Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Trump Media & Technology Group (DJT.O), perusahaan yang didirikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan dikenal melalui platform Truth Social, mencatatkan pelebaran kerugian pada kuartal II-2026.
Perusahaan tersebut membukukan rugi bersih sebesar US$ 238,1 juta pada kuartal II-2026, melonjak dibandingkan kerugian sekitar US$ 20 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Mengutip Reuters, Selasa (11/8/2026), pelebaran kerugian Trump Media terutama dipengaruhi oleh kerugian yang belum terealisasi (unrealized losses) dari aset kripto yang dimiliki perusahaan.
Aset digital, termasuk mata uang kripto, berada di bawah tekanan selama periode April-Juni 2026. Investor cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian mengenai arah suku bunga AS, ketegangan geopolitik, serta arus keluar yang terus berlangsung dari produk investasi berbasis kripto.
Tekanan tersebut turut memberikan dampak terhadap kinerja keuangan Trump Media pada kuartal kedua tahun ini.
Baca Juga: Marcos Jr Usulkan Anggaran Filipina US$118 Miliar untuk Tahun 2027
Trump Media Kejar Pendapatan dari Truth API
Di tengah tekanan terhadap kinerja keuangan, Trump Media berupaya menciptakan sumber pendapatan baru melalui Truth API.
Truth API merupakan layanan penyedia data berlisensi yang memungkinkan bank dan perusahaan perdagangan memperoleh akses terhadap unggahan dari akun-akun berpengaruh di Truth Social.
Trump Media menyebut layanan tersebut akan memberikan akses "tercepat" kepada pengguna terhadap unggahan dari akun berpengaruh di Truth Social, termasuk akun Presiden Donald Trump.
Unggahan Trump di media sosial selama ini kerap menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi sentimen investor dan pergerakan pasar global.
Reuters dan sejumlah media lain sebelumnya melaporkan bahwa Trump Media tengah mempertimbangkan tarif hingga US$ 100.000 per bulan untuk layanan Truth API.
Perusahaan mengatakan pada Senin (10/8/2026) bahwa mereka telah menandatangani lebih dari 10 perjanjian dengan pelanggan untuk layanan data tersebut. Truth API sendiri mulai diluncurkan pada 1 Agustus 2026 dan Trump Media menyatakan masih terus menambah mitra.
"Produk Truth API baru kami sudah mulai menghasilkan pendapatan, dengan lebih dari sepuluh perjanjian pelanggan yang telah ditandatangani hingga saat ini," kata CEO interim Trump Media, Kevin McGurn, dalam sebuah pernyataan.
Pendapatan Trump Media Masih Terbatas
Meski mulai mengembangkan sumber pendapatan baru, skala pendapatan Trump Media masih relatif kecil dibandingkan kerugian yang dibukukan perusahaan.
Trump Media mencatat pendapatan sebesar US$ 1,7 juta pada kuartal yang berakhir Juni 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pendapatan US$ 0,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Negosiasi AS-Iran Buntu dan Selat Hormuz Jadi Sorotan
Kinerja tersebut menunjukkan tantangan yang masih dihadapi Trump Media dalam mengembangkan model bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan di tengah ketergantungannya terhadap perkembangan aset digital dan bisnis Truth Social.
McGurn mengatakan perusahaan juga terus membuat kemajuan dalam rencana merger dengan pengembang energi fusi TAE Technologies.
Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi Trump Media untuk masuk ke sektor energi fusi yang dinilai memiliki prospek seiring meningkatnya kebutuhan listrik untuk pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Langkah tersebut sekaligus memperluas portofolio bisnis yang berkaitan dengan keluarga Trump, mulai dari aset kripto, properti, hingga layanan seluler.
Dengan rencana ekspansi tersebut, Trump Media menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa diversifikasi bisnis dapat menghasilkan sumber pendapatan baru sekaligus memperbaiki kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
