Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan minyak nasional Kuwait, Kuwait Petroleum Corporation (KPC), mulai memangkas produksi minyak sejak Sabtu dan menyatakan kondisi force majeure. Langkah ini memperpanjang gangguan pasokan energi dari Timur Tengah setelah sebelumnya Irak dan Qatar juga mengurangi produksi minyak dan gas.
Pengurangan produksi tersebut terjadi di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memblokir pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah selama delapan hari berturut-turut.
Konflik tersebut berdampak langsung pada jalur pelayaran energi paling penting di dunia, yakni Selat Hormuz. Jalur strategis ini bertanggung jawab atas sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.
Para analis memperkirakan negara produsen besar lainnya seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi kemungkinan juga harus memangkas produksi dalam waktu dekat apabila kapasitas penyimpanan minyak mereka penuh akibat terhambatnya ekspor.
Baca Juga: 12 Tahun Tanpa Jawaban, Keluarga Korban MH370 Minta Pencarian Dilanjutkan
KPC Turunkan Produksi dan Kapasitas Kilang
Dalam pemberitahuan perdagangan yang dilihat Reuters, Kuwait Petroleum Corporation menyatakan telah mengurangi produksi minyak mentah dan tingkat pengolahan di kilang sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Perusahaan tidak merinci besaran penurunan produksi tersebut. Namun, pada Februari lalu Kuwait memproduksi sekitar 2,6 juta barel minyak per hari (bph).
KPC menyebut langkah ini bersifat pencegahan dan akan ditinjau kembali seiring perkembangan situasi keamanan di kawasan. Perusahaan juga menegaskan siap memulihkan tingkat produksi normal apabila kondisi memungkinkan.
Ancaman Iran dan Minimnya Kapal Pengangkut
Dalam pemberitahuan tersebut, KPC menyatakan deklarasi force majeure dilakukan karena adanya ancaman eksplisit dari Iran terhadap keselamatan pelayaran kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.
Selain itu, perusahaan juga menyoroti serangan yang masih berlangsung serta hampir tidak tersedianya kapal pengangkut minyak di kawasan Teluk Arab untuk mengirimkan minyak mentah maupun produk turunannya.
KPC menolak memberikan komentar lebih lanjut terkait pemberitahuan tersebut.
Dampak pada Pasokan Petrokimia dan Bahan Bakar Aviasi
Sebagai salah satu eksportir energi utama, Kuwait Petroleum Corporation merupakan pemasok besar naphtha ke pasar Asia serta pengekspor utama bahan bakar jet ke kawasan Eropa Barat Laut.
Baca Juga: Trump: Perang Iran Bisa Berakhir Jika Militer dan Pemimpin Teheran Hancur
Naphtha sendiri merupakan bahan baku penting dalam produksi petrokimia, sehingga gangguan ekspor berpotensi memengaruhi rantai pasok industri kimia global.
Konflik Meluas di Timur Tengah
Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang melibatkan dukungan dari Israel kini semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Teheran dilaporkan membalas serangan dengan menargetkan Israel serta negara-negara Arab Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat. Sementara itu, Israel juga melancarkan serangan baru di Lebanon setelah kelompok milisi yang didukung Iran, Hezbollah, menembakkan serangan lintas perbatasan.
Eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran pasar energi global karena berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia secara signifikan.













