kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

Asuransi Cabut Perlindungan Risiko Perang, Pengiriman Minyak di Selat Hormuz Lumpuh


Selasa, 03 Maret 2026 / 17:31 WIB
Asuransi Cabut Perlindungan Risiko Perang, Pengiriman Minyak di Selat Hormuz Lumpuh


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - LONDON/SINGAPURA. Perusahaan asuransi maritim membatalkan perlindungan risiko perang (war risk coverage) bagi kapal-kapal yang beroperasi di Teluk Timur Tengah, seiring meluasnya konflik Iran yang mengganggu jalur pelayaran vital global.

Sejumlah kapal tanker dilaporkan rusak atau terdampar, sementara sedikitnya dua orang tewas akibat insiden terbaru di kawasan tersebut.

Gangguan terbesar terjadi di Selat Hormuz, jalur strategis antara Iran dan Oman yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia serta volume besar gas alam. Aktivitas pelayaran di kawasan itu nyaris terhenti setelah sejumlah kapal menjadi sasaran serangan menyusul aksi balasan Iran terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel.

Ratusan Kapal Terdampar, Harga Energi Melonjak

Data pelayaran menunjukkan sedikitnya 150 kapal, termasuk tanker minyak dan kapal pengangkut gas alam cair (LNG), menjatuhkan jangkar di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya pada Minggu (2/3). Sekitar 10% kapal kontainer global juga terdampak kemacetan yang lebih luas.

Baca Juga: China Akan Terbitkan Obligasi Khusus US$ 29 Miliar untuk Merekapitalisasi Asuransi

Jeremy Nixon, CEO perusahaan pelayaran kontainer Ocean Network Express (ONE), memperingatkan bahwa kargo berpotensi menumpuk di pelabuhan dan pusat transshipment di Eropa dan Asia dalam waktu dekat akibat gangguan rantai pasok ini.

Lonjakan ketegangan memicu kenaikan tajam harga energi. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13%, sementara harga gas alam Eropa turut meningkat, setelah konflik memicu sejumlah penghentian produksi minyak dan gas di Timur Tengah.

Iran Tutup Navigasi, Ancam Tembak Kapal

Iran menyatakan telah menutup navigasi di Selat Hormuz. Komandan Garda Revolusi Iran dilaporkan menyebut pihaknya akan menembak kapal mana pun yang mencoba melintasi jalur maritim selebar 21 mil (34 km) tersebut.

Langkah ini mendorong pemerintah dan kilang di Asia untuk mengevaluasi cadangan minyak mereka guna mengantisipasi gangguan pasokan berkepanjangan.

Data pelacakan kapal dari platform MarineTraffic menunjukkan tanker-tanker terkonsentrasi di perairan terbuka lepas pantai produsen utama minyak Teluk seperti Irak dan Arab Saudi, serta raksasa LNG Qatar.

Sejumlah Kapal Diserang, Korban Jiwa Berjatuhan

Dalam insiden terbaru, Garda Revolusi Iran menyatakan kapal berbendera Honduras, Athe Nova, terbakar di Selat Hormuz setelah dihantam dua drone.

Baca Juga: Saham Asuransi Kesehatan Anjlok Usai Pemerintahan Trump Usulkan Kenaikan Tarif

Sementara itu, kapal tanker produk berbendera Amerika Serikat, Stena Imperative, mengalami kerusakan akibat “serangan udara” saat bersandar di Teluk Timur Tengah. Pemilik kapal Stena Bulk dan manajer asal AS, Crowley, menyatakan satu pekerja galangan kapal tewas akibat insiden tersebut.

Pada Minggu, proyektil menghantam tanker produk berbendera Kepulauan Marshall, MKD VYOM, menewaskan satu awak kapal saat berlayar di lepas pantai Oman. Dua tanker lainnya juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Insiden lain menimpa kapal tanker pengisian bahan bakar berbendera Gibraltar, Hercules Star, yang dihantam proyektil di lepas pantai Uni Emirat Arab. Manajer kapal, Peninsula, menyatakan kapal kembali berlabuh di Dubai dan seluruh awak dalam kondisi selamat.

Asuransi Batalkan Risiko Perang, Tarif Pengiriman Melonjak

Akibat meningkatnya risiko, sejumlah perusahaan asuransi maritim membatalkan perlindungan risiko perang untuk kapal-kapal di kawasan tersebut. Pembatalan ini akan efektif mulai 5 Maret, berdasarkan pemberitahuan tertanggal 1 Maret di situs masing-masing perusahaan.

Perusahaan asuransi yang mengambil langkah tersebut antara lain Gard, Skuld, NorthStandard, London P&I Club, serta American Club.

Pembatalan ini memaksa perusahaan pelayaran mencari perlindungan baru dengan premi jauh lebih tinggi untuk mempertahankan polis asuransi mereka.

David Smith, kepala divisi maritim di broker McGill and Partners, menyatakan bahwa para penjamin asuransi menaikkan tarif secara signifikan, bahkan dalam beberapa kasus menolak memberikan penawaran untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Kerugian Bencana Alam Capai US$ 107 Miliar, Fokus pada AS

Sumber industri menyebut premi risiko perang melonjak hingga 1% dari nilai kapal dalam 48 jam terakhir, naik dari sekitar 0,2% pada pekan sebelumnya. Kenaikan ini menambah beban biaya ratusan ribu dolar AS untuk setiap pengiriman.

Munro Anderson dari spesialis asuransi perang maritim Vessel Protect—bagian dari Pen Underwriting—mengatakan pasar asuransi menghadapi situasi yang secara de facto menyerupai penutupan Selat Hormuz, lebih didorong persepsi ancaman dibanding blokade nyata.

Biaya Pengiriman ke Asia Diproyeksikan Naik

Biaya pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia, yang sebelumnya telah mencapai level tertinggi dalam enam tahun, diperkirakan akan meningkat lebih lanjut. Konflik Iran yang meluas membuat pemilik kapal enggan mengirim armadanya ke kawasan berisiko tinggi tersebut.

Kondisi ini berpotensi memperburuk volatilitas harga energi global serta menekan stabilitas rantai pasok minyak dan gas, terutama bagi negara-negara importir utama di Asia dan Eropa.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×