Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Seminggu setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang mengguncang Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump kini menghadapi berbagai risiko baru. Tantangan tersebut menimbulkan pertanyaan besar: apakah keberhasilan militer bisa benar-benar berubah menjadi kemenangan geopolitik bagi Amerika Serikat.
Meski pasukan gabungan berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dan melancarkan serangan besar terhadap kekuatan militer Iran di darat, laut, dan udara, konflik justru meluas menjadi perang regional.
Situasi ini membuka kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat yang lebih panjang, dengan dampak yang bisa melampaui kendali Trump sendiri.
Padahal, selama dua masa jabatannya di Gedung Putih, Trump dikenal berusaha menghindari perang besar dan berkepanjangan. Ia lebih memilih operasi militer yang cepat dan terbatas, seperti operasi kilat di Venezuela pada Januari serta serangan tunggal terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Melansir Reuters, menurut analis dari Johns Hopkins School of Advanced International Studies, Laura Blumenfeld, konflik dengan Iran berpotensi menjadi perang yang rumit dan panjang.
“Iran bisa menjadi kampanye militer yang berantakan dan berkepanjangan. Trump mempertaruhkan ekonomi global, stabilitas kawasan, bahkan peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu AS,” katanya.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Memanas, Trump Sebut Perang Bisa Berakhir Tanpa Negosiasi
Perang yang Dipilih, Bukan Karena Ancaman Langsung
Saat kampanye dulu, Trump berjanji akan menjauhkan Amerika dari intervensi militer yang “bodoh”. Namun kini, banyak pakar menilai perang dengan Iran sebagai konflik yang dipilih secara politik, bukan karena ancaman langsung yang mendesak terhadap Amerika Serikat.
Analis juga menilai pemerintah AS belum menjelaskan secara rinci tujuan akhir operasi militer bernama Operation Epic Fury, operasi militer terbesar Amerika sejak Iraq War.
Gedung Putih membantah kritik tersebut. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan tujuan Trump jelas, yaitu:
- menghancurkan rudal balistik Iran dan kemampuan produksinya
- melumpuhkan angkatan laut Iran
- menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan
- memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir
Namun jika perang berlangsung lama, korban dari pihak Amerika bertambah, dan pasokan minyak dari Teluk terganggu, langkah Trump ini bisa berubah menjadi taruhan politik yang mahal.
Dukungan Basis MAGA Masih Bertahan
Sejauh ini, basis pendukung Trump dari gerakan Make America Great Again (MAGA) masih mendukung kebijakannya terhadap Iran, meski ada sebagian yang mengkritik keterlibatan militer.
Masalahnya, jika dukungan tersebut melemah, Partai Republik bisa terancam kehilangan kendali Kongres dalam pemilu paruh waktu November mendatang. Survei menunjukkan banyak pemilih Amerika, termasuk pemilih independen, menentang perang ini.
“Rakyat Amerika tidak ingin mengulang kesalahan di Irak dan Afghanistan,” kata Brian Darling, seorang ahli strategi Partai Republik.
Ia menilai basis MAGA kini terbelah antara: mereka yang percaya pada janji “tanpa perang baru” dan mereka yang tetap percaya pada keputusan Trump.
Baca Juga: Buletin Keamanan AS Terkait Ancaman Iran Diblokir Sementara, Mengapa?













