kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Harga Minyak Naik, Negosiasi AS-Iran Buntu dan Selat Hormuz Jadi Sorotan


Selasa, 11 Agustus 2026 / 16:12 WIB
Harga Minyak Naik, Negosiasi AS-Iran Buntu dan Selat Hormuz Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Harga minyak dunia kembali menguat pada Selasa (11/8/2026), setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menemui jalan buntu.? (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia kembali menguat pada Selasa (11/8/2026), setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait kesepakatan damai serta pembukaan kembali Selat Hormuz menemui jalan buntu.

Kenaikan harga minyak juga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian terhadap prospek inflasi global yang turut membatasi pergerakan pasar saham dunia.

Harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 5% dalam dua hari terakhir dan terakhir berada di kisaran US$88 per barel. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 31 Juli 2026 dan hampir 25% lebih tinggi dibandingkan level terendah pada awal Juli yang merupakan posisi terendah dalam hampir empat bulan.

Presiden AS Donald Trump pada Senin (10/8/2026) merespons sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran terkait kesepakatan damai. Trump meminta Iran membayar kompensasi kepada pihak-pihak yang tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes.

Tuntutan tersebut berpotensi semakin mempersulit upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan kondisi saat ini menunjukkan adanya kebuntuan antara AS dan Iran karena masing-masing pihak masih menunggu lawannya mengambil langkah terlebih dahulu.

Baca Juga: Toyota Recall 508.354 Mobil di AS, Diantaranya Camry Hybrid

"Kita sekarang berada dalam semacam kebuntuan, jika Anda mau menyebutnya demikian, mengenai siapa yang akan berkedip lebih dulu," ujar Sycamore.

Menurut dia, situasi tersebut berpotensi berubah menjadi konflik yang menguras ketahanan masing-masing pihak.

"Ini akan menjadi semacam perang ketahanan sekarang. Anda mungkin bisa melihat pasar minyak berada di kisaran US$75 hingga US$95 sambil kita menunggu untuk melihat siapa yang akan berkedip lebih dulu," katanya.

Data Inflasi AS Jadi Perhatian Pasar

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan inflasi konsumen Amerika Serikat untuk Juli yang akan dirilis pada Rabu (12/8/2026).

Meskipun data tersebut belum akan mencerminkan kenaikan terbaru biaya energi, laporan inflasi tersebut dinilai dapat menjadi faktor penting dalam membentuk ekspektasi pasar terhadap keputusan Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September mendatang.

Pasar uang saat ini menunjukkan peluang yang relatif seimbang atau sekitar 50:50 terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Kepala ekonom pasar Capital Economics Jonas Goltermann mengatakan risiko inflasi cenderung mengarah pada hasil yang lebih tinggi dari perkiraan.

"Kami menilai risiko cenderung mengarah pada hasil yang tinggi, yang kemungkinan akan mendorong kenaikan kembali ekspektasi suku bunga dan berpotensi memicu kekhawatiran baru mengenai stagflasi," kata Goltermann.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat dalam perdagangan Eropa, sejalan dengan aksi jual moderat di pasar obligasi global.

Imbal hasil US Treasury bertenor dua tahun naik 1 basis poin menjadi 4,253%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun meningkat 2 basis poin menjadi 4,72%.

Strategis Deutsche Bank Jim Reid menilai perkembangan terbaru telah mendorong ekspektasi kebijakan moneter ke arah yang lebih hawkish.

Baca Juga: Samsung SDI Ambil Alih Pabrik Baterai GM di AS

"Setelah pekan lalu ketika terasa bahwa kubu dovish kembali berada di atas angin, berita terbaru telah mendorong kondisi ke arah yang lebih hawkish, dengan imbal hasil dan harga komoditas sama-sama bergerak lebih tinggi," ujar Reid.

Pasar Saham Global Bergerak Terbatas

Di pasar saham, indeks STOXX 600 Eropa bergerak terbatas pada awal perdagangan, meskipun masih berada tidak jauh dari rekor tertinggi yang dicapai pekan lalu.

Indeks MSCI All-World turun tipis 0,1%. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq naik 0,1%, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 bergerak datar. Indeks acuan tersebut sebelumnya melemah pada perdagangan Senin.

Di sektor teknologi, Nvidia mengumumkan kerja sama dengan enam lembaga keuangan besar, termasuk BlackRock, Apollo, dan Goldman Sachs, untuk menciptakan sejumlah skema pendanaan bernilai lebih dari US$500 miliar bagi pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Namun, Nvidia belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai persyaratan pendanaan, komitmen investasi, maupun bagaimana rencana pendanaan US$500 miliar tersebut akan terintegrasi dengan kesepakatan pendanaan yang sudah ada.

Sycamore mempertanyakan besarnya nilai pendanaan tersebut dan potensi risikonya terhadap pasar.

"Sebagian kecil dari diri saya bertanya-tanya apakah seperti inilah rasanya ketika hipotek subprime pertama kali menjadi produk arus utama—sebuah inovasi yang pada akhirnya membantu memicu krisis keuangan global," kata Sycamore.

Kekhawatiran investor juga terlihat dari kembali meningkatnya aksi jual obligasi Nvidia.

Obligasi Nvidia dengan kupon 2% yang jatuh tempo pada 2032 terakhir memberikan imbal hasil 4,887% di platform Tradegate, naik hampir 7 basis poin dibandingkan posisi Senin.

Sementara itu, Intel berhasil menghimpun dana US$20 miliar melalui penjualan saham. Penawaran tersebut menjadi aksi penerbitan saham pertama perusahaan chip tersebut sejak melantai di bursa pada 1971.

Baca Juga: Tesla Akan Menarik Lebih dari 20.000 Kendaraan di AS Karena Masalah Lampu

Saham Intel di Eropa tercatat naik sekitar 1%.

Yen Kembali Tertekan

Di pasar valuta asing, yen Jepang kembali menjadi perhatian setelah melemah melewati level 159 per dolar AS.

Yen juga masih berada di bawah level tertinggi pekan lalu di 155,20 setelah muncul dugaan beberapa kali intervensi pasar, termasuk langkah bersama yang dilakukan Jepang dan Amerika Serikat.

Libur nasional di Jepang membuat aktivitas perdagangan lebih tipis dari biasanya. Kondisi tersebut kerap dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat memicu intervensi karena transaksi dengan volume lebih kecil dapat memberikan dampak lebih besar terhadap pergerakan harga dibandingkan kondisi perdagangan normal.

Sementara itu, dolar Australia melemah 0,07% menjadi US$0,7049 setelah Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan pada 4,35% untuk pertemuan kedua berturut-turut.

Namun, RBA tetap membuka kemungkinan kembali menaikkan suku bunga apabila diperlukan untuk mengendalikan inflasi.

Di pasar komoditas lainnya, harga emas yang telah menguat sekitar 8% sepanjang bulan ini terkoreksi 0,6% menjadi US$4.365 per ons.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×