Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Lonjakan tajam harga minyak dunia mengguncang pasar keuangan global pada awal pekan.
Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah mendorong harga energi melonjak, memicu kekhawatiran inflasi dan menekan bursa saham di berbagai kawasan.
Pada perdagangan Senin (9/3), harga minyak mentah Brent melesat 23% menjadi US$114,36 per barel, kenaikan harian terbesar sejak setidaknya 1988.
Sementara minyak mentah AS melonjak 27% ke level US$ 115,11 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah pekan sebelumnya Brent sudah naik sekitar 28%.
Baca Juga: Pertemuan Trump–Xi Diprediksi Tanpa Terobosan, Fokus Jaga Stabilitas
Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus pemimpin tertinggi Ali Khamenei, di tengah konflik yang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.
Situasi ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa ketegangan akan berlarut-larut.
Ketidakpastian semakin besar karena kapal tanker minyak masih enggan melintasi Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global. Kepala ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, menegaskan ketergantungan dunia pada jalur tersebut masih sangat tinggi.
“Ekonomi global masih bergantung pada arus minyak dan gas dari Timur Tengah yang terkonsentrasi di Selat Hormuz,” kata Kasman.
Menurutnya, dalam jangka pendek harga minyak bisa melonjak mendekati US$120 per barel sebelum mereda jika konflik mereda. Namun tanpa penyelesaian politik yang jelas, harga Brent berpotensi bertahan tinggi di sekitar US$80 per barel hingga pertengahan tahun.
Lonjakan harga energi ini berpotensi menekan perekonomian global. JPMorgan memperkirakan kondisi tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 0,6% pada paruh pertama tahun ini dan menaikkan inflasi tahunan hingga 1%.
Jika konflik meluas dan berlangsung lama, harga minyak bahkan bisa melampaui US$120 per barel dan memicu risiko resesi global.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pasar Saham Anjlok Imbas Konflik Timur Tengah yang Berlarut-larut
Tekanan langsung terasa di pasar saham Asia. Indeks Nikkei Jepang anjlok 7,5%, setelah pekan lalu sudah turun 5,5%. Bursa Korea Selatan merosot lebih dalam, jatuh 8,1% setelah sebelumnya kehilangan lebih dari 10% dalam sepekan.
China juga terdampak. Meski memiliki cadangan minyak besar, indeks saham unggulan negara itu tetap turun 2,3%.
Data terbaru menunjukkan tekanan inflasi di China sebenarnya sudah mulai meningkat sebelum lonjakan harga minyak saat ini. Inflasi konsumen pada Februari tercatat naik 1,3% secara tahunan.
Gejolak pasar juga merembet ke Amerika Serikat dan Eropa. Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 2,1% dan Nasdaq jatuh 2,5%. Di Eropa, futures EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing merosot 3,2%, sementara FTSE turun 1,7%.
Di pasar obligasi, kekhawatiran inflasi mendorong kenaikan imbal hasil. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,204%, dari posisi 3,926% sepekan lalu.
Kondisi ini membuat pasar mulai meragukan peluang pelonggaran kebijakan moneter. Investor khawatir lonjakan inflasi akibat harga energi akan mempersulit bank sentral, termasuk Federal Reserve, untuk menurunkan suku bunga.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Konflik Iran, Saham Hong Kong dan China Anjlok
Sementara itu, dolar AS justru semakin diburu investor yang mencari likuiditas. Mata uang tersebut menguat terhadap yen Jepang dan euro.
Analis Mizuho, Vishnu Varathan, menilai Asia menjadi kawasan yang paling terpukul oleh lonjakan harga energi. “Asia menanggung dampak terbesar dari lonjakan harga minyak dan hampir tidak ada tempat aman bagi investor,” ujarnya.
Di tengah gejolak pasar, harga emas justru turun 1,8% menjadi sekitar US$5.075 per ons. Penurunan ini diduga terjadi karena sebagian investor mengambil keuntungan dari kenaikan emas sebelumnya untuk menutup kerugian di pasar lain.
- Harga minyak dunia
- Indeks Nikkei
- JPMorgan
- Federal Reserve
- Timur Tengah
- Bursa China
- Brent
- Selat Hormuz
- harga minyak
- Nasdaq
- kebijakan moneter
- inflasi global
- resesi global
- konflik timur tengah
- Minyak Mentah Brent
- Obligasi Pemerintah AS
- Dolar AS Menguat
- S
- FTSE
- harga emas turun
- Pasar Saham Anjlok
- Bursa Korea Selatan
- DAX
- minyak mentah AS
- Mojtaba Khamenei
- EUROSTOXX 50













