Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON. Maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa pada Jumat (6/3/2026) akan mengalihkan jatah penerbangan dari 10 tujuan yang dibatalkan di Timur Tengah ke rute-rute lain seperti Singapura dan Bangkok, menyusul gangguan akibat perang antara AS dan Israel melawan Iran.
Maskapai-maskapai Eropa, termasuk penerbangan murah Wizz Air, telah menyesuaikan kapasitas setelah menghentikan sementara layanan di wilayah Timur Tengah. Lufthansa menyebut langkah ini juga untuk memenuhi permintaan pada rute jarak jauh yang saat ini tidak bisa dilayani oleh maskapai Timur Tengah.
"Perang di Timur Tengah kembali membuktikan betapa rentannya lalu lintas udara terhadap gejolak geopolitik," ujar CEO Lufthansa, Carsten Spohr, dalam pernyataannya. Ia menambahkan, prospek ke depan masih tidak pasti, terutama terkait biaya bahan bakar jet.
Baca Juga: Imbas Mogok Kerja Pilot dan Pramugari, 800 Jadwal Penerbangan Lufthansa Dibatalkan
Pengumuman perubahan jadwal ini datang bersamaan dengan laporan kinerja Lufthansa yang melampaui ekspektasi untuk 2025. Manajemen keuangan yang lebih ketat dan pembaruan armada berhasil menekan biaya sekaligus meningkatkan laba.
Permintaan penerbangan ke dan dari Asia serta Afrika meningkat sejak konflik dimulai pada Sabtu lalu, dan Lufthansa berkomitmen memperluas layanan jarak jauh. Spohr menyebut penerbangan baru ke Asia akan diluncurkan dalam beberapa hari. Namun, Lufthansa belum merinci berapa banyak penerbangan yang dibatalkan akibat konflik ini.
Meskipun maskapai menghadapi biaya tambahan untuk penjadwalan ulang dan rute alternatif, dampak terbesar bagi yang berada di luar Timur Tengah diperkirakan datang dari lonjakan harga bahan bakar. Kontrak minyak Brent melonjak lebih dari 20% minggu ini.
Spohr menegaskan Lufthansa memiliki lindung nilai jangka pendek yang kuat, dengan 85% kebutuhan bahan bakar telah dihedge hingga 31 Desember 2025.
Maskapai Eropa, termasuk Lufthansa, menikmati sedikit penurunan biaya bahan bakar pada 2025. Tagihan bahan bakar Lufthansa turun 7%, mendukung laba karena permintaan penumpang tetap stabil.
"Tahun lalu, kami berhasil meningkatkan laba operasional Grup secara signifikan dan mencapai pendapatan tertinggi dalam sejarah kami. Hasil ini menunjukkan ketahanan dan stabilitas Grup," kata Spohr.
Lufthansa melaporkan laba operasional disesuaikan sebesar € 2 miliar lebih tinggi dari perkiraan € 1,9 miliar dan naik dari € 1,6 miliar pada 2024. Margin operasional juga meningkat menjadi 4,9% dibandingkan 4,4% setahun sebelumnya.
Baca Juga: Kerek Profitabilitas, Lufthansa Kurangi 4.000 Pekerja
Lufthansa menargetkan peningkatan margin operasional menjadi 8%-10% antara 2028-2030, dari 4,4% di 2024. Namun, aksi mogok pekerja, termasuk yang terbaru pada 12 Februari, membuat pencapaian ini lebih menantang.
Analis Bernstein, Alex Irving, mencatat kelemahan di segmen penerbangan penumpang masih ada, tetapi kinerja kuat di Cargo dan Lufthansa Technik membantu mendorong laba.
Untuk 2026, Lufthansa memperkirakan pertumbuhan kapasitas 4%, bersamaan dengan peningkatan pendapatan dan margin laba, meski prospek tetap tidak pasti akibat ketegangan geopolitik













