Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut Iran menyerah tanpa syarat pada Jumat (6/3/2026), sebuah eskalasi dramatis dari tuntutannya setelah sepekan konflik yang dilancarkan bersama Israel terhadap Iran.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut melalui media sosial hanya beberapa jam setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah memulai upaya mediasi.
Ini menjadi salah satu sinyal awal adanya inisiatif diplomatik untuk mengakhiri konflik.
“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali MENYERAH TANPA SYARAT!” tulis Trump.
Baca Juga: Konflik Iran Hambat Penerbangan Timur Tengah, Evakuasi Warga Terjebak Ketidakpastian
Ia menambahkan bahwa setelah itu, dan setelah pemilihan pemimpin baru yang “hebat dan dapat diterima”, Amerika Serikat bersama para sekutu akan bekerja untuk membantu memulihkan Iran dari ambang kehancuran serta memperkuat ekonominya.
Sehari sebelumnya, dalam wawancara telepon dengan Reuters, Trump juga mengatakan bahwa ia menuntut hak untuk membantu memilih pemimpin tertinggi Iran yang baru, menggantikan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang tewas pada hari pertama perang.
Di sisi lain, Israel melancarkan serangan besar ke ibu kota Beirut, Lebanon, pada Jumat setelah memerintahkan evakuasi besar-besaran di seluruh wilayah pinggiran selatan kota tersebut. Serangan ini menandai perluasan konflik di kawasan.
Israel juga melancarkan gelombang serangan baru ke Iran. Militer Israel menyatakan sekitar 50 pesawat tempurnya menyerang sebuah bunker di bawah kompleks yang hancur di Tehran, yang disebut masih digunakan oleh kepemimpinan Iran setelah kematian Khamenei.
Sementara itu, Pezeshkian menulis di platform X bahwa beberapa negara telah memulai upaya mediasi, meski ia tidak menyebutkan negara mana yang terlibat.
Baca Juga: Lapangan Kerja AS Menurun di Februari 2026, Tingkat Pengangguran Naik ke 4,4%
“Perlu ditegaskan: kami berkomitmen pada perdamaian yang berkelanjutan di kawasan, tetapi kami tidak akan ragu mempertahankan martabat dan kedaulatan negara kami. Upaya mediasi harus diarahkan kepada pihak yang meremehkan rakyat Iran dan memicu konflik ini,” ujarnya.
Dalam sistem politik Iran, presiden berada di bawah otoritas pemimpin tertinggi. Namun saat ini Pezeshkian menjadi bagian dari panel yang untuk sementara mengambil alih sebagian tugas yang sebelumnya dijalankan Khamenei.













