kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.935   35,00   0,20%
  • IDX 6.321   -19,44   -0,31%
  • KOMPAS100 834   -5,19   -0,62%
  • LQ45 631   -5,42   -0,85%
  • ISSI 217   -0,87   -0,40%
  • IDX30 356   -2,59   -0,72%
  • IDXHIDIV20 441   -2,53   -0,57%
  • IDX80 95   -0,70   -0,74%
  • IDXV30 119   -0,18   -0,15%
  • IDXQ30 114   -0,87   -0,76%

Permintaan Maskapai AS Naik, Meski Harga Tiket Naik dan Biaya Bahan Bakar Jet Meroket


Selasa, 17 Maret 2026 / 20:32 WIB
Permintaan Maskapai AS Naik, Meski Harga Tiket Naik dan Biaya Bahan Bakar Jet Meroket
ILUSTRASI. Dubai International Airport - Maskapai Emirates (REUTERS/Jumana El-Heloueh)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Maskapai penerbangan Amerika Serikat melaporkan permintaan perjalanan yang lebih tinggi dari perkiraan menjelang musim semi, mendukung kenaikan tarif dan pertumbuhan pendapatan, meski lonjakan harga bahan bakar jet akibat perang Iran mendorong biaya operasional meningkat.

Delta Air Lines mencatat percepatan permintaan konsumen dan korporat hingga Maret, sehingga meningkatkan panduan pendapatan kuartal berakhir Maret dan menegaskan laba akan sesuai dengan perkiraan awal. Maskapai berbasis di Atlanta ini menyebut penjualan pekan lalu naik sekitar 25% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan kekuatan di semua segmen perjalanan korporat, rute internasional, kelas premium, dan kelas ekonomi domestik.

Delta juga mencatat delapan dari sepuluh hari penjualan tertinggi dalam sejarahnya pada kuartal ini, lima di antaranya terjadi bulan ini setelah perang dimulai.

Baca Juga: Negara Teluk Desak AS Lumpuhkan Iran, Tapi Khawatir Picu Perang Lebih Luas

“Kisah kuartal ini adalah tentang permintaan pendapatan dan kesehatan permintaan yang ada,” ujar CEO Ed Bastian dalam konferensi industri J.P. Morgan. Delta kini memperkirakan pendapatan kuartal pertama tumbuh di kisaran angka tinggi satu digit, dibandingkan perkiraan sebelumnya 5%–7%, dengan laba per saham disesuaikan diperkirakan antara 50 hingga 90 sen. Saham Delta naik 3,55% di perdagangan pra-pasar.

Maskapai lain seperti JetBlue Airways juga melaporkan permintaan meningkat baik pada periode puncak maupun non-puncak, di semua kelas, meski cuaca musim dingin mengurangi kapasitas dan menambah biaya. Maskapai bertarif rendah Frontier Airlines juga sedikit menurunkan perkiraan kerugian kuartalannya karena permintaan yang kuat membantu menutupi lonjakan harga bahan bakar jet.

Harga bahan bakar jet, biaya kedua terbesar industri setelah tenaga kerja, telah meningkat lebih dari 50% sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran akhir Februari, kini berada di kisaran US$ 150–US$ 200 per barel, dibandingkan sekitar US$ 100 sebelum perang. Serangan Iran di kawasan penghasil minyak utama mengganggu pasokan dan menutup jalur pengiriman penting, menambah volatilitas pasar.

Maskapai AS paling terpapar lonjakan ini karena sebagian besar tidak melakukan lindung nilai terhadap biaya bahan bakar, berbeda dengan beberapa maskapai Eropa dan Asia.

Bastian menyebut harga bahan bakar jet hampir dua kali lipat sejak awal tahun, dengan peningkatan biaya bahan bakar US$ 400 juta hanya pada bulan Maret, namun industri bergerak cepat menyesuaikan tarif untuk menutupi biaya tambahan. Ia menambahkan Delta siap menyesuaikan kapasitas jika harga tinggi terus berlanjut.

Baca Juga: Bank Dunia: Ketergantungan Tarif Hambat Industrialisasi Negara Berkembang


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×