Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia anjlok lebih dari 3% pada perdagangan Rabu (10/6/2026), tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 3,5% menjadi US$ 4.111,95 per ons troi pada pukul 14.26 EDT (18.26 GMT), level terendah sejak 23 Maret 2026.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 2% Rabu (10/6), Trump Ancam Serang Iran Lebih Keras
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 3,6% ke posisi US$ 4.133,30 per ons troi.
Tai Wong, trader logam independent mengatakan, pasar saat ini tengah menghadapi tekanan dari kombinasi data ekonomi AS yang kuat dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
"Pasar sangat membutuhkan kabar positif setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat pada Jumat lalu dan ancaman Presiden Donald Trump yang menyatakan Iran akan membayar harga karena tidak mau menyepakati kesepakatan damai," ujar Wong.
Pada Rabu, Trump menyatakan Iran telah terlalu lama menunda negosiasi dan kini harus menanggung konsekuensinya.
Baca Juga: Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth: Bom Akan Jatuh ke Fasilitas Kunci Iran
Ia juga menegaskan AS akan menyerang Iran "dengan sangat keras" apabila tidak tercapai kesepakatan damai.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain setelah serangan militer AS terhadap sejumlah target Iran di sekitar Selat Hormuz.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, harga emas berada di bawah tekanan. Kenaikan harga minyak akibat perang memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026.
Baca Juga: Produksi Minyak OPEC Anjlok ke Level Terendah dalam Lebih dari Dua Dekade
Dari sisi data ekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (CPI) inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,2% secara bulanan pada Mei setelah meningkat 0,4% pada April.
Pasar kini menantikan rilis indeks harga produsen (PPI) AS pada Kamis (11/6) untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Meski demikian, sejumlah analis menilai prospek jangka panjang emas masih ditopang oleh berbagai faktor fundamental.
Strategis pasar Sprott Asset Management Paul Wong mengatakan, kekhawatiran inflasi, pembelian emas oleh bank sentral, serta pelemahan nilai mata uang tetap menjadi faktor pendukung harga emas.
Baca Juga: Harga Minyak Global Naik Usai Trump Ancam Iran, Pasar Khawatir Pasokan Terganggu
"Meski harga emas sedang mengalami konsolidasi, kekhawatiran terhadap inflasi, pembelian bank sentral, dan depresiasi mata uang masih menjadi faktor yang menopang pasar emas," kata Wong.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,8% menjadi US$ 64,83 per ons troi, platinum merosot 2,6% ke US$ 1.681,88 per ons troi, sedangkan paladium naik 0,7% menjadi US$ 1.230,41 per ons troi.













