Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BEIRUT/MIAMI/TEL AVIV/DUBAI. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya tidak tertarik untuk melakukan negosiasi dengan Iran dan membuka kemungkinan bahwa perang hanya akan berakhir jika Teheran tidak lagi memiliki militer yang berfungsi atau kepemimpinan yang tersisa.
Berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada Sabtu (8/3), Trump menyatakan kampanye serangan udara yang berlangsung dapat membuat negosiasi menjadi tidak relevan jika seluruh calon pemimpin Iran terbunuh dan militernya hancur.
“Pada titik tertentu, saya rasa mungkin tidak akan ada siapa pun yang tersisa untuk mengatakan ‘kami menyerah’,” ujar Trump.
Baca Juga: Trump Tak Mau Negosiasi, Isyaratkan Perang Iran Berakhir Tanpa Pemimpin
Pernyataan tersebut muncul saat konflik yang mengguncang Timur Tengah memasuki pekan kedua, memicu ketegangan geopolitik dan mengguncang pasar energi global.
Serangan Baru di Iran dan Kawasan Teluk
Israel melaporkan telah melancarkan serangan baru ke berbagai wilayah Iran pada Minggu. Pada saat yang sama, sebuah kebakaran besar melanda gedung kantor pemerintah di Kuwait setelah terkena serangan drone.
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menyebabkan kekacauan di kawasan Timur Tengah serta mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Trump sebelumnya membenarkan serangan terhadap Iran dengan alasan Teheran menimbulkan ancaman segera terhadap Amerika Serikat dan dinilai semakin dekat untuk mampu membuat senjata nuklir. Namun, Trump tidak memberikan bukti konkret atas klaim tersebut.
Laporan media Axios menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah membahas kemungkinan pengiriman pasukan khusus ke Iran pada tahap berikutnya dari perang untuk mengamankan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Teheran. Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga
Di tengah eskalasi konflik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan Iran terhadap fasilitas militer AS di wilayah mereka.
Baca Juga: China Minta Dialog dengan AS Jelang Pertemuan Xi Jinping–Donald Trump
“Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak oleh tindakan Iran,” kata Pezeshkian, sambil meminta mereka tidak bergabung dengan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Ia juga menolak tuntutan Trump agar Iran menyerah tanpa syarat, menyebutnya sebagai “sebuah mimpi”.
Namun Pezeshkian menyatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara Iran telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari wilayah negara tersebut.
Pernyataan itu memicu kontroversi di dalam negeri Iran. Kantor presiden kemudian menegaskan kembali bahwa militer Iran akan memberikan respons tegas terhadap serangan yang berasal dari pangkalan militer Amerika Serikat.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menyatakan tidak ada perpecahan di kalangan pejabat Iran terkait cara menghadapi perang tersebut.
Negara Teluk Waspada Serangan Iran
Arab Saudi dilaporkan telah memperingatkan Teheran bahwa serangan lanjutan terhadap kerajaan dan sektor energinya dapat memaksa Riyadh untuk melakukan pembalasan, menurut empat sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Pemerintah Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab melaporkan adanya serangan drone Iran pada Sabtu hingga Minggu dini hari dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.
Baca Juga: Nasib Trump di Ujung Tanduk: Konflik Iran Picu Kekacauan Timur Tengah
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran menargetkan pasukan Amerika Serikat di sebuah pangkalan militer di Bahrain.
Di Eropa, kedutaan besar Amerika Serikat di Oslo, Norwegia, dilaporkan mengalami ledakan pada Minggu pagi. Polisi Norwegia mengatakan ledakan tersebut hanya menyebabkan kerusakan ringan dan tidak menimbulkan korban luka. Penyebab ledakan masih diselidiki.
Pemerintah AS sementara menunda penerbitan buletin keamanan federal yang sebelumnya direncanakan memperingatkan ancaman meningkat terhadap Amerika Serikat terkait konflik Iran.
Namun, penilaian intelijen AS baru-baru ini menyebut Iran dan kelompok proksinya kemungkinan besar tetap menjadi ancaman serangan terarah terhadap kepentingan Amerika.
Israel Peringatkan Lebanon soal Hezbollah
Di Iran, media pemerintah melaporkan adanya ledakan besar di sejumlah wilayah Teheran. Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan lokasi rudal dan pusat komando militer Iran.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran serta melukai ribuan lainnya.
Sementara itu, serangan Iran telah menewaskan 10 orang di Israel dan sedikitnya enam anggota militer AS.
Jenazah para tentara Amerika tersebut tiba di pangkalan Angkatan Udara di Delaware pada Sabtu.
Di Iran, media lokal melaporkan beberapa depot bahan bakar milik Kementerian Perminyakan terkena serangan di tiga wilayah, termasuk Karaj di barat Teheran.
Iran merespons perang dengan menyerang Israel serta negara-negara Arab Teluk yang menjadi tuan rumah instalasi militer AS.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Memanas, Trump Sebut Perang Bisa Berakhir Tanpa Negosiasi
Israel juga melancarkan serangan baru ke Lebanon setelah milisi Hezbollah yang bersekutu dengan Iran menembakkan roket melintasi perbatasan.
Israel memperingatkan Lebanon akan menghadapi “harga yang sangat mahal” jika tidak menahan aktivitas Hezbollah.
Serangan udara Israel menghantam basis-basis kelompok tersebut dan diikuti operasi serangan udara mematikan di wilayah timur Lebanon.
Rekaman video Reuters menunjukkan sejumlah bangunan di pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hezbollah hancur menjadi puing-puing. Korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak awal pekan diperkirakan mencapai sekitar 300 orang.
Harga Minyak Melonjak, Produksi Energi Dipangkas
Strategi Iran yang dinilai menciptakan kekacauan maksimum telah meningkatkan biaya konflik dengan mendorong harga energi global serta mengganggu rantai logistik dan bisnis internasional.
Perusahaan minyak nasional Kuwait mulai memangkas produksi pada Sabtu. Langkah ini menambah pengurangan produksi minyak dan gas yang sebelumnya dilakukan oleh Irak dan Qatar.
Harga minyak dunia pun melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah konflik tersebut secara efektif menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, salah satu rute utama perdagangan energi global.













