan AS melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam pelemahan mata uang Jepang.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama turun ke level terendah sejak awal Juni. Euro menyentuh level tertinggi dalam dua bulan di sekitar US$ 1,1614 dan terakhir tercatat menguat 0,3% pada perdagangan hari tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Bervariasi di Tengah Kebuntuan Perang Iran, Potensi Kenaikan Terbatas

Pasar Menanti Sinyal The Fed

Perubahan ekspektasi suku bunga tersebut terjadi ketika pasar bersiap menghadapi simposium Jackson Hole yang akan digelar Federal Reserve pada pekan depan.

Investor akan mencermati pernyataan para pembuat kebijakan untuk mengetahui bagaimana mereka menilai perkembangan terbaru ekonomi AS, terutama setelah sejumlah data menunjukkan pelemahan aktivitas ekonomi.

Upaya bersama AS dan Jepang untuk menahan pelemahan yen juga membuat kondisi pasar valuta asing semakin sensitif. Fokus investor kini bergeser pada kemungkinan Bank of Japan (BoJ) kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

"Intervensi mengubah jalurnya. Namun, intervensi tersebut tidak menghilangkan insentif suku bunga yang mendukung carry trade," ujar Matthew Tuttle, CEO Tuttle Capital Management.

Carry trade merupakan strategi dengan meminjam dana dalam mata uang yang memiliki suku bunga rendah, seperti yen, kemudian menginvestasikannya pada aset atau mata uang lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Pergerakan yen juga dipengaruhi oleh prospek suku bunga AS. Data pekan lalu menunjukkan penurunan tak terduga pada penjualan ritel AS serta inflasi yang relatif terkendali. Kondisi tersebut membuat pasar menilai kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut telah berkurang.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September hanya sebesar 30,8%, turun dari 52,2% sepekan sebelumnya.

Meski demikian, sejumlah ekonom masih melihat adanya risiko kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

"Masih terdapat cukup banyak kejanggalan dalam data untuk membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun," kata Thomas Simons, Kepala Ekonom AS Jefferies.

Baca Juga: Thailand Kerek Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Kisaran 2%-2,5%, Ini Alasannya

Arah Suku Bunga Masih Menjadi Teka-teki

Pasar valuta asing diperkirakan tetap sensitif terhadap rilis data ekonomi berikutnya, pernyataan pejabat The Fed dalam simposium Jackson Hole, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Minimnya panduan terbaru dari The Fed juga membuat investor harus menavigasi prospek suku bunga yang semakin sulit diprediksi.

"Tanyakan kepada 10 orang mengenai prospek suku bunga kebijakan The Fed, dan Anda mungkin akan mendapatkan 20 jawaban," tambah Simons.

Di pasar valuta asing lainnya, dolar AS melemah 0,11% terhadap yuan China menjadi 6,7372 yuan per dolar dalam perdagangan offshore. Level tersebut berada di sekitar posisi terlemah dolar terhadap yuan sejak 2023.

Data ekonomi China yang dirilis pada Senin juga menunjukkan pertumbuhan produksi industri melambat pada Juli. Sementara itu, penjualan ritel tumbuh lebih rendah dari perkiraan.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×