kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.887   62,00   0,35%
  • IDX 6.450   47,94   0,75%
  • KOMPAS100 831   1,62   0,20%
  • LQ45 631   -1,25   -0,20%
  • ISSI 227   4,63   2,08%
  • IDX30 352   -1,25   -0,35%
  • IDXHIDIV20 429   -1,46   -0,34%
  • IDX80 95   0,08   0,09%
  • IDXV30 119   0,94   0,79%
  • IDXQ30 112   -0,32   -0,28%

Ekonomi Iran Tertekan, Ancaman Sanksi Baru Trump Picu Kekhawatiran Kerusuhan


Selasa, 18 Agustus 2026 / 15:35 WIB
Ekonomi Iran Tertekan, Ancaman Sanksi Baru Trump Picu Kekhawatiran Kerusuhan
ILUSTRASI. Perekonomian Iran menghadapi tekanan yang semakin berat di tengah perang dengan Amerika Serikat (AS) (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Perekonomian Iran menghadapi tekanan yang semakin berat di tengah perang dengan Amerika Serikat.

Di balik pernyataan para pemimpin Iran yang berupaya menunjukkan ketahanan, muncul kekhawatiran bahwa tekanan ekonomi tambahan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat memperburuk kondisi masyarakat, memicu kembali kerusuhan dan semakin mengikis legitimasi pemerintahan Republik Islam Iran.

Trump pada Jumat (14/8/2026) berjanji akan memberikan tekanan ekonomi yang berat terhadap Iran. Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan memberlakukan langkah-langkah terhadap Teheran yang "belum pernah terlihat sebelumnya" paling cepat pada pekan depan.

Namun, pemerintah AS belum menjelaskan secara rinci bentuk sanksi atau tindakan ekonomi yang akan diberlakukan.

Di tengah konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan, Iran memang masih berupaya menunjukkan ketahanan. Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Yield US Treasury 30 Tahun Tembus Level Tertinggi sejak 2007

Meski demikian, tekanan terhadap perekonomian domestik semakin meningkat. Tiga pejabat Iran mengatakan kondisi tersebut berpotensi memicu kembali kerusuhan secara nasional.

Reuters berbicara dengan tiga pejabat Iran, dua di antaranya merupakan tokoh yang mengetahui kondisi politik, seorang mantan pejabat Iran, serta 12 warga Iran. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir mendapat tekanan atau tidak memiliki kewenangan untuk berbicara kepada media.

Iran memasuki perang dalam kondisi ekonomi yang sudah rapuh. Negara tersebut menghadapi inflasi tinggi, pelemahan mata uang, kekurangan energi, sanksi ekonomi serta berbagai persoalan struktural.

Kini, Iran harus menghadapi kerusakan infrastruktur, gangguan perdagangan, hilangnya produksi dan biaya besar untuk melakukan pembangunan kembali.

Ekonomi Iran Terpukul Perang

Arshia, seorang insinyur sipil yang selama satu dekade bekerja di sektor konstruksi Iran, mengatakan aktivitas proyek konstruksi hampir terhenti sejak perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel pada 28 Februari.

Kini, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan karena banyak proyek ditunda atau dibatalkan, sementara biaya terus meningkat dan peluang pemulihan cepat semakin kecil.

"Saya khawatir. Jika Trump memberlakukan lebih banyak sanksi, bagaimana masyarakat biasa bisa bertahan? Saya tidak ingin negara saya dihukum secara militer maupun ekonomi. Kami sudah kesulitan," ujar ayah dua anak tersebut dari Isfahan, Iran tengah.

Kondisi Arshia mencerminkan tekanan yang dialami masyarakat Iran secara lebih luas. Serangan AS merusak pabrik, pembangkit listrik, jaringan transportasi dan infrastruktur penting lainnya, sehingga menambah beban terhadap perekonomian yang sebelumnya sudah mengalami tekanan.

Baca Juga: UOB Tunjuk Tan Choon Hin sebagai Kepala ASEAN dan Greater China

Mohsen, 53 tahun, bahkan terpaksa menutup usaha kecil ekspor-impor yang dijalankannya dengan negara-negara Teluk setelah Iran melakukan serangan balasan terhadap pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut.

"Saya terpaksa memberhentikan 10 karyawan. Itu sangat menyakitkan, tetapi saya tidak punya pilihan. Saya tidak lagi mampu membayar gaji mereka, dan sekarang saya mengandalkan tabungan untuk menghidupi keluarga," katanya dari Bandar Abbas, kota pelabuhan di Iran selatan.

Inflasi Iran Capai 66%

Tekanan ekonomi juga semakin terasa di tingkat rumah tangga.

Menurut Pusat Statistik Iran, tingkat inflasi tahunan mencapai 66% pada Juli. Sementara itu, harga konsumen tercatat 87,9% lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya. Inflasi pangan bahkan mencapai 128% secara tahunan.

Bagi para penguasa Iran, persoalan yang lebih mengkhawatirkan bukan semata-mata memburuknya kondisi ekonomi, melainkan potensi tekanan tersebut kembali memicu demonstrasi massal.

Seorang mantan pejabat reformis mengatakan penunjukan Hossein Taeb pada pekan lalu untuk memimpin milisi Basij menjadi salah satu indikasi paling jelas mengenai meningkatnya kekhawatiran pemerintah terhadap kemungkinan munculnya kembali kerusuhan.

Basij merupakan kelompok paramiliter sukarelawan yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Kedua kelompok tersebut sebelumnya digunakan oleh pemerintah Iran untuk meredam aksi demonstrasi.

Keluhan akibat tekanan ekonomi berulang kali berkembang menjadi demonstrasi berskala nasional di Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Januari, demonstrasi nasional yang dipicu kesulitan ekonomi berhasil ditekan oleh IRGC dan pasukan Basij. Ribuan orang dilaporkan tewas.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Iran juga meningkatkan tindakan berupa eksekusi, penangkapan, pemanggilan dan hukuman penjara panjang terhadap jurnalis, pengacara, aktivis, pembela hak asasi manusia dan mahasiswa, menurut kelompok hak asasi manusia.

Pemerintah Iran menyatakan langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas selama perang. Namun, para pengkritik menilai tindakan tersebut justru berpotensi memperlebar jarak antara pemerintahan ulama dan masyarakat yang semakin terbebani tekanan ekonomi.

Baca Juga: Dua Tewas dalam Penembakan di Sekolah Menengah Filipina Selatan

Daya Beli Masyarakat Iran Merosot

Tekanan inflasi membuat keluarga di Iran mulai mengurangi konsumsi daging dan kebutuhan pokok lainnya serta beralih ke produk yang lebih murah.

"Saya merasa malu di depan anak-anak saya. Gaji saya habis dalam beberapa hari. Daging dan ayam sudah tidak ada lagi di meja makan kami. Saya tidak tahu bagaimana kami akan bertahan," kata Hossein, seorang pegawai pemerintah di Yazd, Iran tengah.

Harga sewa rumah juga meningkat. Menurut Pusat Statistik Iran, harga sewa naik 31% secara tahunan pada Maret. Sementara itu, media pemerintah melaporkan harga rumah di Teheran sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah Iran menaikkan upah minimum sekitar 60% tahun ini. Namun, pelemahan nilai tukar rial terus menggerus daya beli masyarakat.

Nilai upah minimum dalam denominasi dolar bahkan turun dari sekitar US$105 menjadi US$86 sejak akhir Maret.

Bijan, 40 tahun, pernah memperoleh penghasilan sekitar US$1.000 per bulan sebagai insinyur ketika memasuki dunia kerja 15 tahun lalu. Kini, ia beralih menjadi tutor daring untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pendapatannya bersama sang istri kini hanya sekitar US$400 per bulan. Keduanya bahkan meninggalkan Teheran dan pindah ke provinsi dengan biaya hidup yang lebih murah.

"Dulu saya mungkin bekerja lima atau enam jam sehari. Sekarang, semuanya adalah bekerja atau mencari pekerjaan, atau merasa cemas karena tidak memiliki cukup pekerjaan," ujar Bijan.

Bagi banyak masyarakat Iran, ancaman konflik yang kembali berkobar juga membuat mereka semakin sulit merencanakan masa depan.

Blokade AS Dorong Biaya Logistik Iran

Iran berusaha mempertahankan distribusi barang-barang kebutuhan melalui jalur alternatif, termasuk koridor darat dan Laut Kaspia. Namun, jalur tersebut juga menghadapi tekanan.

Serangan terhadap sejumlah jembatan mengganggu transportasi darat sehingga meningkatkan biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan barang ke Iran.

Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Naik Tipis, Tetap di Bawah 10 Kapal

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pekan lalu mengakui tekanan tersebut.

"Masalah kami telah berlipat ganda, sementara pendapatan kami juga menurun," ujar Pezeshkian.

Ia mengatakan barang-barang yang sebelumnya dapat dikirim melalui jalur laut kini harus menempuh rute yang lebih panjang menuju Iran. Kondisi itu mendorong kenaikan harga.

Di sisi lain, Iran juga menghadapi penurunan penjualan minyak dan penerimaan pajak dari perusahaan yang mengalami kerusakan maupun kesulitan beroperasi.

Blokade tersebut juga secara efektif menghentikan impor bensin Iran, menurut anggota parlemen Reza Sepahvand kepada kantor berita ILNA pada Sabtu (15/8).

Sepahvand mengatakan produksi bensin harian Iran telah mencapai batas sekitar 130 juta liter. Angka tersebut masih berada di bawah konsumsi harian yang mencapai sekitar 137 juta liter.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan perang terhadap Iran tidak hanya berdampak pada perdagangan dan pendapatan negara, tetapi juga semakin merembet ke sektor energi dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Jika tekanan ekonomi AS kembali diperketat, pemerintah Iran menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mencegah memburuknya ketidakpuasan publik.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×