Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - BHP Group membukukan laba tahunan yang melampaui ekspektasi pasar sekaligus mengumumkan pembagian dividen tahunan tertinggi dalam empat tahun.
Kinerja tersebut ditopang lonjakan harga tembaga yang menjadikan komoditas tersebut sebagai sumber laba terbesar perusahaan, mengungguli bijih besi.
CEO BHP Brandon Craig, yang baru menduduki posisi tersebut bulan lalu, menekankan besarnya potensi proyek perusahaan yang dapat meningkatkan produksi tembaga hingga 40% pada 2035, meskipun produksi diperkirakan turun dalam jangka pendek.
Baca Juga: Won dan Ringgit Unggul, Mata Uang Asia Bergerak Beragam terhadap Dolar AS
"Tembaga, bijih besi, batubara kokas, dan potash merupakan komoditas fundamental bagi perkembangan dunia. Karena itu, kami bergerak secepat mungkin dan membawa komoditas-komoditas tersebut ke pasar," kata Craig kepada wartawan dilansir Reuters.
BHP pada Selasa (18/8/2026) melaporkan laba bersih dasar yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham sebesar US$13,20 miliar untuk tahun buku yang berakhir 30 Juni 2026.
Angka tersebut meningkat 30% secara tahunan dan melampaui konsensus Visible Alpha sebesar US$12,66 miliar.
BHP juga mengumumkan dividen final sebesar 99 sen Australia per saham. Dengan demikian, total dividen sepanjang tahun buku mencapai US$1,72 per saham, menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Saham BHP sempat melonjak 4,2% ke level tertinggi dua bulan di A$64,79.
"Dividennya sangat bagus, jauh melampaui ekspektasi," kata Andy Forster, portfolio manager Argo Investments di Sydney yang memiliki saham BHP.
Baca Juga: COO FIFA Kevin Lamour Pergi Usai Kritik Rencana Gianni Infantino
Menurutnya, kinerja BHP secara keseluruhan solid dengan tembaga menjadi pendorong utama.
Ia menilai, BHP juga menekankan pertumbuhan jangka panjang meskipun sejumlah keputusan investasi final belum dibuat dan belanja modal diperkirakan meningkat lebih dari US$1 miliar pada tahun depan.
Tembaga Jadi Motor Utama
Harga tembaga telah menembus rekor di atas US$14.000 per metrik ton tahun ini. Kenaikan tersebut dipicu pesatnya pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan energi besar serta peralihan global menuju energi yang lebih bersih.
Kondisi tersebut meningkatkan persaingan perusahaan tambang untuk mengamankan aset tembaga berkadar tinggi.
Craig mengatakan, BHP terus mencermati peluang di pasar, tetapi biaya untuk mengakuisisi aset tembaga saat ini sekitar lima kali lebih mahal dibandingkan membangun aset baru.
Baca Juga: Popularitas Trump Turun, Hanya 33% Warga AS yang Mendukung
Bisnis tembaga BHP, termasuk produk sampingan seperti emas dan uranium, menghasilkan laba operasional sebesar US$18,19 miliar sepanjang tahun buku 2026.
Angka tersebut melampaui laba operasional bisnis bijih besi yang mencapai US$14,53 miliar dan menjadikan tembaga sebagai kontributor laba terbesar BHP.
BHP memperkirakan permintaan tembaga global akan meningkat menjadi lebih dari 50 juta ton per tahun pada 2050, dari sekitar 34 juta ton tahun ini.
Laba Bisnis Bijih Besi Naik
Bisnis bijih besi BHP di Australia Barat menghadapi tantangan akibat aksi industrial. Namun, Craig mengatakan perusahaan tidak memperkirakan pemogokan tersebut akan memberikan dampak negatif, meskipun pekerja melakukan aksi mogok besar pertama di Pelabuhan Hedland dalam beberapa dekade.
Negosiasi masih berlangsung pada Selasa.
Baca Juga: Saudi Aramco Tawarkan Minyak Mentah di Luar Selat Hormuz ke Pembeli Asia
Terkait pelanggan terbesarnya, yakni perusahaan pembeli bijih besi milik pemerintah China, BHP menyatakan fokus pada efisiensi pasar dan tidak berencana membentuk pusat penjualan bersama dengan perusahaan tambang lainnya.
Operasi Western Australia Iron Ore BHP mencatat laba operasional US$14,67 miliar pada tahun buku 2026, naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya dan mendekati konsensus Visible Alpha sebesar US$14,75 miliar.
BHP juga menyatakan masih memiliki potensi US$3,5 miliar yang dapat dibuka melalui pengelolaan portofolio modal dan aset secara aktif. Nilai tersebut merupakan bagian dari peluang senilai US$10 miliar yang telah diidentifikasi perusahaan.
Terbaru, Global Infrastructure Partners (GIP) menginvestasikan US$2 miliar untuk mengambil kepemilikan minoritas pada jaringan listrik pedalaman milik BHP.
Utang bersih BHP pada akhir tahun buku 2026 turun menjadi US$8,69 miliar, berada di bawah target perusahaan sebesar US$10 miliar-US$12 miliar dan konsensus Visible Alpha sebesar US$9,10 miliar.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir, Pasar Global Dibayangi Risiko Perang
BHP Bantah Spekulasi Penjualan Batubara Kokas
Craig juga meredam laporan yang menyebut BHP dapat mengkaji penjualan bisnis batubara metalurgi di Queensland dalam satu hingga lima tahun ke depan.
Ia mengatakan, aset tersebut akan tetap menjadi bagian penting dari portofolio BHP apabila perkembangan pasar berjalan sesuai dengan ekspektasi perusahaan.
Sementara itu, Reuters melaporkan pada Senin bahwa perusahaan uranium asal Kanada, NexGen Energy, telah berbagi informasi dan melakukan komunikasi rutin dengan BHP terkait proyek uranium Rook I di Saskatchewan.
Menanggapi hal tersebut, Craig mengatakan BHP akan "terus mempelajari" peluang di komoditas lain, tetapi tidak ingin memberikan spekulasi lebih lanjut.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
