kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

China Minta Dialog dengan AS Jelang Pertemuan Xi Jinping–Donald Trump


Minggu, 08 Maret 2026 / 10:58 WIB
China Minta Dialog dengan AS Jelang Pertemuan Xi Jinping–Donald Trump


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China menegaskan pentingnya dialog dengan Amerika Serikat untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat berdampak buruk bagi dunia, menjelang rencana pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump pada akhir bulan ini.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan kegagalan kedua negara untuk terus berkomunikasi dapat memicu salah penilaian yang berpotensi mengarah pada konfrontasi.

“Jika kedua negara tidak berinteraksi, hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan salah perhitungan yang bisa meningkatkan ketegangan dan merugikan dunia,” kata Wang dalam konferensi pers di sela-sela sidang parlemen tahunan di Beijing.

Baca Juga: Arab Saudi Peringatkan Iran: Jika Serangan Berlanjut, Riyadh Siap Membalas

Wang menyebut agenda pertukaran tingkat tinggi antara kedua negara sudah dibahas, namun diperlukan persiapan matang dari kedua pihak agar perbedaan yang ada dapat dikelola dengan baik.

Pertemuan antara Xi dan Trump diperkirakan berlangsung pada akhir Maret, meski pemerintah China belum secara resmi mengumumkannya. Para analis menilai rencana pertemuan tersebut masih dipantau dengan cermat karena situasi geopolitik yang memanas, terutama akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi negara itu, Ali Khamenei, menurut laporan pemerintah Iran.

Selain itu, langkah Washington pada Januari lalu yang mengizinkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dari Venezuela juga dipandang sebagai ujian bagi hubungan strategis Beijing dengan mitra-mitranya.

Dalam pernyataannya, Wang juga melontarkan kritik tersirat terhadap pendekatan geopolitik Amerika Serikat yang dinilai berupaya memperluas pengaruhnya di berbagai kawasan.

Ia menyinggung konsep kebijakan luar negeri yang dikaitkan dengan pemerintahan Trump, yang oleh sebagian analis disebut sebagai “Donroe Doctrine”, sebagai versi baru dari kebijakan lama yang menegaskan pengaruh Washington di kawasan Amerika.

Baca Juga: Iran Ancam Serang Negara Uni Eropa yang Ikut Bantu AS dan Israel

“Jika China seperti beberapa kekuatan besar tradisional yang ingin membagi wilayah pengaruh di kawasan, memicu konfrontasi blok, atau memindahkan masalah ke negara tetangga, apakah Asia masih akan stabil seperti sekarang?” kata Wang, tanpa menyebut Amerika Serikat secara langsung.

Pernyataan tersebut mencerminkan ketegangan strategis yang masih membayangi hubungan dua kekuatan terbesar dunia, meskipun kedua pihak terus berupaya menjaga jalur komunikasi tetap terbuka menjelang kemungkinan pertemuan puncak para pemimpin mereka.




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×