Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perusahaan-perusahaan besar kembali membanjiri pasar obligasi korporasi Amerika Serikat pada awal pekan ini. Pada hari Senin, total penerbitan obligasi baru mencapai sekitar US$ 18 miliar, menjadikannya lonjakan terbesar sejak penawaran jumbo oleh Meta Platforms pada 30 April lalu.
Menurut pelaku pasar, sedikitnya 12 emiten berperingkat investasi (investment grade) masuk ke pasar obligasi AS dalam satu hari, termasuk operator telekomunikasi AS Verizon Communications dan produsen otomotif Jepang Toyota. Lonjakan ini diperkirakan menjadi awal dari bulan Mei yang sangat sibuk, yang oleh analis diprediksi akan menjadi periode penerbitan obligasi tersibuk dalam enam tahun terakhir.
Aktivitas ini menyusul penerbitan sekitar US$ 64 miliar pada pekan terakhir April, serta US$ 39 miliar pada pekan pertama Mei. Meskipun lebih rendah dibandingkan sekitar US$ 47 miliar pada periode yang sama tahun lalu, pasar tetap menunjukkan aktivitas yang kuat.
Baca Juga: Rumah Sakit Belanda Mengkarantina 12 Orang Karena Pelanggaran Protokol Hantavirus
Bulan April sendiri mencatat volume penerbitan tertinggi sejak 2020, ketika perusahaan-perusahaan berebut likuiditas di awal pandemi COVID-19. Total penerbitan obligasi investment grade pada bulan tersebut mencapai US$ 196 miliar, menurut laporan Bank of America Global Research.
Perusahaan teknologi raksasa atau “hyperscalers” seperti Alphabet Inc. dan Meta Platforms menjadi pendorong utama aktivitas pasar obligasi tahun ini. Mereka aktif menerbitkan utang untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), terutama pusat data.
Secara total, perusahaan-perusahaan ini telah menerbitkan sekitar US$ 110 miliar obligasi pada 2026, dengan tambahan pendanaan sekitar US$ 20 miliar untuk pembangunan pusat data. Porsi mereka kini mencapai sekitar 15,5% dari total penerbitan obligasi investment grade, naik tajam dari hanya 3% tahun lalu.
“Perusahaan-perusahaan ini jauh melampaui bobot normal mereka dalam pasar utang,” ujar Nathaniel Rosenbaum dari JPMorgan. Ia bahkan memperkirakan sektor teknologi dapat melampaui dominasi sektor perbankan di pasar obligasi AS tahun ini.
Selama ini, sektor perbankan menjadi pemain utama dalam penerbitan obligasi AS karena kebutuhan pendanaan wholesale. Namun, meningkatnya kebutuhan pembiayaan perusahaan teknologi mengubah lanskap tersebut.
Analis BNP Paribas, Meghan Robson, memperkirakan hyperscalers dapat menerbitkan hingga US$ 250 miliar obligasi tahun ini, dan total pasar obligasi investment grade AS bisa mencapai rekor US$ 1,85 triliun pada 2026.
Ia menilai banyak perusahaan memilih mempercepat penerbitan utang untuk mengunci biaya pendanaan sebelum kondisi pasar berubah akibat potensi kenaikan suku bunga atau pelebaran spread.
Baca Juga: Israel Kirim Sistem Pertahanan Udara Iron Dome ke UEA untuk Hadapi Ancaman Iran
Meski imbal hasil obligasi naik yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat di 4,41% spread kredit korporasi tetap berada di level sempit secara historis, sekitar 78 basis poin menurut indeks ICE BofA.
Kondisi ini menunjukkan investor masih menilai neraca keuangan perusahaan cukup solid.
“Perbedaan ini menunjukkan pasar menganggap skenario paling mungkin adalah guncangan stagflasi ringan, cukup untuk menahan bank sentral, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan risiko jangka panjang yang besar,” kata Lotfi Karoui dari PIMCO.
Kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik yang berkepanjangan serta penutupan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz turut mendorong tekanan inflasi dan meningkatkan biaya pinjaman secara umum.
Namun bagi emiten, kondisi spread yang masih ketat membuat penerbitan obligasi tetap menarik secara historis, meskipun tingkat yield lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.













