Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 30 tahun menembus level tertinggi sejak 2007 pada Selasa (18/8/2026).
Kenaikan yield terjadi di tengah kebuntuan perundingan untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS)-Iran dan kekhawatiran eskalasi konflik yang mendorong harga minyak naik.
Lonjakan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Baca Juga: UOB Tunjuk Tan Choon Hin sebagai Kepala ASEAN dan Greater China
Di sisi lain, pasar obligasi AS juga tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran mengenai belanja fiskal pemerintah dan penerbitan utang yang semakin besar.
Melansir Reuters, Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat naik hingga 4,735% sebelum berada di 4,729%.
Sementara itu, yield tenor 30 tahun menyentuh 5,321% pada perdagangan Asia, level tertinggi dalam 19 tahun.
Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy OCBC mengatakan, sejumlah faktor turut mendorong kenaikan yield Treasury, termasuk meningkatnya kebutuhan modal dari perusahaan teknologi besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) serta defisit anggaran AS yang semakin besar.
"Naiknya yield obligasi AS tenor panjang merupakan risiko yang harus diperhatikan investor ke depan. Investor obligasi sebaiknya mengelola risiko ini dengan lebih berfokus pada obligasi berdurasi pendek," ujar Menon.
Baca Juga: Dua Tewas dalam Penembakan di Sekolah Menengah Filipina Selatan
Kekhawatiran Inflasi dan Utang AS
Tekanan di pasar obligasi juga menyebar ke Jepang dan Eropa. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam tiga dekade.
Sementara itu, kontrak berjangka obligasi Jerman dan Prancis melemah pada perdagangan Asia.
Yield Bund Jerman tenor 10 tahun sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Mei 2011, sedangkan yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 17 tahun.
Baca Juga: Yield Obligasi AS Melonjak, Harga Minyak Naik Saat Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir
Investor semakin mencermati risiko inflasi, terutama karena Selat Hormuz masih secara efektif tertutup bagi sebagian besar pelayaran dan perundingan untuk mengakhiri konflik AS-Iran mengalami kebuntuan.
Iran mengatakan akan mengubah postur militernya menjadi "sepenuhnya ofensif" setelah upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang mengalami kebuntuan.
Sementara itu, Washington menegaskan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Juni.
Di pasar obligasi AS, dua lelang Treasury terbaru juga menarik perhatian investor. Obligasi tenor 10 tahun terjual dengan yield 4,683%, level tertinggi dalam 19 tahun. Sementara lelang obligasi tenor 30 tahun mencatat yield 5,216%, tertinggi dalam 25 tahun.
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial mengatakan, selama sekitar 15 tahun terakhir investor terbiasa dengan kondisi suku bunga yang stabil hingga menurun, yang secara konsisten mendukung kenaikan harga saham.
"Namun, lelang Treasury pekan lalu menjadi pengingat bahwa lanskap pasar sedang berubah," ujarnya.
Baca Juga: Laba BHP Lampaui Ekspektasi, Harga Tembaga Dorong Kinerja & Dividen Tertinggi 4 Tahun
Menurut Saglimbene, investor kini semakin mencermati penerbitan surat utang pemerintah AS bertenor panjang, terutama karena meningkatnya utang AS dan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal pemerintah.
"Untuk penerbitan Treasury tenor panjang, investor semakin fokus dan khawatir terhadap meningkatnya jumlah utang AS serta kurangnya disiplin fiskal Amerika," katanya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
