kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.047.000   8.000   0,26%
  • USD/IDR 16.875   -95,00   -0,56%
  • IDX 7.441   103,54   1,41%
  • KOMPAS100 1.037   16,87   1,65%
  • LQ45 760   9,37   1,25%
  • ISSI 262   5,17   2,01%
  • IDX30 401   3,98   1,00%
  • IDXHIDIV20 495   1,94   0,39%
  • IDX80 117   1,87   1,63%
  • IDXV30 135   1,59   1,20%
  • IDXQ30 129   0,82   0,64%

Maskapai Dunia Naikkan Tarif Tiket Saat Biaya Bahan Bakar Melonjak


Selasa, 10 Maret 2026 / 14:44 WIB
Maskapai Dunia Naikkan Tarif Tiket Saat Biaya Bahan Bakar Melonjak
ILUSTRASI. Pesawat QANTAS (Qantas Airways/via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Sejumlah maskapai penerbangan global mulai menaikkan harga tiket menyusul lonjakan tajam biaya bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah.

Kondisi ini menambah tekanan bagi industri penerbangan yang tengah menghadapi ketidakpastian operasional dan biaya yang meningkat.

Maskapai Australia Qantas Airways dan Air New Zealand pada Selasa (10/3/2026) menyatakan telah menaikkan tarif penerbangan, seiring melonjaknya harga bahan bakar jet dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Layanan Kereta Penumpang Korea Utara dan China Akan Dilanjutkan Pekan Ini

Menurut Air New Zealand, harga bahan bakar jet yang sebelumnya berada di kisaran US$85–US$90 per barel sebelum konflik, kini melonjak menjadi sekitar US$150 hingga US$200 per barel.

Ketidakpastian tersebut juga membuat maskapai itu menangguhkan proyeksi kinerja keuangan untuk tahun 2026.

Lonjakan harga minyak dipicu oleh perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang mengguncang pasar energi global.

Kondisi ini mendorong kenaikan harga tiket pada sejumlah rute penerbangan serta memicu kekhawatiran akan penurunan tajam permintaan perjalanan hingga potensi pembatasan operasional penerbangan.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga sempat mengganggu operasional penerbangan.

Layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 melaporkan sejumlah pesawat yang menuju Dubai sempat menunggu di udara pada Selasa pagi karena potensi serangan rudal, meski akhirnya dapat mendarat dengan aman.

Baca Juga: Bursa Korsel Rebound Tajam Selasa (10/3), Ditopang Harapan Meredanya Perang Iran

Qantas menyatakan selain menaikkan tarif internasional, pihaknya juga mempertimbangkan mengalihkan kapasitas penerbangan tambahan ke rute Eropa.

Langkah ini dilakukan karena maskapai dan penumpang berupaya menghindari gangguan penerbangan di wilayah Timur Tengah yang terdampak serangan drone dan rudal.

Maskapai tersebut mencatat tingkat keterisian penerbangan menuju Eropa mencapai lebih dari 90% pada Maret, lebih tinggi dibandingkan rata-rata sekitar 75% pada periode yang sama dalam kondisi normal.

Lonjakan tarif juga terjadi pada rute Asia–Eropa akibat penutupan wilayah udara dan keterbatasan kapasitas penerbangan. Maskapai Hong Kong Cathay Pacific Airways bahkan menambah penerbangan menuju London dan Zurich selama Maret untuk mengakomodasi permintaan.

Sementara itu, Air New Zealand menaikkan tarif kelas ekonomi sekali jalan sebesar NZ$10 untuk rute domestik, NZ$20 untuk penerbangan internasional jarak pendek, dan NZ$90 untuk penerbangan jarak jauh.

Baca Juga: Konflik Iran Memanas, Australia Kirim Pesawat Pengintai dan Rudal ke UEA

Maskapai tersebut juga membuka kemungkinan penyesuaian tarif dan jadwal penerbangan lebih lanjut jika harga bahan bakar tetap tinggi.

Maskapai Hong Kong Airlines juga mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar hingga 35,2% mulai Kamis, dengan kenaikan terbesar pada rute Hong Kong menuju Maladewa, Bangladesh, dan Nepal.

Di sisi lain, pemerintah Vietnam menyebut biaya operasional maskapai di negara tersebut telah meningkat 60% hingga 70% akibat lonjakan harga bahan bakar.

Maskapai nasional Vietnam Airlines bahkan meminta pemerintah menghapus pajak lingkungan untuk bahan bakar jet guna membantu menjaga operasional.

Meski demikian, saham sejumlah maskapai mulai menunjukkan tanda stabilisasi setelah sebelumnya anjlok.

Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir, yang mendorong harga minyak turun ke kisaran US$90 per barel pada Selasa dari puncaknya US$119 pada Senin.

Baca Juga: Iran Ancam Lanjutkan Blokade Minyak, Trump Siapkan Serangan Besar

Di Asia, saham Qantas naik sekitar 0,5%, sementara saham Korean Air Lines melonjak hampir 9% dan Cathay Pacific naik lebih dari 4% setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam.

Bagi maskapai, bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar kedua setelah tenaga kerja, biasanya menyumbang sekitar 20% hingga 25% dari total biaya operasional.

Lonjakan harga bahan bakar dan pembatasan wilayah udara akibat konflik Timur Tengah juga mulai berdampak pada industri pariwisata global.

Operator perjalanan Korea Selatan HanaTour Service misalnya, telah membatalkan sejumlah paket wisata yang melibatkan penerbangan ke Timur Tengah serta menangguhkan seluruh tur terkait kawasan tersebut sepanjang Maret.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata Thailand memperkirakan jika konflik berlangsung lebih dari delapan minggu, negara tersebut berpotensi kehilangan sekitar 595.974 wisatawan dan pendapatan pariwisata sebesar 40,9 miliar baht atau sekitar US$1,29 miliar.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×