Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON, D.C. Federal Reserve Board menunjuk Jerome Powell sebagai ketua sementara (chair pro tempore) hingga Kevin Warsh resmi dilantik sebagai kepala bank sentral Amerika Serikat yang baru.
Keputusan ini diumumkan pada Jumat (15/5/2026), bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan delapan tahun Powell sebagai Ketua The Fed.
Warsh sendiri disebut akan segera diambil sumpah oleh Presiden AS Donald Trump, meski hingga kini belum ada tanggal resmi pelantikan yang diumumkan.
Namun, penunjukan Powell sebagai pejabat sementara ini tidak sepenuhnya mulus.
Baca Juga: Ini Warisan Jerome Powell Selama Menjabat Ketua The Fed
Dua anggota dewan The Fed, Stephen Miran dan Michelle Bowman, menyatakan penolakan karena keputusan tersebut tidak menetapkan batas waktu yang jelas untuk status sementara Powell.
Meski mundur dari kursi ketua, Powell masih akan tetap berada di dewan gubernur The Fed sampai ia menilai pemerintah telah menghentikan penyelidikan hukum terhadap dirinya.
Pergantian kepemimpinan ini terjadi di tengah tekanan besar pada pasar keuangan AS. Investor menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang terus menanjak, mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi, defisit, dan arah kebijakan moneter ke depan.
Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun yang sering menjadi acuan arah kebijakan suku bunga, naik lebih dari 0,5% poin sejak awal ketegangan geopolitik yang memicu kekhawatiran inflasi.
Baca Juga: Jerome Powell Janji Tetap di The Fed Sampai Penyelidikan Departemen Kehakiman Rampung
Sementara itu, yield obligasi 30 tahun menembus 5,1%, level yang tidak bertahan lama sejak sebelum krisis keuangan global 2007–2009.
Pasar juga mulai memperkirakan The Fed di bawah Warsh bisa mulai menaikkan suku bunga paling cepat pada Januari, seiring meningkatnya ekspektasi inflasi yang tercermin dari instrumen keuangan terkait inflasi.
Warsh dikenal sebagai figur yang mendorong agar The Fed mengurangi peran langsungnya di pasar keuangan dan kembali ke pendekatan kebijakan moneter yang lebih tradisional: fokus utama pada pengendalian inflasi, bukan intervensi pasar.
Namun, sejumlah analis menilai pendekatan tersebut tidak mudah diterapkan. Lonjakan utang pemerintah AS dan perubahan struktur pasar obligasi bisa membuat ruang gerak The Fed menjadi lebih sempit.
Profesor keuangan Hanno Lustig dari Stanford University menilai, kondisi pasar saat ini bisa membuat yield obligasi jangka panjang terus naik, yang pada akhirnya menekan dunia usaha, rumah tangga, hingga pemerintah AS sendiri.
Ia juga menyoroti bahwa pasar global mungkin sudah tidak lagi memberi “keistimewaan” (convenience yield) pada obligasi pemerintah AS seperti sebelumnya, yang selama ini membuat biaya pinjaman relatif lebih murah.
Dalam situasi seperti itu, menurutnya, The Fed akan berada di posisi sulit: antara membiarkan pasar menentukan harga secara penuh atau kembali masuk membeli obligasi untuk menjaga stabilitas.
Baca Juga: Gedung Putih Redam Isu Penyelidikan Ketua The Fed Jerome Powell
Warsh sejak lama dikenal kritis terhadap kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE), yakni pembelian obligasi besar-besaran oleh The Fed saat krisis.
Menurutnya, kebijakan tersebut terlalu sering dilakukan tanpa aturan yang jelas mengenai aset apa yang dibeli, dalam jumlah berapa, dan bagaimana strategi keluar dari kebijakan tersebut.
Saat ini, total aset The Fed masih berada di sekitar 6,7 triliun dolar AS, turun dari puncaknya sekitar 9 triliun dolar pada 2022, namun kembali meningkat secara bertahap untuk menjaga likuiditas sistem perbankan.
Di sisi lain, masih belum ada konsensus kuat di kalangan ekonom mengenai dampak jangka panjang QE terhadap ekonomi.
Transisi di Tengah Ketidakpastian
Di tengah pergantian kepemimpinan ini, The Fed tetap berada pada peran utamanya: menaikkan atau menurunkan suku bunga jangka pendek untuk mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan.
Namun dengan utang AS yang meningkat, imbal hasil obligasi yang naik, serta ekspektasi kebijakan yang berubah cepat, masa awal kepemimpinan Warsh diperkirakan tidak akan berjalan mulus.













