Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BEIRUT. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Setelah mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, Iran kini memberi sinyal dapat memainkan kartu strategis lainnya dengan memanfaatkan sekutunya di Yaman, kelompok Houthi, untuk menutup Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Langkah tersebut berpotensi membuka front baru dalam konflik melawan Amerika Serikat sekaligus mengancam dua jalur energi paling vital di dunia.
Seiring serangan Amerika Serikat yang semakin intensif di wilayah Iran dan eskalasi serangan Houthi, para analis menilai Teheran berupaya memperluas konflik dan meningkatkan tekanan terhadap Washington dengan memperbesar ancaman terhadap perdagangan global dan pasokan energi di luar kawasan Teluk.
Iran sebelumnya telah menunjukkan kekuatan aset strategis utamanya dengan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Kini, Teheran tampak siap membuka titik tekanan kedua di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi lintasan ekspor minyak Arab Saudi serta sebagian besar perdagangan dunia.
Seorang pejabat senior Yaman pada Senin (14/7/2026) memperingatkan bahwa angkatan bersenjata negara tersebut siap menutup Selat Bab el-Mandeb. Menurut laporan Press TV Iran, langkah itu dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$ 200 per barel apabila Arab Saudi terus melancarkan serangan ke Yaman.
Baca Juga: Inflasi Konsumen AS Melambat pada Juni, Terdorong Penurunan Harga Energi
Mohammed al-Farah, anggota biro politik Ansarullah atau gerakan perlawanan Houthi, mengatakan bahwa Washington mendorong Arab Saudi untuk menyerang Yaman. Menurutnya, provokasi tersebut tidak akan menguntungkan Amerika Serikat.
"Jika situasi saat ini semakin memburuk, Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan ditutup dalam sebuah aliansi operasional. Harga minyak kemudian akan melonjak hingga US$ 200 per barel dalam guncangan yang sangat besar," ujarnya.
Para analis menilai, jika Selat Hormuz merupakan tuas strategis terkuat Iran, maka Bab el-Mandeb bisa menjadi cadangan tekanan terakhir yang dimiliki Teheran.
Pakar Timur Tengah, Fawaz Gerges, mengatakan Iran siap melangkah lebih jauh dalam konflik yang tengah berlangsung. Menurut dia, Teheran ingin menunjukkan kepada Washington bahwa Iran mampu mengancam kedua jalur pelayaran tersebut secara bersamaan, sehingga konflik tidak lagi bersifat bilateral, melainkan berubah menjadi ancaman bagi jalur perdagangan energi global.
"Sekarang Teheran meningkatkan eskalasi baik di kawasan dekat maupun yang lebih luas. Pesannya jelas, bukan hanya Selat Hormuz, tetapi juga Bab el-Mandeb yang berada dalam ancaman," kata Gerges kepada Reuters.
Ancaman Eskalasi Konflik
Para analis memperingatkan bahwa ancaman terbesar saat ini bukanlah kembalinya perang terbuka dalam waktu dekat, melainkan fenomena "mission creep" atau eskalasi bertahap yang terus meningkat, di mana masing-masing pihak menaikkan tensi konflik tanpa terlibat dalam konfrontasi langsung.
Baca Juga: Jelang Semifinal Piala Dunia, Lamine Yamal: Sepak Bola Harus Mempersatukan
Meluasnya konflik dari kawasan Teluk ke Laut Merah diperkirakan dapat meningkatkan tekanan terhadap Washington dan Teheran untuk kembali ke meja perundingan sebelum dua jalur minyak terpenting dunia tersebut berubah menjadi medan utama konflik.
Dennis Ross, mantan negosiator perdamaian Amerika Serikat untuk Timur Tengah, mengatakan bahwa dari sudut pandang Washington, tantangan utama adalah mengubah perhitungan strategis Iran.
"Persoalannya adalah bagaimana mengubah kalkulasi Iran sehingga mereka kembali bersedia berunding, bukan sekadar berbicara, melainkan benar-benar mencapai kesepakatan yang dapat diterima," ujar Ross.
Serangan Houthi Ganggu Perdagangan Dunia
Kelompok Houthi sebelumnya telah menunjukkan kemampuannya mengganggu perdagangan global melalui Selat Bab el-Mandeb. Setelah perang Gaza pecah pada Oktober 2023, kelompok yang didukung Iran itu melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah dengan alasan menargetkan kapal yang memiliki hubungan dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina.
Serangkaian serangan tersebut memaksa perusahaan pelayaran besar mengalihkan rute kapal melalui Afrika bagian selatan. Akibatnya, biaya transportasi meningkat tajam dan memicu serangan udara Amerika Serikat dan Inggris serta pembentukan misi angkatan laut multinasional untuk melindungi jalur pelayaran.
Dosen senior bidang studi keamanan di King's College London, Andreas Krieg, menggambarkan ancaman terbaru Houthi sebagai "opsi nuklir lainnya" bagi Iran setelah Selat Hormuz. Menurut dia, langkah tersebut kemungkinan hanya akan ditempuh jika Korps Garda Revolusi Iran menilai perang terbuka tidak lagi dapat dihindari.
Namun, ia memperingatkan bahwa apabila Washington meningkatkan serangan terhadap infrastruktur vital Iran, Teheran dapat merespons dengan memanfaatkan sekutunya di Yaman untuk menutup Bab el-Mandeb, sehingga memperparah guncangan ekonomi yang telah dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz.
Baca Juga: Warren Buffett Menghentikan Donasi ke Gates Foundation Pasca Kasus Epstein Terungkap
Ketua Gulf Research Center yang berbasis di Arab Saudi, Abdulaziz Sager, menilai negara-negara Teluk mulai percaya bahwa jalur diplomasi dengan Iran semakin mendekati batasnya, meskipun konflik yang lebih luas akan menimbulkan biaya besar bagi kawasan.
"Iran yang menang maupun Iran yang kalah sama-sama membawa konsekuensi bagi kawasan. Namun, banyak negara Teluk mungkin menganggap konsekuensi dari skenario kedua lebih dapat diterima jika mampu menciptakan lingkungan keamanan regional yang lebih stabil," kata Sager.
Ia menambahkan, kelompok Houthi masih memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, tetapi kecil kemungkinan akan meningkatkan eskalasi tanpa arahan langsung dari Teheran.
Menurutnya, setiap upaya Houthi untuk mengancam jalur pelayaran dapat memicu respons militer yang lebih besar dari Amerika Serikat dan sekutunya untuk melemahkan kemampuan kelompok tersebut.
Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari telah mengguncang stabilitas kawasan Teluk dan meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Iran dilaporkan telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara, sementara ribuan korban jiwa telah berjatuhan, terutama di Iran dan Lebanon.














