Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan udara selama dua hari berturut-turut.
Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata rapuh yang tercapai pada April lalu berada di ambang kegagalan.
Baca Juga: Bank DBS Singapura Akan Menawarkan Emas Fisik yang Ditokenisasi ke Pelanggan Ritel
Melansir Reuters, Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan melanjutkan serangan besar-besaran terhadap Iran apabila Teheran tidak segera menyetujui kesepakatan damai dengan Washington.
Konflik terbaru bermula setelah sebuah helikopter serang Apache milik AS ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz awal pekan ini. Insiden tersebut memicu rangkaian serangan balasan antara kedua negara, termasuk serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Militer AS menyatakan serangan terbaru mereka menargetkan fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, dan lokasi pertahanan udara di berbagai wilayah Iran.
Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas apa yang disebut sebagai "agresi berkelanjutan" dari Teheran.
Baca Juga: Rupiah dan Won Pimpin Pelemahan Mata Uang Asia Sepanjang 2026
Trump mengatakan, serangan AS akan segera dihentikan, namun ia memperingatkan bahwa pemboman akan kembali dilanjutkan jika Iran tidak segera menandatangani perjanjian dengan AS.
Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak hampir US$ 3 per barel setelah pernyataan Trump, sebelum melanjutkan kenaikan pada perdagangan Asia, Kamis (11/6/2026).
Di pihak lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan balasan terhadap 18 target militer AS di Kuwait dan Bahrain, termasuk pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di Bahrain.
Iran juga mengaku kembali menyerang Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania untuk malam kedua berturut-turut dengan menembakkan 12 rudal balistik ke arah fasilitas militer AS tersebut.
Baca Juga: Dolar AS Goyah di Tengah Serangan Baru ke Iran dan Ketidakpastian Suku Bunga The Fed
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya sedang menghadapi sejumlah sasaran udara yang masuk.
Sementara itu, Bahrain mengklaim berhasil mencegat dan menghancurkan serangan udara Iran yang mengarah ke wilayahnya.
Selain itu, Iran memperingatkan akan menembaki kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama berbulan-bulan terakhir mengalami gangguan akibat konflik. Media Iran bahkan melaporkan adanya penembakan terhadap dua kapal AS.
Namun, Komando Pusat Militer AS membantah laporan tersebut dan menegaskan Selat Hormuz masih dapat dilalui kapal-kapal komersial meski berada di bawah ancaman Iran.
Di dalam negeri Iran, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di beberapa kota, termasuk Bandar Abbas, Minab, Sirik, Kargan, Karaj, dan Varamin.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Sentuh Level Terendah 6 Bulan Kamis (11/6), Tertekan Konflik AS-Iran
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, operasi militer tersebut bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Iran agar bersedia mencapai kesepakatan damai.
"Jika kami harus bernegosiasi dengan bom, maka kami akan bernegosiasi dengan bom," kata Hegseth.
Konflik yang telah memasuki bulan keempat ini terus mengganggu pasokan energi global. Perang tersebut disebut telah menghambat sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia, sehingga mendorong harga energi tetap tinggi.
Di saat yang sama, pertempuran juga masih berlangsung di Lebanon antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Serangan udara Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang pada Rabu (10/6), sementara Hizbullah mengklaim kembali menyerang pasukan Israel.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Iran, Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 2% Kamis (11/6)
Hingga kini, upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik masih menemui jalan buntu. Iran menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon, pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta pengakuan atas kontrolnya di Selat Hormuz.
Sementara itu, Trump bersikeras bahwa Iran harus menghentikan pembatasan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dan memberikan jaminan bahwa negara tersebut tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Iran terus membantah memiliki ambisi membangun senjata nuklir.













