kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 17.130   36,00   0,21%
  • IDX 7.458   150,35   2,06%
  • KOMPAS100 1.030   20,14   2,00%
  • LQ45 746   11,80   1,61%
  • ISSI 269   4,85   1,84%
  • IDX30 399   6,09   1,55%
  • IDXHIDIV20 488   8,06   1,68%
  • IDX80 115   1,92   1,69%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   1,94   1,53%

Inflasi Grosir Jepang Melonjak pada Maret 2026, BOJ Waspadai Risiko Stagflasi


Jumat, 10 April 2026 / 09:29 WIB
Inflasi Grosir Jepang Melonjak pada Maret 2026, BOJ Waspadai Risiko Stagflasi
ILUSTRASI. Yen Jepang (REUTERS/Florence Lo)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Tekanan inflasi di Jepang semakin meningkat setelah harga grosir melonjak pada Maret 2026. Kondisi ini mendorong Bank of Japan (BOJ) untuk mewaspadai risiko stagflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Wakil Gubernur BOJ Ryozo Himino menyatakan, bank sentral akan mengambil kebijakan moneter yang paling tepat guna mencapai target inflasi 2%, dengan mempertimbangkan dampak guncangan ekonomi serta kondisi global.

Baca Juga: Harga Pabrik China Berbalik Naik pada Maret, Dampak Perang Iran Picu Tekanan Inflasi

Melansir Reuters, data BOJ menunjukkan indeks harga barang korporasi (Corporate Goods Price Index/CGPI) yang mencerminkan harga antar pelaku usaha naik 2,6% secara tahunan pada Maret, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,4%.

Angka ini juga meningkat dari 2,1% pada Februari.

Kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan biaya bahan baku seperti logam dan bahan kimia, yang kemudian diteruskan perusahaan ke harga mesin dan produk makanan.

Secara bulanan, CGPI naik 0,8% setelah sebelumnya hanya meningkat 0,1% pada Februari, dipicu kenaikan harga bensin, produk kimia, dan logam.

Selain itu, harga impor berbasis yen melonjak 7,9% secara tahunan, menunjukkan tekanan inflasi dari luar negeri semakin kuat.

Baca Juga: Bursa Korsel Naik Jumat (10/4), Berpeluang Catat Kinerja Mingguan Terbaik Sejak 2008

Pasar keuangan merespons data ini dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 5 tahun bahkan menyentuh rekor tertinggi, seiring pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 60% bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan 27-28 April.

Tekanan inflasi ini tidak lepas dari dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz.

Penutupan jalur tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS terhadap yen.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut. Di satu sisi, inflasi meningkat, namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi berisiko melambat.

Baca Juga: Jepang Akan Lepas Cadangan Minyak Tambahan 20 Hari Mulai Mei

Meski demikian, Himino menegaskan Jepang belum berada dalam kondisi stagflasi, dengan inflasi masih bergerak di sekitar target 2% dan ekonomi tumbuh di atas potensi.

“Namun jika konflik Timur Tengah berlanjut dan menekan pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi, ini akan menjadi dilema besar bagi kebijakan moneter,” ujarnya.

Sebagai tambahan, kepercayaan konsumen Jepang pada Maret tercatat turun tajam, penurunan terdalam sejak pandemi COVID-19 pada 2020 akibat lonjakan biaya energi yang membebani ekonomi domestik.

Situasi ini mempertegas tantangan yang dihadapi Jepang dalam menyeimbangkan stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×