kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.988.000   -4.000   -0,13%
  • USD/IDR 17.017   7,00   0,04%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Harga Minyak Naik Lebih dari 1% Usai Serangan Iran ke UEA


Selasa, 17 Maret 2026 / 20:41 WIB
Harga Minyak Naik Lebih dari 1% Usai Serangan Iran ke UEA
ILUSTRASI. Harga minyak dunia kembali menguat setelah sempat melemah. Konflik Iran-UEA dan gangguan Selat Hormuz jadi pemicu utama (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – LONDON. Harga minyak dunia kembali menguat lebih dari 1% pada Selasa (17/3/2026), setelah sempat melemah pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global menyusul serangan Iran ke Uni Emirat Arab serta gangguan di Selat Hormuz yang masih terbatas operasinya.

Mengacu pada perdagangan pukul 13.15 GMT, harga minyak mentah Brent naik US$1,73 atau 1,7% menjadi US$101,94 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,23 atau 1,3% ke level US$94,73 per barel.

Sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut sempat terkoreksi tajam. Brent turun 2,8%, sedangkan WTI anjlok hingga 5,3% setelah sejumlah kapal berhasil melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.

Konflik Memanas, Pasokan Terganggu

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda mereda. Iran kembali melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab, memperburuk situasi keamanan di kawasan.

Baca Juga: IMF Wanti-Wanti Kondisi Keuangan Republik Kongo Memburuk

Aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Fujairah, UEA, dilaporkan setidaknya terhenti sebagian setelah serangan ketiga dalam empat hari terakhir memicu kebakaran di terminal ekspor. Selain itu, operasi di ladang gas Shah juga masih terhenti akibat serangan sebelumnya.

Fujairah, yang berada di Teluk Oman tepat di luar Selat Hormuz, merupakan jalur penting bagi ekspor minyak global dengan volume sekitar 1% dari total permintaan dunia.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Gangguan di Selat Hormuz semakin meningkatkan kekhawatiran pasar. Jalur ini merupakan pintu utama bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, menyatakan risiko eskalasi masih sangat tinggi. “Cukup satu milisi Iran meluncurkan rudal atau menanam ranjau di kapal tanker untuk memicu kembali krisis secara keseluruhan,” ujarnya.

Meski demikian, penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan kapal tanker mulai kembali melintas, meskipun dalam jumlah terbatas. Pemerintah Amerika Serikat memperkirakan konflik ini akan berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan.

Respons Global dan Dampak Harga

Sejumlah sekutu AS menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal perang guna mengawal pengiriman minyak di Selat Hormuz. Penolakan ini memicu kritik dari Trump terhadap mitra Barat.

Bank investasi Cavendish menyebut meskipun kekhawatiran jangka pendek sedikit mereda, pasar tetap memperkirakan gangguan pasokan akan signifikan.

Baca Juga: Permintaan Maskapai AS Naik, Meski Harga Tiket Naik dan Biaya Bahan Bakar Jet Meroket

Harga minyak acuan Timur Tengah bahkan melonjak ke rekor tertinggi, menjadikannya yang termahal di dunia. Kenaikan ini dipicu terbatasnya pasokan yang tersedia untuk pengiriman.

Penutupan efektif Selat Hormuz juga memaksa Uni Emirat Arab—produsen minyak terbesar ketiga di Organization of the Petroleum Exporting Countries—mengurangi produksi lebih dari separuh.

Potensi Kenaikan Lebih Lanjut

Analis OANDA Kelvin Wong menilai harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi hingga akhir Maret. Secara teknikal, level resistensi jangka menengah WTI berada di kisaran US$124 per barel.

Untuk menahan lonjakan harga energi, pimpinan International Energy Agency mengusulkan negara-negara anggota melepas cadangan minyak tambahan, di luar 400 juta barel yang telah disepakati sebelumnya dari cadangan strategis.

Dengan eskalasi konflik yang terus berlangsung dan jalur distribusi utama yang terganggu, pasar energi global diperkirakan tetap berada dalam tekanan tinggi dalam waktu dekat.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×