Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pelaku industri pelayaran global masih bersikap hati-hati terhadap rencana pembukaan kembali Selat Hormuz meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Melansir Reuters Senin (15/6/2026), sejumlah perusahaan pelayaran di Asia dan Eropa menilai dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memulihkan kepercayaan terhadap keamanan pelayaran di kawasan itu.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran
Aktivitas pelayaran secara normal baru akan kembali dilakukan setelah terdapat kepastian mengenai kondisi keamanan di lapangan.
AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Swiss pada Jumat mendatang sebagai bagian dari kesepakatan penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meski pasar merespons positif dengan mendorong harga minyak dunia turun sekitar 5% pada Senin (15/6), pelaku industri pelayaran masih menunggu rincian implementasi kesepakatan, termasuk proses pembersihan ranjau laut di kawasan tersebut.
Analis Jyske Bank Haider Anjum mengatakan, respons awal industri pelayaran terhadap kesepakatan tersebut masih cenderung terbatas.
"Data AIS belum menunjukkan gelombang kapal yang kembali menuju Selat Hormuz pagi ini. Perusahaan pelayaran kemungkinan masih menunggu kepastian bahwa kesepakatan tersebut benar-benar berjalan karena sebelumnya Selat Hormuz sempat dibuka kembali dalam waktu yang sangat singkat sebanyak dua kali," ujarnya.
Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Jatuh ke Level Terendah Tiga Bulan
Arus Pelayaran Belum Pulih
Konflik AS-Israel dengan Iran yang dimulai pada akhir Februari lalu telah menghambat sebagian besar aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Jalur tersebut merupakan rute penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, serta berbagai komoditas strategis lainnya seperti aluminium dan urea.
Hingga Senin, data Kpler dan LSEG menunjukkan hanya satu kapal LNG yang terlihat melintasi Selat Hormuz, yakni kapal Disha milik perusahaan India Petronet.
Kapal tersebut berangkat dari Ras Laffan, Qatar, dan dijadwalkan tiba di terminal Dahej, India, pada 18 Juni 2026.
Asosiasi pelayaran internasional BIMCO juga masih mengategorikan Selat Hormuz sebagai wilayah berisiko tinggi.
Baca Juga: Bedah Lengkap Klausul Damai AS-Iran: Dari Masa Depan Nuklir hingga Nasib Selat Hormuz
Chief Safety and Security Officer BIMCO, Jakob Larsen, mengatakan pemilik kapal membutuhkan jaminan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz tidak hanya diperbolehkan, tetapi juga aman.
"Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz benar-benar aman untuk dilakukan," katanya.
Sikap serupa disampaikan asosiasi pemilik kapal Jepang. Meski menyambut baik kesepakatan damai tersebut, mereka memilih menunggu informasi yang lebih konkret sebelum kembali mengoperasikan kapal secara normal di kawasan tersebut.
Perusahaan pelayaran terbesar Jepang, Nippon Yusen, berharap aktivitas pelayaran dapat segera kembali normal.
Namun, Mitsui O.S.K. Lines menegaskan operasional penuh baru akan dilakukan setelah faktor keselamatan benar-benar terkonfirmasi.
Di Eropa, asosiasi pemilik kapal Jerman (VDR) menyatakan optimistis secara hati-hati terhadap prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sementara perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, berharap kapal-kapalnya dapat kembali melintasi jalur tersebut pada pekan ini.
Adapun perusahaan pelayaran raksasa Denmark, Maersk, menyambut positif perkembangan tersebut, tetapi menegaskan belum melakukan perubahan terhadap operasionalnya di Timur Tengah.
Baca Juga: Inggris Umumkan Larangan Total Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Normalisasi Bisa Memakan Waktu Berbulan-bulan
Data Kpler menunjukkan terdapat sekitar 155 kapal tanker minyak dan kimia yang masih berada di kawasan Teluk Timur Tengah per 15 Juni 2026. Jumlah tersebut turun dari sekitar 201 kapal pada akhir Mei lalu.
Sementara itu, Oil Brokerage memperkirakan jumlah kapal tanker yang masih berada di kawasan tersebut mencapai sekitar 215 unit.
Head of Shipping Research Oil Brokerage Anoop Singh memperkirakan antrean kapal yang menumpuk di kedua sisi Selat Hormuz dapat diselesaikan dalam waktu 8 hingga 10 hari apabila pelayaran kembali dibuka tanpa pembatasan.
Baca Juga: SpaceX Diprediksi Lanjut Menguat Setelah IPO Pecahkan Rekor di Wall Street
Meski demikian, proses normalisasi penuh diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama.
Global Oil Market Leader ICIS David Jorbenaze mengatakan, pemulihan aktivitas pelayaran secara signifikan masih memerlukan proses pembersihan ranjau laut serta normalisasi tarif asuransi pelayaran.
"Pemulihan sebagian lalu lintas kapal dapat terjadi dalam beberapa pekan, tetapi untuk kembali ke volume pelayaran sebelum konflik secara realistis baru dapat tercapai pada 2027, dengan syarat kesepakatan berjalan lancar dan produksi energi pulih sesuai harapan," ujarnya.













