kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.865   40,00   0,22%
  • IDX 6.483   81,11   1,27%
  • KOMPAS100 836   6,69   0,81%
  • LQ45 636   3,46   0,55%
  • ISSI 227   4,92   2,21%
  • IDX30 355   1,74   0,49%
  • IDXHIDIV20 432   1,49   0,35%
  • IDX80 95   0,68   0,72%
  • IDXV30 119   0,56   0,48%
  • IDXQ30 113   0,44   0,39%

Iran Ancam Serangan Baru, AS Tegaskan Tak Perpanjang Gencatan Senjata


Selasa, 18 Agustus 2026 / 08:32 WIB
Iran Ancam Serangan Baru, AS Tegaskan Tak Perpanjang Gencatan Senjata
ILUSTRASI. Iran - Banner Gambar Presiden AS Donald Trump (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran mengancam akan mengubah postur militernya menjadi lebih ofensif setelah upaya diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) mengalami kebuntuan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, Teheran siap meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya jika jalur diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan damai permanen.

Baca Juga: Trump Sebut Kim Jong Un Merespons Upayanya untuk Buka Kembali Dialog

"Entitas Iran harus bersiap untuk meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan yang lebih luas, karena Iran akan siap mengambil keputusan dan tindakan sulit," ujar pejabat tersebut, Senin (17/8/2026).

Ia menambahkan, Iran akan melancarkan serangan militer yang "tepat waktu dan presisi" untuk mematahkan blokade laut AS apabila upaya diplomatik tidak membuahkan hasil.

Kebuntuan tersebut terjadi setelah nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni memberikan waktu 60 hari bagi Iran dan AS untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang lebih luas, termasuk terkait program nuklir Iran dan sanksi ekonomi.

Kesepakatan tersebut sebelumnya menetapkan penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh front. Namun, implementasinya kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

Selat strategis tersebut menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik karena sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Ketika ditanya apakah AS berencana memperpanjang kesepakatan sementara yang dibuat pada Juni, Trump menjawab tidak.

Baca Juga: Jersey Michael Jordan di Final NBA 1998 Dilelang, Harga Dibuka US$ 10 Juta

Jalur Diplomasi Masih Terbuka

Di tengah meningkatnya ketegangan, masih terdapat upaya diplomasi melalui jalur belakang (back channel).

Sejumlah laporan media menyebut Trump membuka komunikasi tidak langsung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), organisasi yang semakin berpengaruh selama perang dan mengendalikan sebagian besar kekuatan militer serta sektor ekonomi Iran.

Axios melaporkan mantan Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard berbicara dengan seorang pemimpin Kurdi Irak yang memiliki hubungan dekat dengan IRGC.

Baca Juga: Gempa Dahsyat Picu Kerugian US$9,6 Miliar, Jadi Risiko Investasi Kolombia

Melalui perantara tersebut, pesan dari AS disebut telah disampaikan kepada komandan IRGC Jenderal Ahmad Vahidi.

Trump kemudian mengonfirmasi laporan tersebut dalam wawancara dengan Fox News.

Menantu Trump sekaligus utusan khusus AS, Jared Kushner, juga mengatakan komunikasi antara pemerintah AS dan berbagai pihak dalam pemerintahan Iran saat ini cukup intensif.

"Saya tidak bisa membahas detailnya, tetapi saya akan mengatakan bahwa percakapan antara pemerintah AS dan berbagai pihak dalam pemerintahan Iran di semua tingkatan mungkin lebih kuat dibandingkan sebelumnya," kata Kushner.

Namun, masalah pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi hambatan utama.

Iran menilai salah satu poin dalam MoU memberikan hak kepada Teheran untuk mengelola selat tersebut bersama Oman. AS menolak interpretasi tersebut.

Permusuhan kemudian kembali terjadi setelah Iran menembaki kapal yang disebut mencoba melewati Selat Hormuz melalui rute yang tidak disetujui.

Trump pada 7 Juli lalu bahkan menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir.

Baca Juga: Organisasi HAM Desak FIFA Halangi Infantino Maju untuk Periode Keempat

Ancaman terhadap Oman

Iran juga secara terpisah tengah bernegosiasi dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan menyebut pembicaraan kedua negara hampir mencapai kesepakatan.

Namun, upaya tersebut mendapat respons keras dari Trump. Ia mengancam Oman apabila negara tersebut dianggap menghambat kepentingan AS.

"Jika Oman menghalangi, kami akan menghancurkan mereka," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Konflik yang berlangsung sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon.

Iran juga telah menyerang pangkalan militer serta infrastruktur AS di sejumlah negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Konflik tersebut turut memberikan tekanan besar terhadap pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$126 per barel, sekitar 75% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.

Baca Juga: Jeff Bezos dan Liverpool: Detail Investasi Bos Amazon di The Reds

Pada Senin, harga Brent ditutup naik lebih dari US$2 menjadi US$90,87 per barel.

Di AS, kenaikan harga energi juga mulai terasa di tingkat konsumen. Harga bensin telah menembus US$4 per galon, naik dari kurang dari US$3 sebelum perang, berdasarkan data kelompok otomotif AAA.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×