Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA/NEW DELHI. Harga patokan (benchmark) minyak mentah dari Timur Tengah melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah dan menjadi yang termahal di dunia, di tengah penurunan perdagangan akibat perang di Iran yang mengganggu rantai pasok regional.
Sejumlah pelaku pasar menilai lonjakan tersebut membuat relevansi sebagian benchmark dipertanyakan karena distorsi pasokan yang signifikan.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada kilang-kilang di Asia yang menggunakan patokan tersebut untuk menetapkan harga jutaan barel minyak mentah setiap hari. Tekanan biaya yang meningkat mendorong para penyuling untuk mencari alternatif pasokan atau mengurangi tingkat produksi dalam beberapa bulan mendatang.
Dubai dan Oman Catat Rekor Baru
Minyak mentah Cash Dubai dinilai pada level rekor US$157,66 per barel untuk kargo pengapalan Mei, menurut data S&P Global Platts, melampaui rekor tertinggi kontrak berjangka Brent sebesar US$147,50 per barel pada 2008.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari 1% Usai Serangan Iran ke UEA
Dengan harga tersebut, premium Dubai terhadap swap mencapai US$60,82 per barel pada Senin, jauh di atas rata-rata Februari yang hanya sekitar 90 sen, berdasarkan data Reuters.
Sementara itu, futures minyak Oman juga menyentuh rekor US$152,58 per barel, dengan premium terhadap swap Dubai sebesar US$55,74 per barel, dibandingkan rata-rata Februari yang hanya 75 sen.
Sejumlah sumber perdagangan menyebut harga Dubai mengalami distorsi akibat kesenjangan harga yang lebar dengan Murban futures, yang ditutup pada US$114,03 per barel pada Selasa.
Penurunan Ekspor dan Dampak Perang
Data dari firma analitik Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Timur Tengah ke Asia turun tajam menjadi 11,665 juta barel per hari (bpd) pada Maret, dari hampir 19 juta bpd pada Februari.
Angka tersebut juga turun sekitar 32% dibandingkan Maret 2025, seiring perang yang menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur strategis utama perdagangan energi global.
Penurunan pasokan ini memaksa beberapa kilang di Asia memangkas tingkat operasional mereka.
Kekhawatiran Soal Mekanisme Penetapan Harga
Sejumlah pelaku industri menyalahkan lonjakan harga pada berkurangnya ketersediaan minyak untuk pengiriman dalam proses Platts Market on Close (MOC), setelah lembaga tersebut menghapus tiga jenis minyak mentah yang melewati Selat Hormuz dari penilaian.
Baca Juga: Larangan Penjualan Alkohol di Damaskus, Tanda Suriah Kian Konservatif
Menurut salah satu sumber kilang, mekanisme harga dianggap tidak merepresentasikan pasar secara adil karena dua grade yang tersisa — Oman dan Murban — dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan benchmark yang digunakan untuk menetapkan harga minyak Timur Tengah maupun sebagian minyak Rusia.
Sumber lain menyebut perdagangan minyak Timur Tengah untuk pengapalan Mei terhenti karena benchmark Dubai dan Oman dianggap “tidak berfungsi” secara normal. Keduanya meminta identitas dirahasiakan karena tidak berwenang memberikan pernyataan publik.
Namun, juru bicara S&P Global Energy menyatakan bahwa harga Dubai tetap mencerminkan nilai minyak mentah sour Timur Tengah di pasar spot. Ia juga menyebut aktivitas dalam proses Platts MOC pada bulan ini cukup kuat dengan sejumlah kargo yang berhasil diserahkan.
Peran Pembeli Utama dalam Pasar Spot
Para pedagang menyebut TotalEnergies sebagai pembeli utama dalam jendela penetapan harga Platts. Perusahaan energi asal Prancis tersebut dilaporkan membeli 42 kargo minyak Oman dan Murban, setara dengan 21 juta barel pada bulan ini. TotalEnergies menolak berkomentar terkait transaksi tersebut.
Platts juga menyatakan pada Senin bahwa pihaknya tengah meminta masukan segera terkait kemampuan pengiriman minyak Timur Tengah serta metodologi penetapan harga Platts Dubai crude benchmark.
Asia Beralih ke Pasokan Afrika dan Amerika
Di tengah keterbatasan pasokan Timur Tengah, premium minyak dari kawasan Amerika dan Afrika meningkat karena kilang-kilang Asia berlomba mengamankan suplai alternatif.
Baca Juga: Negara Teluk Desak AS Lumpuhkan Iran, Tapi Khawatir Picu Perang Lebih Luas
Menurut dua pedagang, premium minyak mentah spot Brasil mencapai rekor US$12–US$15 per barel terhadap Brent dated. Sementara itu, premium minyak Afrika Barat untuk pengapalan April secara free-on-board (FOB) naik sekitar US$1 per barel dibandingkan bulan sebelumnya, dengan sebagian besar kargo telah terjual.
Dampak terhadap Pasar Energi Global
Lonjakan harga benchmark Timur Tengah ini berpotensi memperketat margin kilang di Asia, yang merupakan salah satu kawasan pengimpor minyak terbesar di dunia. Jika gangguan pasokan berlanjut, tekanan terhadap harga energi global dapat meningkat, sekaligus memperbesar volatilitas pasar komoditas dalam jangka pendek.
Situasi ini juga menegaskan kembali sensitivitas pasar energi global terhadap gangguan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama yang berdampak pada jalur strategis seperti Selat Hormuz. Para pelaku pasar kini memantau perkembangan pasokan dan kebijakan penetapan harga untuk mengantisipasi arah pasar dalam beberapa pekan ke depan.













