Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BEIJING/WASHINGTON. Rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump ke China pada akhir Maret 2026 dinilai kecil kemungkinan menghasilkan terobosan besar dalam hubungan bisnis dan investasi antara kedua negara.
Pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas hubungan ekonomi dua raksasa dunia yang sempat memanas dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah sumber yang mengetahui persiapan pertemuan tersebut mengatakan, baik Washington maupun Beijing belum menunjukkan tanda-tanda kesepakatan baru yang signifikan.
Para pemimpin bisnis AS juga belum dipastikan ikut dalam delegasi resmi yang mendampingi Trump.
Baca Juga: China Beli Kedelai AS Menjelang Pertemuan Trump-Xi: Sinyal Damai Dagang?
Direktur John L. Thornton China Center di Brookings Institution, Ryan Hass, menilai ekspektasi terhadap kunjungan ini terus menyusut. “Ambisi tentang apa yang bisa dicapai dari kunjungan ini tampaknya semakin kecil dari hari ke hari,” ujarnya.
Pertemuan ini akan menjadi tatap muka pertama Trump dan Xi sejak keduanya menyepakati gencatan perang dagang pada Oktober lalu. Namun proses persiapannya dinilai tidak biasa karena dilakukan sangat mendadak.
Beijing disebut frustrasi dengan perencanaan Washington yang baru dimulai dalam beberapa pekan terakhir, padahal kunjungan kenegaraan biasanya disiapkan berbulan-bulan.
Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 31 Maret hingga 2 April. Meski pemerintah China belum secara resmi mengonfirmasi agenda tersebut, Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan pembahasan mengenai pertemuan kedua pemimpin sudah masuk agenda diplomatik.
Baca Juga: Hasil Pembicaraan Trump-Xi Jinping: Kesepakatan TikTok Hingga Bertemu di Korsel
“Kedua pihak perlu melakukan persiapan menyeluruh agar perbedaan yang ada bisa dikelola dengan baik,” kata Wang Yi.
Sejauh ini, fokus utama pertemuan lebih pada menjaga stabilitas hubungan dagang. Pemerintah AS ingin memastikan China tetap membeli produk pertanian AS, pesawat buatan Boeing, serta memasok mineral tanah jarang yang dibutuhkan industri AS.













