kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Iran Ancam Tutup Jalur Pelayaran Vital Lebih Banyak setelah Blokade AS Diperketat


Rabu, 15 Juli 2026 / 15:42 WIB
Iran Ancam Tutup Jalur Pelayaran Vital Lebih Banyak setelah Blokade AS Diperketat
ILUSTRASI. Iran ancam tutup jalur energi vital dunia. Harga minyak Brent dan WTI sudah melambung. (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – KAIRO/WASHINGTON/BEIRUT. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menutup seluruh jalur ekspor lain yang dinilai menguntungkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Ancaman tersebut muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz dan Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pada Rabu (15/7/2026), IRGC menegaskan bahwa distribusi energi di kawasan harus dinikmati secara merata.

“Ekspor energi regional harus dinikmati bersama oleh semua pihak, atau tidak boleh dinikmati oleh siapa pun,” demikian pernyataan IRGC.

Para analis menilai Iran tengah mengirimkan sinyal bahwa negara itu dapat memanfaatkan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Langkah tersebut berpotensi membuka front baru dalam konflik melawan AS dan mengancam dua jalur energi terpenting dunia.

Bab el-Mandeb merupakan jalur sempit yang dilalui ekspor minyak Arab Saudi serta sebagian besar perdagangan global. Penutupan jalur ini dapat memperburuk gangguan rantai pasok energi internasional.

Baca Juga: Reli Harga Minyak Terus Berlanjut, Seiring Memburuknya Permusuhan di Timur Tengah

Seorang pejabat senior Houthi pada Senin (13/7/2026) memperingatkan bahwa kelompok tersebut siap menutup Selat Bab el-Mandeb. Menurutnya, langkah itu dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$ 200 per barel apabila Arab Saudi terus melancarkan serangan ke Yaman.

Pasukan Houthi sebelumnya meluncurkan rudal ke Arab Saudi setelah menuduh kerajaan tersebut membombardir bandara yang berada di bawah kendali mereka. Serangan itu mengakhiri gencatan senjata selama empat tahun dalam konflik antara Arab Saudi dan kelompok yang didukung Iran tersebut.

Kelompok Houthi sebelumnya juga telah menunjukkan kemampuannya mengganggu perdagangan global melalui Selat Bab el-Mandeb. Setelah perang Gaza pecah pada Oktober 2023, kelompok yang didukung Iran itu melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah dengan alasan menargetkan kapal yang terkait dengan Israel sebagai bentuk dukungan kepada Palestina.

Ancaman terbaru terhadap jalur perdagangan dunia muncul sehari setelah militer AS mengumumkan dimulainya gelombang serangan baru untuk “terus melemahkan kemampuan Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz”.

Amerika Serikat menuduh Iran telah menyerang tujuh kapal dagang dalam sepekan terakhir, yang menyebabkan hampir selusin awak kapal tewas, hilang, atau terluka.

Militer AS pada Selasa malam menyatakan telah menyerang puluhan target militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi militer tersebut berlangsung selama tujuh jam.

Di sisi lain, juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan sedikitnya 30 warga sipil tewas dalam beberapa hari terakhir akibat serangan AS di wilayah selatan Iran.

Baca Juga: Fender Cegah Produsen Gitar Lain Gunakan Desain Ikonik Gitar Stratocaster

Militer Iran juga menyebut sedikitnya tujuh personel aktif dan wajib militer tewas akibat serangan AS semalam di pangkalan militer Bampur, di tenggara negara itu.

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup

IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga apa yang mereka sebut sebagai “berakhirnya kejahatan Amerika”. Sebelum konflik pecah pada Februari lalu, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Korps Garda Revolusi menyatakan telah menyerang fasilitas komando, logistik, bahan bakar, dan peralatan militer milik Armada Kelima AS di Bahrain sebagai balasan atas serangan terbaru Washington di Selat Hormuz.

IRGC juga mengklaim telah membakar dan menghancurkan fasilitas logistik AS di Mina Abdullah, Kuwait, serta menyerang pangkalan militer AS di Azraq, Yordania, dengan sasaran hanggar pesawat. Menurut mereka, sebagian serangan AS terhadap Iran diluncurkan dari pangkalan di wilayah Yordania.

Sebelumnya pada Rabu, kantor berita pemerintah Kuwait melaporkan bahwa kebakaran di lokasi yang menjadi sasaran serangan Iran telah berhasil dipadamkan. Namun, belum dapat dipastikan apakah lokasi tersebut sama dengan yang dimaksud dalam pernyataan IRGC.

Sementara itu, sistem pertahanan udara Yordania dilaporkan berhasil mencegat dan menembak jatuh tiga rudal balistik yang memasuki wilayah udaranya dari Iran pada Rabu dini hari.

Konflik antara Iran dan AS kembali memanas dalam sepekan terakhir, menggerus gencatan senjata rapuh yang dicapai pada Juni setelah berbulan-bulan pertempuran yang telah menewaskan ribuan orang.

Trump Ancam Serang Infrastruktur Energi Iran

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (14/7/2026) mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.

“Saya akan menyimpan target energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi,” kata Trump dalam wawancara dengan jurnalis Fox News, Trey Yingst.

Baca Juga: Skandal Penipuan dan Perdagangan Manusia, Konglomerasi Kamboja Terseret

Trump menambahkan bahwa para negosiator AS telah menghubungi pihak Iran dan memperingatkan mereka agar segera mencapai kesepakatan.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump sempat mengusulkan pungutan sebesar 20% terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Usulan tersebut memicu kritik keras dari badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah pihak lainnya.

Namun, pada Selasa, Trump membatalkan rencana tersebut dan mengatakan bahwa pemerintahannya akan lebih fokus mencari kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk, tanpa menjelaskan rinciannya.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Setelah ditutup menguat sekitar 2% pada Selasa ke level tertinggi dalam satu bulan, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali melanjutkan kenaikannya pada perdagangan Rabu.

Untuk hari kedua berturut-turut, minyak Brent ditutup pada level tertinggi sejak 12 Juni, sementara WTI mencapai posisi tertinggi sejak 15 Juni. Keduanya kembali menguat pada awal perdagangan Rabu seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×