Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Inflasi sektor jasa Jepang meningkat pada Agustus 2026 dan mencatat laju tahunan tercepat dalam lebih dari dua tahun.
Perkembangan ini memperkuat tekanan bagi Bank of Japan (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga.
Melansir Reuters, Data BOJ yang dirilis Senin (28/9/2026) menunjukkan, indeks harga produsen jasa atau Services Producer Price Index (SPPI) naik 3,7% pada Agustus dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih, Arab Saudi Genjot Pengiriman
Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 3,6% pada Juli. Laju inflasi jasa pada Agustus juga menjadi yang tercepat sejak Juni 2024.
Kenaikan harga jasa dipengaruhi oleh meningkatnya biaya angkutan, iklan, serta biaya sewa. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi mulai meluas di berbagai sektor jasa di Jepang.
Data SPPI menjadi salah satu indikator yang diperhatikan BOJ untuk melihat sejauh mana perusahaan meneruskan kenaikan biaya tenaga kerja kepada harga jasa.
Suku bunga BOJ jadi sorotan
Peningkatan tekanan inflasi jasa berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kelanjutan pengetatan kebijakan moneter Jepang.
BOJ telah menaikkan suku bunga pada bulan ini menjadi 1,25%, level tertinggi dalam 31 tahun.
Gubernur BOJ juga memberikan sinyal bahwa bank sentral masih terbuka untuk menaikkan biaya pinjaman lebih lanjut.
Langkah tersebut ditujukan untuk mencegah inflasi bergerak terlalu jauh di atas target BOJ.
Baca Juga: Mahkamah Konstitusi Thailand Putuskan Legalitas Pemilu 2026 Hari Ini
Perkembangan inflasi sektor jasa menjadi perhatian karena menunjukkan tekanan harga tidak hanya berasal dari barang, tetapi juga mulai tercermin dalam biaya layanan antarbisnis.
Jika kenaikan biaya tenaga kerja terus diteruskan ke harga jasa, tekanan inflasi domestik Jepang berpotensi bertahan lebih lama dan menjadi pertimbangan BOJ dalam menentukan arah suku bunga selanjutnya.
Data tersebut juga memberikan gambaran mengenai perkembangan inflasi yang berasal dari sisi domestik, terutama melalui biaya jasa dan tenaga kerja, yang menjadi bagian penting dalam penilaian BOJ terhadap keberlanjutan tekanan harga.














