Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026), ditopang saham-saham teknologi seiring optimisme terhadap permintaan data dan kecerdasan buatan (AI) yang menopang prospek industri chip.
Di sisi lain, harga minyak mentah sedikit melemah karena ekspektasi pemulihan pasokan Arab Saudi mampu mengimbangi kekhawatiran pasar setelah kelompok Houthi menyerang Riyadh.
Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,3%. Indeks saham Korea Selatan yang didominasi perusahaan teknologi menguat 1,1%.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Turun ke US$103,06 Senin (21/9) Pagi, Pasokan Saudi Jadi Sorotan
Bursa Jepang libur dalam rangka Silver Week hingga Rabu. Kontrak berjangka Nikkei 225 naik 0,5%, sementara kontrak berjangka S&P 500 naik 0,3% dan Nasdaq bertambah 0,4%.
Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,2%, sedangkan kontrak berjangka FTSE relatif datar.
Kenaikan saham teknologi terjadi ketika permintaan terhadap infrastruktur AI terus menjadi perhatian investor. Kebutuhan data yang semakin besar dinilai mendukung prospek produsen chip dan perusahaan teknologi terkait.
Namun, pasar saham masih dibayangi kondisi pasar obligasi yang penuh tekanan. Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun melonjak 36 basis poin dalam dua pekan terakhir menjadi 4,7604%, level tertinggi sejak pertengahan 2024.
Baca Juga: Vietnam Resmi Masuk Indeks Emerging Market FTSE, Dana Asing US$6 Miliar Mengintai
Kenaikan imbal hasil terjadi setelah Federal Reserve memberikan sinyal hawkish dalam pertemuan kebijakan pekan lalu.
Berdasarkan harga kontrak berjangka, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 56% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.
Pasar juga masih memperkirakan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Analis Bank of America menilai, siklus pengetatan moneter biasanya dilakukan secara agresif pada tahap awal.
Bank tersebut mempertahankan proyeksi dua kali kenaikan suku bunga tambahan, yakni pada Oktober dan Desember.
"Tahap pengetatan biasanya dilakukan pada fase awal, dan The Fed hampir tidak pernah berhenti setelah hanya satu kali kenaikan," tulis analis BofA dalam catatan yang dikutip Reuters.
Baca Juga: Jim Ratcliffe Kembali Bikin Polemik, Suporter Muslim Man United: Dia Harus Pergi
BofA juga mencatat belanja konsumen nominal AS tumbuh 6,3% secara tahunan, berada di atas level 5% yang secara historis berkaitan dengan inflasi inti di atas target.
Kebijakan moneter ketat juga diperkirakan berlanjut di sejumlah bank sentral negara maju lainnya. Bank sentral Uni Eropa, Inggris, Jepang, Australia dan Selandia Baru diperkirakan masih berpotensi memperketat kebijakan hingga akhir tahun.
Di pasar valuta asing, yen berada di sekitar 157 per dolar AS. Aktivitas perdagangan relatif tipis karena pasar Jepang tutup. Investor juga mewaspadai potensi intervensi otoritas Jepang untuk menopang yen.
Sementara itu, euro berada di US$1,1477, relatif stabil setelah melemah hampir 1% pada pekan lalu akibat penguatan dolar AS.
Baca Juga: Suku Bunga Naik, Pejabat The Fed: Inflasi Masih Terlalu Tinggi di Semua Aspek Ekonomi
Harga minyak masih di atas US$100
Harga minyak mentah masih bertahan di atas US$100 per barel meskipun sedikit melemah. Harga Brent turun 0,2% menjadi US$103,68 per barel, sedangkan minyak mentah AS turun 0,3% menjadi US$100,02 per barel.
Pasar minyak masih dibayangi ketegangan geopolitik setelah Iran dan AS kembali saling melontarkan ancaman.
Serangan Houthi terhadap Riyadh juga menambah kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Namun, ekspektasi bahwa Arab Saudi dapat segera memulihkan sebagian aliran minyak melalui jaringan pipa East-West menahan kenaikan harga.
Baca Juga: Di Negara Ini, Warga Bisa Jual Wajah untuk Pengembang AI, Harga Jutaan Rupiah
Jaringan pipa tersebut mengalami kerusakan akibat serangan pada pekan lalu. Pemulihan aliran melalui jalur tersebut dinilai penting karena penutupan pipa telah mengubah kondisi pasokan minyak global.
Vivek Dhar, Head of Commodities di Commonwealth Bank of Australia (CBA) mengatakan, gangguan pada pipa East-West telah mempercepat potensi penurunan persediaan minyak dan produk olahan global.
"Kami kini memperkirakan pasar minyak memiliki waktu lima hingga 10 pekan sebelum persediaan minyak dan produk olahan global terkuras, dibandingkan estimasi sekitar 15 hingga 20 pekan hanya dua pekan lalu," ujar Dhar.
Menurut Dhar, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap Washington untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, setidaknya untuk memulihkan sebagian arus minyak melalui Selat Hormuz dan menjaga jalur pelayaran Bab el-Mandeb tetap terbuka.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Riyadh dengan Rudal dan Drone, Asap Membubung Dekat Bandara
Pasar juga mencermati agenda Presiden AS Donald Trump yang menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini. Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis.
Di pasar komoditas lainnya, harga emas turun 0,2% menjadi US$4.370 per ons troi. Kenaikan imbal hasil obligasi AS menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.














