kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.827   18,00   0,11%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Harga Minyak Meroket 9%, Selat Hormuz Jadi Perhatian Utama Pasar


Senin, 02 Maret 2026 / 07:25 WIB
Harga Minyak Meroket 9%, Selat Hormuz Jadi Perhatian Utama Pasar


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak melonjak tajam pada Senin (2/3/2026), sementara investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti obligasi dan emas setelah konflik militer di Timur Tengah diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Situasi ini terjadi di tengah pasar global yang sebelumnya sudah diliputi kekhawatiran terkait sektor kecerdasan buatan (AI) dan perbankan.

Data Reuters menunjukkan, minyak mentah acuan global Brent Crude melonjak 9% menjadi US$ 79,42 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate naik 8,6% menjadi US$ 72,61 per barel.

Di sisi lain, harga emas juga meningkat sekitar 1,4% menjadi US$ 5.350 per ons.

Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran juga membalas dengan serangan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut, meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara tetangga.

Presiden Donald Trump bahkan mengatakan kepada surat kabar Daily Mail bahwa konflik ini bisa berlangsung hingga empat minggu lagi. Ia juga menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut sampai tujuan militer Amerika Serikat tercapai.

Baca Juga: Krisis Iran: 3 Ujian Berat Ini Tentukan Nasib Rezim Pasca-Khamenei

Selat Hormuz jadi perhatian utama pasar

Perhatian utama pasar global kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melalui laut serta sekitar 20% pasokan gas alam cair global.

Meskipun jalur tersebut belum sepenuhnya diblokir, sejumlah situs pelacakan kapal menunjukkan kapal tanker mulai menumpuk di kedua sisi selat. Banyak kapal menunggu karena khawatir terhadap risiko serangan atau kesulitan memperoleh asuransi pelayaran.

Kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan bahwa gangguan paling nyata bagi pasar minyak saat ini adalah terhentinya lalu lintas kapal secara efektif di Selat Hormuz.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menahan sekitar 15 juta barel minyak per hari untuk tidak sampai ke pasar global.

“Jika tidak ada sinyal de-eskalasi dalam waktu dekat, kami memperkirakan harga minyak akan mengalami penyesuaian naik secara signifikan,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi memicu kembali tekanan inflasi global. Kenaikan harga energi juga bisa menjadi beban tambahan bagi dunia usaha dan konsumen sehingga berisiko menekan permintaan ekonomi.

Risiko lonjakan harga minyak global

Aliansi produsen minyak OPEC+ memang telah sepakat menaikkan produksi sekitar 206.000 barel per hari mulai April. Namun sebagian besar tambahan produksi tersebut tetap harus dikirim melalui tanker dari kawasan Timur Tengah.

SVP pasar minyak di Wood Mackenzie, Alan Gelder, menyebut situasi saat ini memiliki kemiripan dengan embargo minyak Timur Tengah pada era 1970-an.

Saat itu harga minyak melonjak hingga 300% menjadi sekitar US$ 12 per barel pada 1974.

Baca Juga: Israel Kembali Menyerang Teheran, Dewan Kepempimpinan Ambil Alih Kekuasaan

Jika dikonversi dengan nilai saat ini, harga tersebut setara sekitar US$ 90 per barel pada tahun 2026. Dengan kekhawatiran gangguan pasokan besar seperti saat ini, harga minyak berpotensi melampaui level tersebut.

Kenaikan tajam harga energi akan menjadi kabar buruk bagi negara pengimpor minyak besar seperti Jepang yang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya. Kondisi ini membuat kontrak berjangka indeks saham Nikkei 225 turun sekitar 1,1%.




TERBARU

[X]
×