Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Kebingungan juga muncul dari pernyataan Trump dan para pejabatnya mengenai apakah tujuan perang ini adalah pergantian rezim di Iran.
Di awal konflik, Trump sempat mengisyaratkan bahwa menggulingkan pemerintahan Iran adalah salah satu tujuan. Namun dua hari kemudian ia tidak lagi menekankan hal tersebut.
Kemudian pada Kamis lalu, dalam wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan ia akan berperan dalam memilih pemimpin Iran berikutnya. Ia juga mendorong kelompok pemberontak Kurdi Iran untuk melancarkan serangan.
Sehari kemudian, melalui media sosial, Trump menuntut Iran menyerah tanpa syarat.
Risiko Perang Semakin Meluas
Di seluruh Timur Tengah, ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan beberapa negara lain.
Kelompok milisi Hezbollah di Lebanon juga kembali terlibat dalam pertempuran melawan Israel, yang memperluas konflik ke negara lain.
Sejauh ini korban dari pihak Amerika masih relatif kecil, dengan enam tentara tewas. Namun Trump tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat jika situasi memburuk.
Dalam wawancara dengan Time Magazine, Trump bahkan mengatakan serangan yang terinspirasi Iran di wilayah AS mungkin saja terjadi.
“Saya kira mungkin saja… seperti yang saya katakan, beberapa orang akan mati,” ujar Trump.
Baca Juga: Serangan Drone dan Rudal Rusia Hantam Ukraina, Belasan Orang Tewas di Kharkiv
Salah Perhitungan Seperti Kasus Venezuela?
Sebagian analis menilai Trump mungkin salah memperkirakan konflik ini akan berjalan seperti operasi militer di Venezuela awal tahun ini.
Dalam operasi tersebut, pasukan khusus AS berhasil menangkap presiden Venezuela Nicolás Maduro tanpa perlu operasi militer besar yang panjang.
Namun Iran ternyata jauh lebih kuat dan terorganisasi.
Bahkan serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Ali Khamenei belum mampu menghentikan respons militer Iran.
Ada juga kekhawatiran bahwa jika pemerintahan Iran runtuh, negara itu bisa terpecah dan menimbulkan kekacauan baru di Timur Tengah.
Ancaman Besar di Selat Hormuz
Salah satu kekhawatiran terbesar saat ini adalah ancaman Iran untuk menutup Strait of Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Lalu lintas kapal tanker sudah mulai berhenti. Jika berlangsung lama, dampaknya bisa sangat serius bagi ekonomi global.
Walau Trump secara terbuka meremehkan kenaikan harga bensin di AS, pemerintahannya diam-diam mencari cara untuk mengurangi dampak perang terhadap pasokan energi.
“Ini tekanan ekonomi yang tampaknya tidak sepenuhnya diperkirakan sebelumnya,” kata Josh Lipsky dari Atlantic Council.












