Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - DUBAI/TEL AVIV. Iran memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$ 200 per barel, setelah tiga kapal lagi diserang di Teluk yang diblokade. Serangan ini menambah ketegangan di kawasan yang kini mengalami gangguan energi terburuk sejak krisis minyak 1970-an.
"Bersiaplah untuk minyak US$ 200 per barel, karena harga minyak tergantung pada keamanan regional yang telah kalian ganggu," kata Ebrahim Zolfaqari, juru bicara komando militer Iran, menanggapi Amerika Serikat (AS).
Iran menembakkan rudal ke Israel dan sejumlah target di Timur Tengah pada Rabu (11/3/2026), menunjukkan kemampuan mereka tetap bertahan meski Pentagon menyebut serangan AS-Israel terbaru sebagai yang paling intens.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Saham Energi di BEI Berpotensi Diuntungkan
Warga Iran memenuhi jalan untuk menghadiri pemakaman komandan tinggi yang tewas dalam serangan udara.
Mereka membawa peti mati dan bendera, serta potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan putranya, Mojtaba, yang disebut seorang pejabat Iran mengalami luka ringan saat awal konflik.
"Ada pengeboman semalam, tapi saya tidak takut seperti sebelumnya. Hidup tetap berjalan," ujar Farshid, 52 tahun, warga Teheran. Puluhan ribu orang mengungsi ke pedesaan, sementara kota tercemar hujan hitam dari asap minyak.
Militer Iran juga menembakkan rudal ke basis AS di Irak utara, markas angkatan laut AS di Bahrain, dan target di Israel tengah. Ledakan terdengar di Bahrain, sementara di Dubai empat orang terluka akibat dua drone yang jatuh dekat bandara.
Bahrain memindahkan beberapa pesawat tanpa penumpang dan kargo ke bandara alternatif untuk menjaga kelancaran operasi.
Tiga kapal dagang lagi terkena serangan di Teluk, termasuk kapal berbendera Thailand, Jepang, dan Kepulauan Marshall. Total kapal yang terkena serangan sejak konflik dimulai kini mencapai 14.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, IHSG Berpotensi Tertekan
Harga minyak sempat melonjak hampir US$ 120 per barel, namun kini kembali sekitar US$ 90, menandakan investor berharap Presiden AS Donald Trump dapat segera menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
International Energy Agency (IEA) diperkirakan akan merekomendasikan pelepasan 400 juta barel dari cadangan strategis global, rekor tertinggi, meski jumlah ini hanya setara tiga minggu aliran minyak melalui selat.
AS dan Israel menegaskan tujuan mereka adalah menghentikan kemampuan Iran mengekspor kekuatan dan menghancurkan program nuklirnya.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan operasi akan berlanjut tanpa batas waktu, sampai semua tujuan tercapai dan kampanye menang.
Sementara itu, polisi Iran memperingatkan siapa pun yang turun ke jalan akan diperlakukan sebagai musuh. Iran juga menyatakan tidak akan mengizinkan minyak melalui Selat Hormuz sampai serangan AS-Israel berhenti, dan menolak negosiasi.
Lebih dari 1.300 warga sipil Iran tewas sejak serangan udara AS-Israel dimulai pada 28 Februari, menurut Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Tiga Saham Energi Ini Berpotensi Diuntungkan
Serangan Israel di Lebanon juga menewaskan sejumlah warga, sementara rudal Iran telah menewaskan setidaknya 11 orang di Israel. Dalam bentrokan, dua tentara Israel dan tujuh tentara AS tewas, sekitar 140 lainnya luka-luka.
Ketegangan yang terus meningkat ini memperlihatkan risiko besar terhadap ekonomi global, terutama jika perang berakhir tanpa perubahan rezim di Iran.












