kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.689.000   -24.000   -0,88%
  • USD/IDR 18.005   46,00   0,26%
  • IDX 5.868   -34,44   -0,58%
  • KOMPAS100 776   -6,93   -0,89%
  • LQ45 587   -2,07   -0,35%
  • ISSI 201   -1,05   -0,52%
  • IDX30 335   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 416   2,40   0,58%
  • IDX80 88   -0,50   -0,57%
  • IDXV30 111   0,14   0,12%
  • IDXQ30 108   0,55   0,51%

Amerika Kini Jadi Eksportir Minyak Terbesar Dunia, Peta Energi Global Berubah


Kamis, 11 Juni 2026 / 12:41 WIB
Amerika Kini Jadi Eksportir Minyak Terbesar Dunia, Peta Energi Global Berubah
ILUSTRASI. Minyak AS (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) kini resmi mengukuhkan posisinya sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, menjungkirbalikkan tatanan yang selama puluhan tahun didominasi oleh Arab Saudi dan Rusia.

Pergeseran masif ini memperkuat cengkeraman perusahaan-perusahaan Amerika di pasar energi global, di saat konflik geopolitik yang melibatkan Washington merombak total peta perdagangan energi dunia.

Baca Juga: China Akhiri Patroli Penjaga Pantai, Taiwan: Kedaulatan Tidak Dapat Dilanggar

Melansir Reuters Kamis (11/6/2026), pencapaian ini menjadi titik balik historis yang luar biasa bagi Negeri Paman Sam.

Pada era 1970-an, AS sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah dan bahkan sempat lumpuh akibat embargo minyak yang dijatuhkan oleh sejumlah anggota OPEC pada 1973 sebagai aksi balasan atas dukungan AS terhadap Israel.

Revolusi Shale dan Berkah Konflik Geopolitik

Nasib industri energi AS mulai berubah drastis pasca-2010 seiring dengan melonjaknya produksi minyak dan gas dari formasi batuan serpih (shale gas/oil).

Inovasi teknologi ini pertama kali membawa AS menjadi produsen gas terbesar, sebelum akhirnya menjadi produsen minyak mentah teratas di dunia.

Baca Juga: Harga Emas Stabil di Atas US$ 4.000 Kamis (11/6), Fokus Beralih ke Data PPI AS

Kini, posisi AS sebagai eksportir nomor satu dunia kian tak tergoyahkan akibat gangguan yang dialami para pesaing utamanya:

  1. Arab Saudi: Ekspor minyaknya terganggu akibat konflik geopolitik yang memanas sejak awal tahun.
  2. Rusia: Jalur ekspor energinya terus ditekan oleh serangan drone Ukraina serta rentetan sanksi ekonomi dari blok Barat.

Menurut data dari layanan pelacakan kapal Vortexa, ekspor minyak mentah dan bahan bakar AS melonjak hingga 10,5 juta barel per hari (bph) pada Mei.

Angka ini menempatkan AS di posisi puncak eksportir global selama tiga bulan berturut-turut.

Negara Eksportir Volume Ekspor Berjalan (Mei) Volume Ekspor Tahunan (Tahun Lalu)
Amerika Serikat 10,5 juta bph 6,6 juta bph
Rusia 7,0 juta bph 5,8 juta bph
Arab Saudi 5,9 juta bph 8,1 juta bph

Baca Juga: Bursa Asia Berguguran Kamis (11/6), Ketegangan AS-Iran Katrol Harga Minyak

Senjata Geopolitik Baru Washington

Dominasi baru ini memberi Washington alat diplomasi yang sangat kuat di luar supremasi militer dan peran dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.

"Washington kini memiliki instrumen baru yang tidak mereka sadari sebelumnya yakni ekspor energi," kata Michelle Brouhard, kepala kebijakan di firma pelacakan kapal Kpler.

Kekuatan baru AS ini diprediksi akan mengikis kekuatan OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) dalam mendikte harga pasar.

Aliansi kartel minyak tersebut bahkan baru saja menerima pukulan telak setelah Uni Emirat Arab (UEA), salah satu produsen terbesarnya, memutuskan keluar dari keanggotaan OPEC setelah hampir 60 tahun bergabung.

Meski demikian, dominasi AS mulai memicu kekhawatiran baru di kalangan sekutunya.

Uni Eropa (UE) yang awalnya menyambut baik pasokan AS sebagai alternatif minyak Rusia kini mulai skeptis dan memperingatkan risiko ketergantungan yang terlalu besar pada korporasi Amerika.

Sentimen ini muncul di tengah ketegangan perdagangan terkait tarif ekspor dan regulasi industri hijau antara Brussels dan Washington.

Baca Juga: Bursa China dan Hong Kong Lesu Kamis (11/6), Waspadai Serangan Baru AS ke Iran

Mekanisme Pasar vs Kendali Negara

Berbeda dengan Arab Saudi dan Rusia, di mana pemerintah memegang kendali penuh atas target produksi dan ekspor, industri minyak AS digerakkan sepenuhnya oleh sektor swasta yang berorientasi pada profit.

Kenneth Medlock III, pengamat ekonomi energi dari Baker Institute for Public Policy, menjelaskan bahwa pasar minyak AS bekerja menggunakan prinsip penyeimbang otomatis (market mechanism):

Saat harga minyak tinggi, perusahaan swasta AS akan menggenjot produksi demi mengejar keuntungan, yang secara otomatis akan membantu meredam harga global.

Saat harga minyak lesu, mereka akan memangkas produksi secara mandiri guna menyeimbangkan margin, yang kemudian mendorong harga kembali naik.

Baca Juga: AS dan Iran Saling Serang Lagi, Ancaman Perang Timur Tengah Kian Membesar

"Dalam banyak hal, peran ini mirip dengan apa yang selama ini dilakukan Arab Saudi menggunakan kapasitas produksi cadangannya, tetapi ini murni mekanisme pasar, bukan instrumen strategis negara," jelas Medlock.

Kini, ketergantungan dunia pada energi AS terus meluas. Eropa menyerap sekitar 47% dari total ekspor minyak AS tahun ini, naik signifikan dari 37% pada periode sebelum konflik Ukraina.

Sementara itu, pasar Asia yang secara historis mengandalkan Timur Tengah juga mulai beralih, dengan porsi serapan mencapai 46% dari total ekspor minyak AS pada bulan Mei.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×