Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi membuat konsumen dan dunia usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih tinggi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Hal ini bisa terjadi bahkan jika konflik yang baru berlangsung sekitar sepekan tersebut segera berakhir.
Pasalnya, para pemasok energi global masih harus menghadapi kerusakan fasilitas energi, gangguan logistik, serta meningkatnya risiko pelayaran. Kondisi ini menghambat distribusi minyak dan gas ke pasar internasional.
Situasi tersebut juga menimbulkan ancaman bagi ekonomi global sekaligus risiko politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections). Para pemilih di AS dikenal sangat sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan cenderung tidak menyukai keterlibatan dalam konflik luar negeri.
Analis JPMorgan Chase dalam sebuah riset menyebutkan bahwa pasar kini tidak lagi hanya memperhitungkan risiko geopolitik, tetapi mulai menghadapi gangguan operasional yang nyata.
Baca Juga: Konflik AS–Iran Ganggu Pasokan Energi, Kuwait Deklarasikan Force Majeure
“Pasar beralih dari sekadar memperhitungkan risiko geopolitik menjadi menghadapi gangguan operasional yang nyata, karena penutupan kilang dan pembatasan ekspor mulai mengganggu proses pengolahan minyak mentah serta aliran pasokan regional,” tulis analis JPMorgan dalam catatan riset pada Jumat.
Pasokan Energi Global Terganggu
Konflik ini telah menyebabkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas global terganggu. Hal itu terjadi setelah Iran menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz—jalur pelayaran vital antara Iran dan Oman—serta menyerang infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak lebih dari 25% sejak awal perang, yang langsung mendorong kenaikan harga bahan bakar bagi konsumen global.
Penutupan hampir total Selat Hormuz memaksa produsen minyak besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait menghentikan pengiriman hingga 140 juta barel minyak ke kilang-kilang di seluruh dunia.
Volume tersebut setara dengan sekitar 1,4 hari permintaan minyak global.
Akibat tertahannya ekspor, fasilitas penyimpanan minyak dan gas di kawasan Teluk Persia cepat penuh. Hal ini memaksa sejumlah ladang minyak di Irak dan Kuwait mengurangi produksi, sementara Uni Emirat Arab diperkirakan akan mengambil langkah serupa.
“Pada titik tertentu, semua produksi juga akan dihentikan jika kapal tanker tidak datang,” kata seorang sumber dari perusahaan minyak milik negara di kawasan tersebut.
Baca Juga: 12 Tahun Tanpa Jawaban, Keluarga Korban MH370 Minta Pencarian Dilanjutkan
Pemulihan Produksi Bisa Memakan Waktu
Gangguan pengiriman membuat sejumlah ladang minyak di Timur Tengah terpaksa menghentikan operasi. Menurut Amir Zaman dari Rystad Energy, pemulihan produksi tidak akan berlangsung cepat.
Bahkan jika konflik berhenti, produksi minyak dapat membutuhkan hari, minggu, atau bahkan bulan untuk kembali ke tingkat normal, tergantung jenis ladang minyak, usia fasilitas, serta metode penghentian produksi yang dilakukan.
Di sisi lain, Iran juga menargetkan infrastruktur energi regional seperti kilang dan terminal ekspor minyak. Sejumlah fasilitas bahkan mengalami kerusakan serius dan membutuhkan perbaikan sebelum bisa kembali beroperasi.
Ekspor Gas Qatar Terhenti
Dampak konflik juga meluas ke pasar gas global. Qatar mengumumkan kondisi force majeure terhadap ekspor gas alamnya setelah serangan drone Iran.
Negara tersebut memasok sekitar 20% pasar LNG global, sehingga gangguan ini berpotensi mengguncang pasar energi dunia. Sumber Reuters menyebutkan Qatar membutuhkan setidaknya satu bulan untuk kembali ke tingkat produksi normal.
Sementara itu, fasilitas ekspor minyak raksasa Ras Tanura milik Saudi Aramco juga ditutup akibat serangan, meskipun belum ada rincian mengenai tingkat kerusakan fasilitas tersebut.
Pemerintah AS membenarkan serangan terhadap Iran dengan alasan negara itu menimbulkan ancaman yang segera terhadap Amerika Serikat. Presiden Trump juga menyatakan kekhawatiran terkait upaya Iran memperoleh senjata nuklir.
Ancaman Berkelanjutan di Selat Hormuz
Berakhirnya konflik dengan cepat memang bisa menenangkan pasar energi. Namun pemulihan pasokan ke tingkat sebelum perang kemungkinan tetap memakan waktu.
Baca Juga: Trump: Perang Iran Bisa Berakhir Jika Militer dan Pemimpin Teheran Hancur
Menurut analis energi Natixis CIB, Joel Hancock, sejauh ini kerusakan infrastruktur belum mencapai tingkat struktural yang permanen. Meski demikian, risiko akan tetap tinggi selama perang masih berlangsung.
Pertanyaan terbesar saat ini adalah kapan Selat Hormuz kembali aman untuk pelayaran internasional.
Trump telah menawarkan pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker minyak serta dukungan asuransi AS bagi kapal yang beroperasi di kawasan tersebut. Namun sumber militer menyebut Iran memiliki kemampuan untuk melanjutkan serangan drone terhadap kapal selama berbulan-bulan.
Konflik ini juga berpotensi mendorong negara-negara meningkatkan cadangan minyak strategis mereka setelah perang berakhir, yang pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan minyak dan menopang harga.
Dampak ke Ekonomi Global
Gangguan pasokan energi mulai merambat ke rantai pasok global, terutama di kawasan Asia yang mengimpor sekitar 60% minyaknya dari Timur Tengah.
Di India, kilang milik negara Mangalore Refinery and Petrochemicals Ltd menyatakan force majeure terhadap ekspor bensin karena kekurangan pasokan.
Sementara itu:
-
Beberapa kilang di China telah mengurangi produksi
-
China meminta kilang menghentikan ekspor bahan bakar
-
Thailand menghentikan ekspor bahan bakar
-
Vietnam menangguhkan pengiriman minyak mentah
Di sisi lain, situasi ini justru menguntungkan Rusia. Harga minyak Rusia naik setelah Washington memberikan pengecualian sementara selama 30 hari kepada kilang India untuk membeli minyak Rusia sebagai pengganti pasokan Timur Tengah.
Harga Energi Global Melonjak
Di Jepang—importir LNG terbesar kedua di dunia—harga kontrak listrik untuk Tokyo melonjak lebih dari sepertiga pekan ini.
Sementara di Seoul, pengendara mulai mengantre di SPBU karena khawatir harga bahan bakar akan meningkat.
Bagi konsumen di Eropa, krisis energi kali ini menjadi pukulan ganda. Kawasan tersebut sebelumnya sudah mengalami gangguan pasokan gas setelah sanksi terhadap energi Rusia pasca invasi ke Ukraina pada 2022.
Baca Juga: Arab Saudi Peringatkan Iran: Jika Serangan Berlanjut, Riyadh Siap Membalas
Untuk menggantikan gas pipa Rusia, Eropa kini sangat bergantung pada LNG dan membutuhkan sekitar 180 kargo LNG tambahan dibandingkan tahun lalu untuk mengisi penyimpanan sebelum musim dingin.
Risiko Politik bagi Trump
Risiko pasokan energi bagi Amerika Serikat relatif lebih kecil karena negara tersebut kini menjadi produsen minyak dan gas terbesar di dunia. Namun harga bahan bakar domestik tetap mengikuti pergerakan pasar global.
Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai US$3,32 per galon, naik 34 sen dibandingkan pekan sebelumnya. Harga diesel bahkan melonjak dari US$3,76 menjadi US$4,33 per galon.
Kenaikan harga bahan bakar menjadi risiko politik besar bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November.
“Harga bensin memiliki dampak psikologis yang sangat kuat,” ujar Mark Malek dari Siebert Financial.
“Ini adalah angka inflasi yang dilihat konsumen setiap hari,” tambahnya.













