Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - HONG KONG/DUBAI. Ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai mengganggu lalu lintas penerbangan global.
Sejumlah maskapai mulai membuka kembali sebagian penerbangan dari kawasan Teluk pada Jumat (6/3/2026), namun ancaman rudal dan drone masih membuat operasi penerbangan tidak stabil dan proses evakuasi warga berlangsung tersendat.
Maskapai-maskapai di Uni Emirat Arab seperti Emirates dan Etihad kembali mengoperasikan sejumlah rute internasional secara terbatas. Namun situasi keamanan yang belum menentu memaksa beberapa penerbangan lain mengubah rute bahkan membatalkan perjalanan.
Sebuah penerbangan Lufthansa yang menuju Riyadh, Arab Saudi, dialihkan ke Kairo karena kekhawatiran keselamatan.
Baca Juga: Lufthansa Alihkan Penerbangan Timur Tengah ke Asia Akibat Konflik
Sementara penerbangan repatriasi Air France yang berangkat dari Uni Emirat Arab terpaksa kembali setelah terjadi serangan rudal di kawasan tersebut.
Menteri Transportasi Prancis Philippe Tabarot menilai situasi ini menunjukkan betapa rumitnya operasi pemulangan warga dari kawasan konflik.
Ia menegaskan bahwa kondisi keamanan yang tidak stabil membuat proses evakuasi menjadi sangat kompleks. "Situasi ini mencerminkan ketidakstabilan di kawasan dan rumitnya operasi repatriasi," ujarnya.
Konflik yang memicu penutupan sebagian besar wilayah udara Timur Tengah juga membuat ribuan penumpang terjebak di berbagai bandara. Banyak maskapai membatalkan penerbangan, sementara pemerintah negara-negara terkait berupaya mengevakuasi warganya yang masih berada di kawasan tersebut.
Beberapa penumpang bahkan harus membayar biaya sangat mahal untuk keluar dari wilayah konflik. Mereka bergegas ke bandara, melakukan perjalanan darat ke hub penerbangan lain yang lebih aman, hingga memanfaatkan jet pribadi karena keterbatasan penerbangan komersial.
Baca Juga: Pasar Obligasi Global Tertekan Setelah Sepekan Konflik Timur Tengah
Sebagian penumpang menggambarkan situasi di bandara sebagai “kekacauan total” akibat perubahan jadwal yang terjadi mendadak.
Di tengah situasi tersebut, Inggris berhasil mendaratkan penerbangan repatriasi pertamanya dari Oman di Bandara Stansted, London, pada Jumat pagi setelah sempat mengalami penundaan.
Sejumlah negara lain di Eropa, termasuk Polandia dan Portugal, juga mengoperasikan atau menyiapkan penerbangan serupa untuk memulangkan warganya.
Gangguan di sektor penerbangan diperkirakan masih akan berlangsung selama konflik belum mereda. Otoritas keselamatan penerbangan Uni Eropa (EASA) bahkan memperpanjang peringatan risiko tinggi di kawasan tersebut hingga 11 Maret.
CEO Lufthansa Carsten Spohr mengatakan konflik tersebut kembali menunjukkan kerentanan industri penerbangan terhadap situasi geopolitik. "Perang di Timur Tengah sekali lagi membuktikan bahwa lalu lintas udara sangat terekspos dan tetap rentan," ujarnya.
Keterbatasan operasi di sejumlah hub utama Timur Tengah juga memukul keras rute perjalanan antara Eropa dan Asia-Pasifik.
Baca Juga: Hezbollah Minta Warga Israel di Dekat Perbatasan Mengungsi
Data Cirium menunjukkan bahwa Emirates, Qatar Airways, dan Etihad biasanya mengangkut sekitar sepertiga penumpang dari Eropa ke Asia serta lebih dari setengah penumpang dari Eropa menuju Australia, Selandia Baru, dan kawasan Pasifik.
Bandara Internasional Dubai (DXB), yang biasanya menjadi bandara internasional tersibuk di dunia, mulai menunjukkan peningkatan aktivitas pada Kamis. Namun volume penerbangan masih sekitar 25% dari kondisi normal, menurut data situs pelacak penerbangan Flightradar24.
Etihad menyatakan akan mengoperasikan jadwal penerbangan terbatas hingga 19 Maret dari Abu Dhabi ke sekitar 70 destinasi, termasuk London, Paris, Frankfurt, Delhi, New York, Toronto, dan Tel Aviv.
Sementara itu Emirates menjalankan jadwal penerbangan terbatas ke 82 kota tujuan seperti London, Sydney, Singapura, dan New York. Penumpang yang transit di Dubai hanya diizinkan melanjutkan perjalanan jika penerbangan lanjutan mereka tetap beroperasi.
Di sisi lain, pusat penerbangan Doha di Qatar masih ditutup, meskipun negara tersebut mengatur sejumlah penerbangan bantuan terbatas dari Oman dan Arab Saudi. Maskapai flydubai juga berencana kembali mengoperasikan penerbangan dari Uni Emirat Arab ke Israel mulai awal pekan depan.
Baca Juga: Harga Emas Naik Lagi di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Investor Berburu Aset Aman
Dampak konflik tidak hanya dirasakan pada operasional penerbangan, tetapi juga pada biaya bahan bakar.
Harga bahan bakar jet di Singapura melonjak hingga rekor sekitar US$ 225 per barel pekan ini karena kekhawatiran pasokan dari kilang Timur Tengah akan terganggu.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan maskapai penerbangan akan menghadapi tekanan ganda berupa penurunan pendapatan sekaligus kenaikan biaya bahan bakar.
Sebagian maskapai memang memiliki lindung nilai bahan bakar untuk beberapa bulan ke depan, namun Fitch mencatat sebagian besar maskapai di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika baru melindungi sekitar 50% hingga 80% kebutuhan bahan bakarnya untuk tiga bulan mendatang.













