Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar obligasi terbesar di dunia diperkirakan menutup pekan ini dengan kerugian besar, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa perang di Timur Tengah akan kembali mendorong inflasi dan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga lebih cepat.
Melansir Reuters Jumat (6/3/2026), Obligasi pemerintah tenor dua tahun yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga menjadi yang paling terpukul dalam gejolak pasar minggu ini.
Imbal hasil obligasi pemerintah dua tahun Inggris atau gilt melonjak hampir 40 basis poin sepanjang pekan ini, menandai kenaikan mingguan terbesar sejak Agustus 2024.
Baca Juga: Perang Iran Dorong Perusahaan Pertahanan Jerman Percepat Produksi Rudal
Pada Jumat, biaya pinjaman pemerintah Inggris mencapai level tertinggi sejak Oktober.
Di Eropa, imbal hasil obligasi dua tahun Jerman juga menyentuh level tertinggi dalam setahun dan berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak April 2023.
Para pelaku pasar kini meningkatkan taruhan bahwa European Central Bank (ECB) bisa mulai menaikkan suku bunga secepatnya pada Mei.
Lonjakan biaya energi dinilai berpotensi memperparah tekanan harga pada berbagai sektor, mulai dari pangan hingga perjalanan.
“Bagaimanapun konflik ini berakhir, situasi tersebut sudah menggugurkan asumsi kami sebelumnya bahwa harga energi akan tetap rendah dan stabil tahun ini,” kata Holger Schmieding, kepala ekonom di Berenberg.
Lonjakan harga energi menjadi salah satu pemicu utama perubahan sentimen pasar. Harga minyak Brent crude bahkan menuju kenaikan mingguan terbesar sejak Invasi Rusia ke Ukraina 2022, setelah melonjak sekitar 17% sepanjang pekan ini.
Baca Juga: Rusia Peringatkan Risiko Keamanan Jika Finlandia Tampung Senjata Nuklir NATO
Di pasar obligasi terbesar dunia, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau U.S. Treasuries tenor dua tahun melonjak sekitar 25 basis poin minggu ini, yang merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak gejolak tarif perdagangan pada April tahun lalu.
Pergerakan serupa juga terjadi secara global. Di Australia, biaya pinjaman pemerintah meningkat hampir 20 basis poin sepanjang pekan ini.
Kenaikan imbal hasil terjadi ketika harga obligasi turun, mencerminkan tekanan jual di pasar surat utang.
Pasar keuangan global saat ini masih sangat sensitif terhadap guncangan pasokan, terutama setelah krisis rantai pasok akibat pandemi COVID-19 pada 2020 serta lonjakan harga energi pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang mendorong bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga secara agresif.













