Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Di sisi lain, China berharap ada jaminan keamanan bagi investasi perusahaan-perusahaan mereka di Amerika Serikat. Permintaan ini muncul setelah Washington memaksa divestasi aplikasi video pendek TikTok di AS.
Isu tarif juga masih menjadi potensi sumber ketegangan. Bulan lalu, Mahkamah AS membatalkan tarif 10% terkait fentanyl yang sebelumnya diberlakukan Trump terhadap China.
Namun pemerintah AS memberi sinyal akan memberlakukan kembali tarif tersebut melalui dasar hukum lain.
Baca Juga: Pertemuan Bersejarah Trump-Xi di Busan: Apakah Perang Dagang Akan Reda?
Meski begitu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menegaskan pertemuan puncak ini bukan ditujukan untuk memicu konflik baru. “Tujuan pertemuan ini bukan untuk bertarung soal perdagangan, tetapi menjaga stabilitas hubungan,” katanya.
Salah satu kemungkinan kesepakatan yang sedang dibahas adalah pembelian sekitar 500 pesawat berbadan sempit dari Boeing oleh China. Namun kesepakatan itu masih dinegosiasikan dan pengirimannya diperkirakan baru rampung pada dekade 2030-an karena antrean produksi Boeing yang panjang.
Dengan berbagai ketidakpastian tersebut, pertemuan Trump dan Xi diperkirakan lebih bersifat menjaga hubungan tetap stabil, ketimbang membuka babak baru kerja sama ekonomi antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.













