kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Kondisi Bisnis Australia Stabil, Namun Kepercayaan Pelaku Usaha Masih Lesu


Selasa, 09 Juni 2026 / 10:01 WIB
Kondisi Bisnis Australia Stabil, Namun Kepercayaan Pelaku Usaha Masih Lesu
ILUSTRASI. Tourism Western Australia (dok/ Tourism Western Australia)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Kondisi bisnis di Australia cenderung stabil pada Mei 2026 seiring adanya perbaikan penjualan. Namun, tingkat kepercayaan pelaku usaha masih berada di wilayah pesimistis akibat tekanan biaya yang terus menggerus margin keuntungan.

Berdasarkan survei National Australia Bank (NAB) yang dilansir Reuters Selasa (9/6/2026), indeks kondisi bisnis Australia bertahan di level positif 3 pada Mei. Capaian ini mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama empat bulan berturut-turut.

Baca Juga: Dolar AS Dekati Level Tertinggi 2 Bulan: Efek Gencatan Senjata Iran-Israel yang Rapuh

Sementara itu, indeks kepercayaan bisnis membaik menjadi minus 14 dari minus 23 pada April. Meski demikian, level tersebut masih menunjukkan sentimen pesimistis di kalangan pelaku usaha.

Ekonom NAB Michael Hayes mengatakan, ketidakpastian global yang masih tinggi, perlambatan kondisi ekonomi domestik, serta tekanan biaya yang tetap besar menjadi faktor utama yang membebani optimisme dunia usaha.

"Dengan ketidakpastian global yang masih berlanjut, kondisi domestik yang melunak, dan tekanan biaya yang tetap tinggi, kepercayaan bisnis masih sangat lemah dan berada di wilayah negatif di seluruh sektor industri," ujar Hayes.

Menurut dia, komponen profitabilitas menjadi indikator yang paling jauh berada di bawah rata-rata historisnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap margin keuntungan perusahaan masih berlangsung.

Survei NAB juga menunjukkan tekanan biaya sedikit mereda pada Mei, meskipun masih tergolong tinggi secara historis. Di sisi lain, tingkat utilisasi kapasitas turun ke bawah 82% untuk pertama kalinya sejak awal 2025, yang mengindikasikan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: 5 Cara SpaceX Mengubah Aturan Main IPO di Wall Street

Kondisi ini menjadi perhatian bagi bank sentral Australia. Sepanjang tahun ini, Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali hingga mencapai 4,35% guna menekan inflasi yang masih bertahan tinggi.

Otoritas moneter Australia khawatir dunia usaha akan meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen. Jika hal itu terjadi, tekanan inflasi berpotensi semakin sulit dikendalikan dan dapat memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi di masa mendatang.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×