kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Kevin Warsh Jadi Bos Baru The Fed, Pasar Waspadai Suku Bunga


Jumat, 22 Mei 2026 / 17:27 WIB
Kevin Warsh Jadi Bos Baru The Fed, Pasar Waspadai Suku Bunga
ILUSTRASI. Pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berpotensi picu kenaikan suku bunga. (REUTERS/Elizabeth Frantz)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Kevin Warsh akan resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) pada Jumat (22/5/2026) waktu setempat, di tengah momen krusial bagi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan perekonomian global.

Warsh, yang dikenal sebagai sosok kritis terhadap arah kebijakan pejabat Federal Reserve saat ini, berhasil mengungguli kandidat lain berkat kedekatannya dengan Presiden AS Donald Trump serta pandangannya terkait suku bunga dan reformasi bank sentral.

Pelantikan Warsh berlangsung ketika ekonomi AS tengah menghadapi tantangan besar, mulai dari lonjakan inflasi, perang AS-Israel melawan Iran yang mendorong harga minyak menembus US$ 100 per barel, hingga dampak ekspansi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Para pejabat The Fed menilai perkembangan AI berpotensi mengubah struktur ekonomi secara signifikan bagi pekerja, perusahaan, dan konsumen. Namun, dampaknya dinilai sulit diukur secara real time.

Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Di sisi lain, inflasi AS masih berada di level tinggi dan berpotensi naik lebih lanjut akibat tarif impor tinggi, kenaikan biaya utilitas, serta biaya lain yang dipicu implementasi AI di berbagai sektor ekonomi.

Warsh, 56 tahun, mendapatkan dukungan Trump setelah melalui proses seleksi publik selama hampir satu tahun. Trump dijadwalkan melantik Warsh secara resmi di Gedung Putih pada pukul 11.00 waktu setempat.

Dilema Kebijakan Suku Bunga

Warsh sebelumnya mengusung agenda reformasi ambisius bagi The Fed. Ia menilai bank sentral AS mulai kehilangan arah sejak dirinya mundur dari posisi gubernur The Fed pada 2011 sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan pembelian obligasi.

Namun, tantangan terdekat yang akan dihadapi Warsh adalah menentukan arah suku bunga di tengah tekanan inflasi yang masih jauh di atas target 2% The Fed.

"Inflasi adalah pilihan The Fed," ujar Warsh dalam sidang konfirmasi Senat.

Ia menjelaskan, kontrol terhadap suku bunga jangka pendek merupakan instrumen utama The Fed untuk mendorong atau menahan belanja masyarakat demi menjaga inflasi di target 2%.

Saat ini, inflasi AS telah berada lebih dari satu poin persentase di atas target dan gagal mencapai sasaran selama lebih dari lima tahun terakhir.

Meski demikian, upaya menekan inflasi berpotensi berbenturan dengan agenda ekonomi pemerintahan Trump maupun target lain The Fed, yakni menjaga tingkat lapangan kerja maksimum.

Sejak awal menjabat sebagai ketua The Fed ke-11, Warsh diperkirakan akan menghadapi tekanan dari berbagai arah. Mulai dari pasar obligasi global yang mulai mendorong kenaikan imbal hasil akibat kekhawatiran inflasi, pejabat The Fed yang mulai membuka peluang kenaikan suku bunga, hingga Trump sendiri yang selama ini keras mengkritik kebijakan suku bunga tinggi.

Trump sebelumnya menyebut Ketua The Fed sebelumnya, Jerome Powell, sebagai sosok yang "terlambat" menurunkan suku bunga di tengah kenaikan tarif dan biaya energi yang membuat inflasi tetap tinggi tahun ini.

Sorotan pada Independensi The Fed

Pernyataan dan langkah Warsh terkait berbagai polemik di The Fed juga akan menjadi perhatian pasar, termasuk sikapnya terhadap independensi bank sentral AS.

Hal ini terkait kasus yang sedang bergulir di Mahkamah Agung AS mengenai upaya Trump memecat Gubernur The Fed Lisa Cook, yang sejauh ini belum berhasil.

Di saat bersamaan, Gubernur The Fed Christopher Waller, yang juga sempat diwawancarai untuk posisi ketua The Fed, diperkirakan akan menyampaikan pandangan kebijakannya pada hari pelantikan Warsh.

Baca Juga: Trump Ganti Powell! Kevin Warsh Bakal Resmi Nahkodai Federal Reserve AS Jumat (22/5)

Waller, yang selama ini dikenal cukup dovish, belakangan mulai lebih berhati-hati terhadap peluang penurunan suku bunga karena meningkatnya kekhawatiran inflasi.

Perubahan sikap Waller tersebut dinilai dapat memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed kemungkinan perlu menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, atau minimal mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Fokus Pasar pada Proyeksi Suku Bunga

Pertemuan kebijakan The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni mendatang. Dalam pertemuan tersebut, para pejabat akan menentukan arah suku bunga sekaligus memperbarui proyeksi ekonomi.

Salah satu keputusan penting pertama Warsh adalah apakah ia akan menyampaikan proyeksi pribadi terkait posisi suku bunga hingga akhir tahun melalui skema "dot plot".

Langkah tersebut akan menjadi indikator apakah pandangan Warsh sejalan dengan pejabat The Fed lain yang selama ini ia kritik karena dianggap terjebak dalam "pemikiran kelompok", atau justru menjadi pandangan berbeda yang berpotensi memicu kebingungan pasar.

Kebijakan moneter The Fed memiliki pengaruh besar terhadap berbagai suku bunga yang sensitif bagi masyarakat, termasuk kredit perumahan dan pinjaman konsumen.

Di sisi lain, masyarakat AS kini menghadapi tekanan biaya hidup tinggi, termasuk harga bensin yang mencapai US$ 4,50 per galon.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa janji Trump untuk "mulai hari pertama, kita akan mengakhiri inflasi dan membuat Amerika kembali terjangkau" kini menjadi tantangan besar yang berada di tangan Kevin Warsh.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×