kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Trump Tak Mau Negosiasi, Isyaratkan Perang Iran Berakhir Tanpa Pemimpin


Minggu, 08 Maret 2026 / 13:01 WIB
Trump Tak Mau Negosiasi, Isyaratkan Perang Iran Berakhir Tanpa Pemimpin


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat semakin memanas memasuki pekan kedua. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan tidak tertarik untuk bernegosiasi dengan Iran dan bahkan membuka kemungkinan perang berakhir hanya jika militer Iran hancur serta kepemimpinannya tidak lagi ada.

Berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengatakan kampanye serangan udara yang sedang berlangsung bisa membuat negosiasi menjadi tidak relevan jika para pemimpin Iran tewas dan kekuatan militernya dilumpuhkan.

"Pada suatu titik, mungkin tidak akan ada lagi orang yang tersisa untuk mengatakan ‘kami menyerah’,” ujar Trump.

Baca Juga: 12 Tahun Hilang, Keluarga Korban Jatuhnya Pesawat MH370 Desak Pencarian Diperpanjang

Israel melaporkan telah melancarkan serangan baru ke berbagai wilayah di Iran pada Minggu. Sementara itu, sebuah gedung kantor pemerintah di Kuwait dilaporkan terbakar hebat setelah terkena serangan drone.

Trump sebelumnya membenarkan serangan terhadap Iran dengan alasan negara tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat serta dianggap semakin dekat untuk memiliki senjata nuklir, meskipun belum ada bukti yang dipublikasikan.

Laporan media menyebutkan Amerika Serikat dan Israel juga sempat membahas kemungkinan mengirim pasukan khusus ke Iran untuk mengamankan stok uranium yang diperkaya tinggi milik negara tersebut pada tahap selanjutnya dalam perang.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah mereka. Ia berharap langkah itu dapat meredakan ketegangan di kawasan Teluk.

"Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak oleh tindakan Iran," kata Pezeshkian, seraya meminta mereka tidak bergabung dalam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Namun, permintaan maaf tersebut memicu kritik dari kelompok garis keras di dalam negeri. Pemerintah Iran menegaskan militernya tetap akan merespons keras setiap serangan yang berasal dari pangkalan Amerika di negara lain.

Ledakan besar dilaporkan terdengar di beberapa bagian Teheran ketika Israel menyerang lokasi rudal dan pusat komando Iran.

Menurut duta besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, serangan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya.

Baca Juga: China Minta Dialog dengan AS Jelang Pertemuan Xi Jinping–Donald Trump

Di sisi lain, serangan Iran dilaporkan menewaskan 10 orang di Israel serta enam personel militer Amerika Serikat. Jenazah para tentara AS tersebut telah dipulangkan ke pangkalan udara di Delaware.

Serangan juga dilaporkan mengenai depot bahan bakar di beberapa wilayah Iran, termasuk di Karaj, sebelah barat Teheran.

Konflik juga meluas ke Lebanon. Israel memperingatkan pemerintah Lebanon agar menahan kelompok militan Hezbollah, yang didukung Iran, setelah kelompok itu menembakkan roket melintasi perbatasan.

Israel menegaskan Lebanon akan membayar “harga yang sangat mahal” jika tidak mengendalikan kelompok tersebut. Serangan udara Israel di wilayah Lebanon sejak awal pekan dilaporkan telah menewaskan sekitar 300 orang.

Ketegangan yang meluas di kawasan Timur Tengah turut memengaruhi pasar energi dunia. Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah konflik mengganggu jalur perdagangan penting, termasuk Selat Hormuz.

Sejumlah negara penghasil energi seperti Kuwait, Irak, dan Qatar bahkan mulai mengurangi produksi minyak dan gas karena situasi keamanan yang tidak menentu.

Jika konflik terus meluas, para analis memperingatkan dampaknya bisa semakin besar terhadap ekonomi global, terutama pada sektor energi, perdagangan, dan logistik internasional.

Baca Juga: Arab Saudi Peringatkan Iran: Jika Serangan Berlanjut, Riyadh Siap Membalas




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×