Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas bisnis di Australia sedikit melambat pada Januari, seiring perlambatan penjualan dan laba, namun tekanan biaya tercatat pada level terendah sejak 2021, memberikan sinyal positif bagi prospek inflasi ke depan.
Hal ini terungkap dalam survei yang dirilis pada Selasa (10/2/2026).
Survei National Australia Bank (NAB) menunjukkan indeks kondisi bisnis turun 2 poin menjadi +7 pada Januari, membalikkan kenaikan yang tercatat pada Desember.
Baca Juga: Bangladesh Amankan Tarif AS Turun Jadi 19%, Produk Garmen Berbahan AS Bebas Bea Masuk
Sementara itu, indeks kepercayaan bisnis, yang cenderung berfluktuasi, justru naik 1 poin menjadi +3.
Indikator penjualan turun 6 poin menjadi +10, meskipun masih sejalan dengan rata-rata jangka panjang. Laba juga melemah 3 poin ke level +8.
Di sisi lain, indikator ketenagakerjaan tetap stabil di +5 untuk bulan ketiga berturut-turut, mengindikasikan ketahanan permintaan tenaga kerja.
Survei tersebut dilakukan sebelum Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) pekan lalu menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,85%, yang merupakan kenaikan pertama dalam dua tahun, sebagai upaya menekan tekanan inflasi yang masih membandel.
Hasil survei juga menunjukkan penurunan tekanan biaya tenaga kerja dan biaya input sepanjang Januari.
Selain itu, pertumbuhan harga ritel kuartalan melambat menjadi 0,3%, dari 0,5% pada Desember.
Baca Juga: Brasil Raup US$4,5 Miliar dari Penerbitan Utang Luar Negeri Perdana 2026
“Indikator pertumbuhan biaya dan harga dalam survei ini turun ke level terendah pascapandemi,” ujar Michael Hayes, ekonom NAB.
Ia menambahkan bahwa secara keseluruhan, survei Januari menunjukkan perekonomian Australia masih mempertahankan sebagian besar momentum yang diperoleh sepanjang tahun lalu, dengan tingkat aktivitas tetap tinggi, meskipun terdapat sedikit penurunan dalam utilisasi kapasitas dalam beberapa bulan terakhir.













