Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Kondisi bisnis di Australia menunjukkan perbaikan tipis pada Juli 2026. Namun, kepercayaan pelaku usaha masih berada pada level rendah di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian ekonomi akibat meningkatnya kembali ketegangan di kawasan Teluk yang turut mendorong harga minyak.
Melansir Reuters, survei National Australia Bank (NAB) yang dirilis Selasa (11/8/2026) menunjukkan, indeks kondisi bisnis naik 1 poin menjadi +4 pada Juli. Meski membaik, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata jangka panjang sebesar +7.
Baca Juga: Yen Stabil Selasa (11/8), Pasar Tunggu Keputusan RBA dan Data Inflasi AS
Sementara itu, indeks kepercayaan bisnis tidak berubah di level -6. Posisi tersebut masih jauh di bawah level yang tercatat pada Februari, sebelum perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran dimulai.
"Meski hasilnya membaik dibandingkan saat dampak krisis Timur Tengah berada di puncaknya, survei menunjukkan ketidakpastian yang tinggi masih terus membebani kepercayaan bisnis," kata NAB dalam laporannya.
NAB juga menyoroti tekanan biaya yang masih menjadi perhatian pelaku usaha. Kondisi tersebut terjadi ketika prospek permintaan ke depan cenderung melemah, sehingga berpotensi menekan margin perusahaan.
"Tekanan biaya di tengah prospek permintaan ke depan yang lebih lemah menunjukkan tekanan terhadap margin masih berlanjut," ujar NAB.
Baca Juga: Terungkap! Trump Diam-diam Kabur dari Turki Pakai Pesawat Militer, Ada Ancaman Iran
Harga Energi Jadi Perhatian
Pergerakan harga bahan bakar turut memengaruhi kondisi bisnis Australia. NAB mencatat sektor transportasi dan utilitas menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga jual maupun biaya pembelian pada Juli.
Kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian setelah ketegangan di kawasan Teluk meningkat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan dan memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Di sisi lain, sejumlah indikator bisnis menunjukkan perbaikan. Ukuran ketenagakerjaan dan profitabilitas meningkat pada Juli, sementara penjualan relatif stabil.
Tingkat utilisasi kapasitas juga melonjak menjadi 83%, terutama didorong oleh sektor keuangan, bisnis dan properti, serta perdagangan grosir.
Baca Juga: Roket Long March 7A China Gagal Meluncur, Satelit ChinaSat-4B Tak Capai Orbit
RBA Jadi Fokus Pasar
Perkembangan kondisi bisnis tersebut menjadi perhatian pasar menjelang keputusan kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa (11/8).
RBA diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,35%, setelah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini.
Meski demikian, para pembuat kebijakan telah memperingatkan bahwa suku bunga masih dapat dinaikkan apabila inflasi tidak melandai sesuai ekspektasi.
Data survei NAB menunjukkan tantangan yang dihadapi RBA cukup kompleks. Di satu sisi, aktivitas bisnis mulai membaik. Namun, tekanan biaya dan ketidakpastian geopolitik berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.
Baca Juga: Investor Ritel Mulai Jual Saham SpaceX di Bawah Harga IPO, Ada Apa?
Di sisi lain, pelemahan kepercayaan bisnis dan prospek permintaan yang lebih lunak dapat menjadi alasan bagi RBA untuk mempertimbangkan dampak kebijakan moneter yang telah diterapkan sebelumnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
